Home  / 
Puasa Sebagai Gerakan Pengentasan Kemiskinan
* Oleh Mukti Ali Harahap MSi
Jumat, 25 Mei 2018 | 15:43:37
Menurut data BPS angka kemiskinan nasional pada September 2017 mencapai 26,58 juta jiwa atau 10,12%, di mana sebagian besar fakir miskinnya adalah beragama Islam karena 87,18 % penduduk Indonesia beragama Islam. Jumlah itu bukanlah angka yang sedikit untuk ditangani agar bisa keluar dari garis kemiskinan menuju keluarga sejahtera. Berbagai upaya pun telah dilakukan pemerintah untuk mengangkat harkat martabat ekonomi masyarakat berpenghasilan terbawah tersebut.

Perintah Membantu Fakir Miskin
Peran sebuah badan, lembaga dan masyarakat untuk membantu fakir miskin, maka skala, jumlah maupun jenis kegiatannya harus disesuaikan dengan kemampuannya. Akan tetapi masalah yang lebih mendasar seberapa besar rasa simpati, kepeduliannya yang berbuah pada realisasi bantuan? Bila dirujuk pada perintah agama Islam sesungguhnya banyak ayat dan nash yang memerintahkan umat muslim untuk menjadikan saudara seagama laksana anggota tubuh. Apabila yang satu sakit maka anggota tubuh yang lain akan ikut merasakannya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim "Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya." 

Dalam QS. Al-Ma'un ayat 1-3 Allah berfirman bahwa salah satu ciri orang yang mendustakan agama ialah mereka yang tidak perduli, tidak membantu orang miskin. Nash di atas menghendaki seseorang muslim mestinya ikut aktif mengentaskan kemiskinan. Apabila tidak dilakukannya maka ia adalah pendusta agama. Dengan potensi 87,18 % umat muslim, apabila punya niat dan komitmen bersama dalam membantu saudaranya, barangkali angka kemiskinan tidaklah sebesar yang disebutkan di atas. Apakah tidak ada yang kaya dan mampu? Jawabannya pasti banyak, hanya saja hatinya belum tersentuh dan tangannya belum ringan membantu orang lain disebabkan kurangnya sense/rasa terhadap orang tidak mampu. Salah satu media yang bisa mengembalikan sensor kepedulian itu ialah ibadah puasa. Puasa mengajarkan dan mengingatkan pelakunya untuk melakoni apa yang dirasakan orang miskin terutama dalam kekurangan kebutuhan pangan.

Gerakan pengentasan kemiskinan
Puasa sesungguhnya bukan ibadah personal untuk menggapai kesalehan vertikal semata. Puasa adalah amaliah kolektif menuju kesalehan sosial dengan parameternya sejauh mana bisa ikut merasakan apa yang dialami para fakir miskin setiap harinya. Kalau orang yang berpuasa masih ada tenggat waktu merasakan lapar dan haus hingga berbuka puasa. Bagaimana dengan para pengemis, gelandangan, buruh kasar, dan orang tidak mampu lainnya? Tentu tidak bisa dipastikan kapan bisa keluar dari kondisi yang mereka alami. 

Oleh karena itu sudah saatnya kita merubah pemahaman bahwa ibadah shaum hanya ritual personal siang dan malam hari, kemudian segala kebutuhan pada saat berbuka dan sahur harus dipenuhi tanpa mengindahkan saudara lain yang serba kekurangan. Rasulullah telah mencontohkan kepada umatnya, agar yang berpuasa selalu memberi makanan kepada orang lain termasuk kepada yang berpuasa. Dengan berbagi tersebut maka pemberi akan mendapatkan pahala sama seperti pahala puasa orang yang menerimanya. Ini menunjukkan betapa ibadah puasa berorientasi sosial, menumbuhkan empati, peduli dan aktif membantu orang lain. 

Saat ini ada trend berbuka puasa dengan menu lengkap, atau pergi ke tempat-tempat yang ekslusif dan mewah yang berdampak pada meningkatnya belanja konsumsi melebihi di bulan lainnya, padahal kuantitas makan di bulan Ramadan lebih sedikit ketimbang sebelas bulan sebelumnya. Hal seperti ini bukan dilarang, namun kehilangan esensi puasa itu untuk menjadikan kita mampu merasakan seperti orang miskin yang selalu serba kekurangan setiap saat. Apabila telah terintegrasi puasa dengan sense merasakan layaknya orang miskin tentu akan memunculkan empati, simpati kepada kehidupan warga miskin. Tidak lagi sekadar jargon peduli masyarakat bawah, atau hanya dilafalkan ketika membaca QS Al-Ma'un, atau lip service dalam pidato dan ceramah. Lebih dari itu akan menjadi gerakan nyata membantu fakir miskin keluar dari kemiskinannya. 

Tujuan puasa ialah mencetak mukmin menjadi bertaqwa sekaligus menjadi motor gerakan menangani kemiskinan. Bisa dalam bentuk pemberdayaan seperti mengadakan pelatihan, memberi akses lapangan kerja, atau memberi bantuan modal usaha seperti pinjaman, bantuan bergulir, peralatan kerja dll. Setidaknya memberi santunan pangan, sandang dan kebutuhan dasar lainnya. Gerakan ini bukanlah sporadis saat Ramadhan atau lebaran saja, namun menjadi bagian integral dari kehidupan seorang muslim, karena sudah digembleng pada saat puasa untuk menahan lapar dan haus, dan ketika Idul Fitri ada ibadah zakat fitrah dimana salah satu penerimanya ialah fakir miskin.

Membantu keluarga pra sejahtera bukan hanya melalui ibadah wajib seperti zakat fitrah dan zakat harta, namun akan lebih baik tatkala dengan sepenuh hati kita mengerahkan potensi dan kemampuan untuk membantu saudara-saudara lain yang sangat membutuhkan. Ketika ini dapat dilakukan secara konferhensif dan kontinyu maka angka kemiskinan akan menurun drastis dan kesejahteraan semakin meningkat. Media yang bisa untuk melakukan hal tersebut adalah melalui latihan pada bulan Ramadan. Dengan melakukan gerakan pengentasan kemiskinan berarti kita bukan lagi pendusta agama, melainkan menjadi orang yang terbaik karena telah bermanfaat bagi orang lain. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1439 H. (Penulis adalah Kabid PFM Dinsos dan Sekretaris PC NU Kabupaten Deliserdang/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Defia Rosmaniar Sumbang Emas Pertama Indonesia
Gunung Anak Krakatau Erupsi 576 Kali Sehari
20 Penumpang Sudah Dievakuasi, 6 Tewas
KPAI Desak Usut Inisiator Karnaval Anak TK Bercadar dan Bersenjata
102 Ribu Napi Dapat Remisi 17 Agustus, 2.220 Orang Langsung Bebas
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU