Home  / 
Al-Quds Simbol Keimanan dan Izzah
* Oleh : Islahuddin Panggabean
Jumat, 11 Mei 2018 | 19:14:44
Sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem atau di dalam Islam juga dikenal sebagai Baitul Maqdis sebagai ibukota Israel sangat patut menuai protes dari seluruh dunia khususnya kaum muslimin. Sebab Baitul Maqdis ialah daerah yang sangat mulia di kalangan kaum muslimin. 

Apalagi pada 14 Mei mendatang AS rencana membuka Kedutaan Besar di Yerusalem. Saat itu bertepatan dengan ulang tahun ke-70 tahun Israel. Apa yang dilakukan Trump adalah bentuk pengabaian terhadap Resolusi Majelis Umum PBB no. 2253 4 Juli 1967 hingga Resolusi no. 71 pada 23 Desember 2016 yang menegaskan bahwa Yerusalem terlindungi dari penjajahan Israel.

Apalagi di dalam al-Quran, wilayah ini mendapat tempat yang sangat mulia. Ialah tempat isra' Nabi Muhammad Saw, tempat berada Masjid al-Aqsha yang disebut wilayah yang diberkati (QS Al-Isra: 1), Ia juga disebut sebagai Ardhul Muqaddash (QS al-Maidah :21), Baitul Maqdis juga terkenal sebagai tanahnya para nabi.

Baitul Maqdis merupakan simbol keimanan dan ibadah kepada Allah. Rasulullah SAW pernah ditanya; Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama diletakkan oleh Allah di muka Bumi ? Beliau bersabda, Masjid AlHaram.  Abu Dzar bertanya lagi, Kemudian apa ? Beliau bersabda, Kemudian Al-Masjid Al-Aqsha.  Berkata Abu Mu'awiyah Yakni Baitul Maqdis. Abu Dzar bertanya lagi, berapa lama antara keduanya ? Beliau menjawab, empat puluh tahun (HR. Ahmad dari Abu Dzar). 

Sebagian ulama menegaskan bahwa Baitul Maqdis ialah simbol izzah Islam wal Muslimin. Ummat ini tidak lengkap kemuliaannya tanpa bebasnya tanah Baitul Maqdis. Itu terlihat dari upaya dari zaman Nabi yakni ekspedisi Mu'tah dan Tabuk, juga Khulafaurrasyidin hingga masa daulah-daulah selanjutnya termasuk kisah yang disebutkan di atas. 

Proses pembebasan al-Aqsha oleh Shalahuddin yang memakan waktu 88 tahun sejak direbut menjadi bukti bahwa pembebasan Baitul Maqdis seiring sejalan dengan baiknya keagamaan ummat ini. Oleh karena itu, momentum saat ini di mana Yerusalem dicoba untuk kembali direbut dengan berbagai bentuk cara ini sejatinya ialah ujian bagi ummat muslim zaman ini, apakah masih memiliki izzah atau tidak?

Klaim Yerusalem sebagai ibukota Israel oleh AS merupakan sebuah teguran keras bagi izzah dan keberadaan kaum muslimin. Tak heran, Ulama kontemporer Yusuf Qardhawi tegas mempertanyakan eksistensi ummat. "Di mana kaum muslimin? Di mana dunia Islam? Di mana ummat Islam yang terbentang dari Timur hingga Barat?"

Kepedulian setiap pribadi muslim terhadap Baitul Maqdis hakikatnya merupakan hasil seleksi terhadap siapa yang disebut dengan golongan penegak kebenaran sejati (Ath-Thaiah Manshurah). Sebab, ciri kelompok tersebut ialah yang memiliki kepedulian penuh terhadap permasalahan al-Aqsha sebagaimana tersirat dalam hadits.

"Akan senantiasa ada sekumpulan dari umatku yang terus menegakkan kebenaran dan tegas melawan musuh. Tidak membahayakan perjuangan mereka walau terpinggirkan dan dirintangi kesusahan kecuali ujian sampai datang ketentuan Allah. Mereka akan tetap sedemikian." Sahabat bertanya, "Di mana mereka itu?" Baginda menjawab," Mereka berada di Baitul Maqdis dan di kawasan sekitarnya," (HR Ahmad)

Ingatlah ketika masa Nabi Musa as Bani Israel diperintahkan untuk menduduki wilayah Palesitina dengan cara berjihad melawan kezaliman jababirah yang terjadi di Palestina,  tetapi mereka menolak seruan jihad yang dikumandangkan oleh Nabi musa as.

Lihatlah Fiman Allah dalam QS Al-Maidah 21-24. Secara gamblang diceritakan  bahwa Bani Israel diperintahkan untuk merebut tanah suci masjidil Aqsha dengan cara berjihad melawan tirani kezaliman yang dilakukan oleh penguasa Jababirah, tetapi mereka tidak merespon seruan jihad yang di kumandangkan oleh Nabi Musa As. Malah sebaliknya seruan Nabi Musa as direspons dengan kedurhakaan dan melecehkan perintah tersebut dengan ucapan ''pergilah Engkau wahai Musa dengan Tuhanmu berjihad di sana'' kami menunggu di sini.

Oleh karena itu, peristiwa pemindahan Kedubes AS ini sejatinya ujian keimanan kepada tiap pribadi kaum muslimin, apakah mereka mau berjihad minimal dalam bentuk kepedulian terhadap nasib Al-Quds atau memang karakter kita sama saja dengan bangsa pembangkang yang kini melakukan kezaliman itu. 
Dr Raghib as-Sirjani menjelaskan bahwa terkait permasalahan Baitul Maqdis ada beberapa hal yang harus dilakukan ummat Islam. Pertama, kembali secara total pada Allah. Kedua, memahami permasalahan (Baitul Maqdis) secara benar. Ketiga, ikut bergerak secara aktif (dalam memecahkan problemnya). Keempat, menjaga persatuan dan menghentikan perpecahan. 

Kelima, bersungguh menghidupkan spirit jihad. Keenam, jihad dengan harta. Ketujuh, boikot hal terkait musuh Baitul Maqdis. Kedelapan, memupuk harapan. Kesembilan, menanamkan kesabaran. Kesepuluh, mengkaji sejarah Palestina. 

Penutup
Al-Quds ialah simbol keimanan dan kejayaan ummat Islam. Sikap Donald Trump tidak dapat diterima oleh kaum muslimin. Selain melanggar aturan, kejadian ini sejatinya sebagai ujian eksistensi dan izzah kaum muslimin. Secara pribadi, ini adalah seleksi kepedulian terhadap nasib ummat serta apakah diri termasuk ke dalam golongan penegak kebenaran. Wallahua'lam. (Penulis adalah Pengurus Gerakan Islam Pengawal NKRI/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Tak Punya Rumah dan Kehujanan, Tetap Berusaha Selesaikan PR
Aneh, Polisi Hanya Dipersenjatai Ketapel
Gagal Kurus, Siap-siap Dipecat
Berprestasi, Diberi Hadiah Daging Babi
Ketahuan! Beruang Curi Makan Siang Perawat
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU