Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Kewajiban Terhadap Makhluk Paling Mulia
* Oleh : Islahuddin Panggabean SPd
Jumat, 24 November 2017 | 17:44:37
Dalam kitab Jauharut Tauhid disebutkan "Wa afdholul kholqi 'alal ithlaqi  nabiyyuna famil 'ani sysyiqoqi" "Maka makhluk paling mulia secara mutlak adalah Nabi kita, maka jangan lagi diperdebatkan." Dari ungkapan di atas terlihat jelas bahwa Nabi Muhammad Saw adalah makhluk paling mulia di langit dan bumi, di dunia dan akhirat. Beliau lebih mulia dari manusia mana pun, dari bangsa jin maupun bangsa malaikat.

Kemuliaan Nabi memang tak diragukan lagi. Tak hanya dari kalangan muslim, orang kafir nan jujur pun pasti mengakuinya. Sebagaimana Michael Hart dalam bukunya 100 Tokoh. Dia secara objektif menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai orang nomor satu di alam dunia ini. Betrand Russel, seorang sarjanawan pujangga dari Inggris mengatakan : "Muhammad is the most succes the leader in the world." Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin yang paling sukses di dunia.
Jika kaum nonmuslim sedemikian hormat pada Nabi, maka sebagai seorang muslim hendaknya pula memiliki sikap yang lebih baik kepada baginda Nabi.

Setidaknya ada beberapa kewajiban ummat Islam kepada Nabi Muhammad saw sebagai makhluk yang paling mulia.  Pertama, Mengimani. Beriman pada Nabi berarti membenarkan kenabian dan kerasulannya dari Allah. Banyak ayat al-Quran yang mengungkapkan hal tsb diantaranya "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." ( QS Taghabun : 8).

Kedua, Mencintai. Makna mencintai Nabi adalah mengutamakan apa yang dicintai Rasul dari apa yang ia cintai. Dalam hadist shohih, Nabi bersabda, "Tidak sempurna iman kamu sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orangtuanya dan seluruh manusia." Mendengar sabda tsb, Umar bin Khattab berkomentar, "Engkau adalah orang yang lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku."Lalu Nabi kembali bersabda, "Tidak sempurna iman kamu hingga aku lebih dicintainya daripadanya dirinya sendiri."Umar kembali berkomentar, "Demi Tuhan yang menurunkan kitab suci kepadamu, engkau adalah orang yang paling aku cintai, bahkan dari diriku sendiri." Lalu Rasulullah bersabda, "Sekarang imanmu telah sempurna wahai Umar !"

Ketiga, Menaatinya. Taat pada baginda berarti mengerjakan segala yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang secara iktikad, ucapan maupun tindakan. Bukti-buktinya antara lain berpegang pada sunnahnya dan menjadikannya sebagai sumber petunjuk kehidupan. "Apabila aku perintahkan kepadamu suatu perintah, maka kerjakanlah semampumu. Dan apa yang aku larang, maka tinggalkanlah!" (HR Muslim).

Keempat, Mengikutinya (Ittiba') dan Meneladaninya. Makna ittiba' adalah mengikuti Rasul secara keyakinan, ucapan, dan perbuatan serta tidak boleh bertolak belakang dengannya. Dalam Quran. Allah jelaskan, "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Ali Imran : 31). Begitujuga dalam ayat lain : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS Al-Ahzab : 21)

Di antara bukti mengikuti dan meneladaninya adalah berpegang teguh kepada sunnah Nabi dan tidak berbuat bid'ah. Ibnu Mas'ud pernah mengatakan, "Perbuatan sedikit (mudah)  yang sesuai dengan sunnah lebih baik daripada berijtihad (bersulit) pada bid'ah". Sedangkan Abu Usman al-Hairi berkata, "Siapa yang menerapkan sunnah pada ucapan dan tindakannya, ia akan menuturkan mutiara hikmah. Siapa yang ucapan dan tindakannya berdasarkan hawa nafsu, ia akan menuturkan kalam bid'ah"

Kelima, Memuliakan dan Menghormatinya. Salah satu contoh memuliakan beliau adalah tidak boleh mendahulukan perkataan, pendapat dan ketetapan seseorang sebelum perkataan, pendapat dan ketetapan Nabi Muhammad saw. Tidak meninggikan suara melebihi Nabi serta tidak memanggil Nabi dengan panggilan biasa.
"Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS al-Hujurat :3)

Keenam, Mencintai Ahli Bait dan Sahabat.  Mencintai Ahli Bait dan para Sahabat adalah sebuah kewajiban, sebagaimana mencintai Rasul maka begitu juga wajib mencintai orang yang dicintai Rasul. Ketujuh, Bersholawat padanya. Perintah bersholawat tercantum dalam ayat Quran maupun hadis-hadis. "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya" (QS al-Ahzab : 56). Hanya orang yang pelit yang tidak mau bersholawat pada baginda. Sholawat tanda taat pada Allah, tanda cinta pada Nabi. Apalagi sholawat itu bermanfaat bagi diri sendiri sebagaimana sabda Nabi, "Barangsiapa yang bersholawat padaku sekali, Allah bersholawat padanya sepuluh kali."
Sholawat dari Allah berarti diberikan Rahmat-Nya.  

Penutup
Peringatan kelahiran baginda Nabi 1 Desember tentunya akan banyak diperingati oleh ummat Islam. Kegiatan Maulid itu tentunya sangat diharapkan hasilnya. Hasil yang diharapkan adalah meningkatkan ghirah keislaman dan kecintaan pada Baginda Muhammad Saw. . Semoga. Selamat Memperingati Maulid Nabi.   (Penulis adalah Ketua Bidang Humas Jaringan Pemuda dan Remaja Mesjid Indonesia Kota Medan/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bupati Samosir Serahkan Alat-alat Kebersihan
Dinas PP dan PA Tapsel Gelar Seminar Etika Perempuan dalam Organisasi
Tim Penilai Kecamatan Terbaik Turun ke Marancar Tapsel
BPJS Ketenagakerjaan Sibolga Keluhkan Pembayaran Iuran Jasa Konstruksi di Tapteng
Sedang Dikerjakan, Aspal Jalan Lahusa-Gomo Sudah Rusak
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU