Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Aiptu Farizal, Polisi Pendiri Pondok Pesantren yang Sempat Diragukan Warga
Jumat, 10 November 2017 | 18:44:36
Jakarta (SIB) -Prihatin dengan banyaknya anak putus sekolah, anggota polisi di Polres Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan dirikan pondok pesantren. Aiptu Farizal mendirikan pondok pesantren dengan uang pribadinya sejak 10 tahun silam.

Aiptu Farizal mengaku dirinya prihatin dengan kondisi sosial di Kecamatan Padamaran Timur, Ogan Komering Ilir saat itu. Kurangnya pendidikan agama dan banyaknya anak putus sekolah saat ditugaskan sebagai Bhabinkamtibmas sejak tahun 1994 dinilai menjadi penyebab tingginya angka kriminalitas di wilayah tersebut.

Sejalan dengan itu, pada tahun 2007 dilakukanlah peletakan batu pertama yang awalnya hanya untuk pembangunan masjid di lahan seluas 5,5 hektare miliknya. Namun, selama 3 tahun usai peletakan batu pertama, hanya terbangun pondasi saja, malah lebih tinggi ilalang daripada pondasi bangunan.

"Pada tahun 2010, saya jual emas istri untuk beli koral dan pasir agar bangunan dapat dilanjutkan karena rumput dan ilalang sudah lebih tinggi dari pondasi. Istri saya sangat mendukung karena untuk pendidikan dan saya juga berniat untuk hijrah dengan mendirikan pondok pesantren," kata Aiptu Farizal, Kamis (9/11).

Dilanjutkan Aiptu Farizal, saat itu banyak yang merasa tidak yakin dengan keinginannya untuk mendirikan pondok pesantren. Apalagi lahan yang sudah dipasang pondasi sempat mengalami kendala karena keterbatasan biaya.

Sampai akhirnya bangunan masjid ini selesai secara bertahap dengan meminjam uang di salah satu bank milik pemerintah. Selain itu, istrinya juga baru mendapat warisan dari orangtuanya yang berada di Kota Palembang dan dapat digunakan untuk menambah fasilitas belajar mengajar.

"Awalnya masyarakat memang tidak percaya, apalagi saya seorang polisi dengan gaji terbatas. Saya juga dulu bukan orang baik, tapi ingin menjadi baik dengan memberikan pengabdian selama bertugas di kepolisian kepada masyarakat," sambungnya.

Setelah berjalan 4 tahun sejak peletakan batu pertama, bangunan masjid mulai terlihat fisiknya. Saat itu, masyarakat mulai yakin dengan niat Aiptu Farizal untuk mendirikan pondok pesantren.

Sejak saat itu pula, banyak masyarakat yang ikut membantu proses pembangunan sampai akhirnya rampung dan dapat digunakan. Pada tahun 2012, pondok pesantren yang awalnya bernama Raudhatul Sakinah, setelah didaftarkan menjadi yayasan Raudhatus Sakinah.

Sekarang ada 191 santri maupun santriwati yang belajar di sini dan telah meluluskan 2 angkatan di tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) sejak tahun 2015 lalu. Sedangkan untuk tenaga pendidik, baru ada 16 guru dan sudah termasuk pegawainya.

Selain belajar mengajar, kini pondok pesantren Aiptu Farizal juga aktif digunakan sebagai tempat belajar Alquran bagi orangtua yang tidak bisa membaca Alquran, serta menjadi pusat pengajian rutin di Kecamatan Padamaran Timur.

Aiptu Farizal yang dulu bertugas sebagai Bhabinkamtimbas, kini sudah berdinas di Polsek Padamaran Timur setelah mendapat promosi jabatan. Dirinya menempati posisi Kasium Polsek Padamaran dan tetap aktif mengikuti perkembangan belajar mengajar.

"Saya sekarang dinas di Mapolsek Padamaran Timur dan menjabat Kasium. Tentu, ini semua tidak akan terwujud jika tidak ada dukungan dari pimpinan dan masyarakat sekitar serta dukungan pemerintah untuk pendidikan di daerah tertinggal," tutup pria yang baru genap berusia 53 tahun pada Rabu (8/11) kemarin. (detikcom/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Kereta Kencana dari Solo Ikuti Geladi Kirab Kahiyang-Bobby di Medan
Aktivis: Proyek Cacat Mutu, Jangan Ada Pencairan dari Dinas PUPR
Coba Tabrak Petugas, Bandar Narkoba Bertato Ditembak Mati di Medan
Proyek Turap Jalan Cor Beton di Silau Laut Asahan Gunakan Batu Bata Lapuk
Korupsi Alat Tangkap dan Bibit Ikan, 2 Mantan Kadiskanla Madina Ditahan Kejaksaan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU