Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Dari Sunan Ampel Hingga Pajak Kuncir: Kontribusi Muslim Tionghoa di Indonesia
* Oleh Sunano
Jumat, 19 Mei 2017 | 22:02:46
Semua pakar sejarah Indonesia sepakat, Muslim Tionghoa memiliki andil dalam penyebaran Islam di Indonesia. Beberapa Wali Songo generasi awal berasal dari etnis Tionghoa, seperti Sunan Ampel (Bong Swi Hoo), Sunan Bonang, dan Sunan Kudus.

Keturunan Sunan Ampel melahirkan generasi ulama Jawa pertama, yaitu Sunan Bonang (Bong Ang). Dari istri yang lain, Sunan Ampel punya anak Sunan Drajat.
 
Nama Tionghoa Sunan Bonang diambil dari nama depan ayahnya, Bong Swi Hoo. Anak angkat Sunan Ampel yang juga menjadi juru dakwah, yaitu Raden Paku (Sunan Giri) dari keturunan orang Arab.

Namun, aktivitas penyebaran Islam yang dilakukan oleh Muslim Tionghoa ini tidak berlangsung lama, ketika perantauan Muslim Tionghoa semakin sedikit karena gejolak politik di Champa dan Tiongkok. Secara perlahan, Sunan Ampel mulai membentuk masyarakat Islam Jawa ketika hubungan dakwah dan politik dengan Champa dan Tiongkok terputus ketika terjadi pergantian kekaisaran Dinasti Ming dan hancurnya Kesultanan Champa oleh Vietnam pada 1471. 

Keterputusan dakwah itu, makin menjadi setelah Perang Diponegoro. Kala itu banyak kebijakan pemerintah Belanda yang sifatnya memisahkan antarkelompok etnis. Tujuannya untuk membatasi interaksi dan kerja sama antaretnis yang sering kali berujung pada perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Aturan passenstelsel (1816) yang merupakan pajak jalan bagi etnis Tionghoa jika hendak bepergian berlaku menyeluruh dan diperketat pelaksanaannya.

Untuk mempertegas pemisahan Tionghoa dengan pribumi, Belanda membuat aturan wijkenstelsel dengan maksud mengisolasi etnis Tionghoa dalam kampung khusus (pecinan). Tujuannya untuk menghindari tercampurnya orang Tionghoa dan Jawa. Peraturan itu juga digunakan untuk mengontrol secara ketat kegiatan dagang dan aktivitas sosial Tionghoa.

Bagi orang Tionghoa yang masuk Islam, akan diikuti dengan memotong kucir atau thauwcang sebagai simbol. Orang Tionghoa yang hendak memotong kucir dikenakan pajak yang tinggi dan hukuman kerja paksa. Hukuman bagi kelompok etnis (Melayu, Tionghoa, Arab) akan dikenakan hukuman kerja paksa 12 hari.

Aturan hukum kaulanegara yang dibuat oleh Belanda, pada awalnya berdasarkan agama: (1) Christenen (orang-orang Nasrani), (2) Mooren (orang-orang Islam), (3) Onchristenen (orang-orang bukan Nasrani bukan Islam) ke dalam kelompok ketiga dimasukkanlah orang Tionghoa, orang Arab, dan orang Hindu (Keling). Ketika etnis Tionghoa memeluk Islam, ia akan dimasukkan ke kelompok mooren.

Undang-undang rasial Belanda tentang regeeringsreglement (tata tertib pemerintahan) awalnya dibuat pada 1854. Aturan tersebut dipertegas dengan UU Kependudukan Tahun 1910 yang mengatur penduduk Indonesia dibagi menjadi tiga: (1) Europeanen (orang-orang Eropa), (2) Vreemde Oosterlingen (orang Timur Asing); (3) Inlanders (bumiputera). Aturan tersebut merupakan aturan paling rasial dengan mendasarkan pada warna kulit dan masih menjadi problem sampai sekarang.

Posisi kelas dua sampai dipersamakan dengan penduduk Eropa menyebabkan status sosial etnis Tionghoa lebih tinggi dari pribumi. Selain itu, etnis Tionghoa diposisikan sebagai pedagang perantara yang menyebabkan status ekonomi cepat sekali membaik. Di manapun, orang Tionghoa terus semakin kaya, sedangkan pribumi hidup dalam kondisi sengsara dan terus bertambah miskin. Akhirnya, melahirnya stigma pribumi Islam identik dengan kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan.

Kontribusi Muslim Tionghoa
Abad ke-20, Muslim Tionghoa mulai aktif kembali dalam bidang dakwah dan perjuangan mendukung kemerdekaan Indonesia. Di Medan ada Haji Abdussomad Yap A Siong, muballigh dan tokoh pejuang kemerdekaan RI berdasarkan SK Menteri Urusan Veteran No. 01/A/KPTS/MUV/1968 tanggal 3 Januari 1968. Haji Abdusomad Yap A Siong, Abdul Hamid Soei Njo Sek, dan beberapa Muslim Tionghoa lainnya pada tahun 1930-an mendirikan Persatuan Islam Tionghoa (PIT) di Medan yang menjadi wadah dakwah dan perjuangan mendukung gerakan kemerdekaan RI.

Di Makasar Ong Kie Ho mendirikan Partai Tionghoa Islam Indonesia (PTII). Pendirian PTII untuk mewadahi dakwah dan aspirasi politik Muslim Tionghoa di Makassar dalam mendukung kemerdekaan Indonesia. Melihat perkembangan partai Islam Tionghoa di Makasar, Pemerintah Belanda takut aktivitasnya menjadi semakin radikal, maka pemimpin partai ditangkap dan dibuang ke Jawa.

Dalam masa vakum setelah pembuangan ketua PTII, komunitas Muslim Tionghoa di Makassar kemudian mendirikan Persatuan Tionghoa Muslim (PTM) dan menjadi cabang dari induk organisasi Muslim Tionghoa di Medan.

Bek Go sebagai ketua PTM di Makassar masih diakui keulamaannya sebagai utusan resmi Kongres Muslimin Indonesia 1949 di Yogyakarta. Dalam kongres, gagasan dan usulan Bek Go yang jadi rekomendasi kongres sangat jauh ke depan, seperti mengusulkan ada Kementerian Agama, pendidikan agama di sekolah-sekolah pemerintah, dan pemeliharaan bahasa Indonesia secara menyeluruh dalam kegiatan resmi.

Pembauran etnis Tionghoa dengan memilih Islam akan mempercepat proses asimilasi dan akulturasi. Agama Islam dijadikan sebagai faktor kohesi (perekat) yang berfungsi sebagai peredam terhadap kejutan budaya (cultural shock), karena perbedaan kultur, strata sosial, dan ras. Prinsip-prinsip dalam agama Islam, seperti "semua umat Islam bersaudara", tanpa memandang ras, asal-usul, dan kekayaannya, akan menghilangkan rasa sungkan untuk bergaul dan bersatu dalam kesatuan jamaah atau ranah permukiman. Keserasian sosial antara masyarakat Tionghoa dan Indonesia akan terjalin karena persaudaraan dalam iman dan Islam.
Akulturasi antara kedua kelompok masyarakat akan mudah berproses saling memberi dan menerima unsur-unsur (traits) budaya masing-masing. Apalagi kalau mereka tinggal dalam wilayah bersama, tidak dalam permukiman segregatif, seperti kampung pecinan. Keterikatan terhadap tempat hidup bersama, baik secara fisik atau emosional, menyebabkan komunitas mempunyai kepribadian kelompok yang kuat.

Apalagi kalau masjid dan madrasah dijadikan rallying point 'tempat bertemu dan bermufakat' sehingga terjalin persenyawaan unsur-unsur budaya yang dilandasi oleh nilai-nilai agama Islam. (Sunano, Alumni UIN Sunan Kalijaga, Penulis Buku 'Muslim Tionghoa di Yogyakarta/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pedagang Minta Hentikan Eksekusi dan Beri Izin Pendirian Pasar SRO di Pangururan
HUT ke-62, Sat Lantas Polres Asahan Berbagi dengan Warga Kurang Mampu
Bupati Resmikan Pojok Edukasi Sampah di Komplek Stadion Bina Raga Rantauprapat
Anggota DPRD Tegal Kunker ke Tebingtinggi Terkait Perpustakaan dan Arsip
Boy Simangunsong Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Laguboti
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU