Home  / 
Tak Bisa Mengajari Lagi
* Oleh : Madyamiko Gunarko Hartoyo
Sabtu, 25 Agustus 2018 | 22:51:09
Kisah mengenai seorang bhikkhu yang sulit dinasehati ini diceritakan oleh Sang Buddha ketika beliau berada di Jetawana. Menurut cerita yang disampaikan secara turun temurun, bhikkhu ini bandel dan sulit dinasihati. Dia pun pasrah dan tidak mengelak saat Sang Guru bertanya kepadanya apakah benar dirinya bandel dan sulit dinasihati.

Kemudian, Sang guru menjelaskan sebab akibat kenapa bhikkhu tersebut mengalami hal tersebut, ternyata dirinya juga demikian di kelahiran yang lampau, membandel dan sulit dinasihati oleh mereka yang bijaksana dan penuh kebaikan. Hal ini dikarenakan dirinya terjerat di sebuah perangkap dan meninggal. 

Sang guru pun menceritakan kisah kelahiran lampau Bhikkhu tersebut. Dimana pada suatu masa, Bodhisatta terlahir sebagai seekor rusa dan tinggal di hutan sebagai pimpinan dari sekawanan rusa. Kakaknya membawa anaknya menghadap Bodhisatta untuk belajar cara-cara rusa menghindari penangkapan. Namun keponakannya tidak muncul di saat yang telah dijanjikan sehingga tidak pernah belajar apapun untuk menghindari penangkapan. Suatu hari, tujuh hari setelah ia bolos dari pelajaran dan tidak mempelajari cara-cara itu, ia terjebak di sebuah perangkap saat sedang menjelajahi tempat itu. Ibunya mencari Bodhisatta dan menanyakan apakah anaknya  tidak diajarkan cara-cara menghindar.

"Jangan pikirkan lagi si bandel yang tidak mau belajar itu, anakmu tidak (berhasil) mempelajari cara-cara itu," kata Bodhisatta. Setelah mengucapkan kata-kata itu, tanpa semangat untuk menasihati rusa yang membandel tersebut bahkan di saat ia menghadapi kematiannya, Bodhisatta mengulangi syair-syair ini : 
Ketika seekor rusa memiliki delapan kuku untuk berlari,

dan dilengkapi dengan tanduk bercabang yang tak terhitung jumlahnya,

dan dengan tujuh cara ia (mampu) menyelamatkan dirinya sendiri,

maka saya tidak bisa mengajarinya yang lain lagi.
Cerita tersebut menggambarkan bagaimana pentingnya mendengar nasehat. Apapun latar belakang seseorang, ada kondisi yang pernah dialami dan telah memahami celah-celah kondisi yang bisa menjatuhkan atau mengangkat kita. Kita perlu memahami cara bersikap atas nasehat yang diberikan orang lain. Terbukalah saat seseorang berkenan untuk mengevaluasi kita, dengan demikian setiap yang dia sampaikan akan betul-betul berkekuatan positif bagi kita. Dan yang lebih dahsyat, janganlah lupa untuk menyampaikan terimakasih atas nasehat yang diberikan, dan jangan lupa pula sampaikan maaf, jika ada sikap yang kurang berkenan. Rasakan dahsyatnya kekuatan kedua kata tersebut yang mampu melejitkan potensi kita, akan mengubah sikap-sikap kita yang selama ini mungkin masih belum baik.

Mendengar nasehat orang lain merupakan salah satu berkah kebahagiaan sebagaimana diuraikan dalam Manggala Sutta. Mereka yang tidak mau mendengar nasehat maka hati akan buta. Kesenangan menerima kritikan dan segera memperbaikinya akan menjadikan perilaku kita senantiasa terjaga. Dengan penerimaan kita yang baik terhadap nasehat, maka ketika kita melakukan kesalahan, orang lain akan sigap memberitahukan kesalahan yang kita lakukan  tanpa ragu menerima penolakan dari kita. Bertumbuhlah dengan menyaring nasihat mana yang benar dan mana yang perlu dimodifikasi sesuai karakter kita. Keterbukaan, sikap menerima dan kerendahan hati ketika dikoreksi adalah paling penting karena seseorang tidak sempurna dan selalu memiliki hal-hal untuk dipelajari dari orang lain. (sumber : Kharadiya Jataka/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Ketua PGI Kota Medan Minta Rohaniawan Gencar Beri Siraman Rohani
Catat! Ini Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama 2019
Dewan Pers akan Jelaskan Kematian Jurnalis di Kalsel di Forum UNESCO
PPP Kubu Rommy Nilai Kepengurusan PPP Humphrey Hanya Ilusi
Panitia Perayaan Natal Keluarga Besar DPRDSU Audiensi ke Ketua Dewan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU