Home  / 
Hujan Emas Tak Cukup
* Oleh : Upa Madyamiko Gunarko Hartoyo
Sabtu, 2 Juni 2018 | 20:36:23
Pada suatu masa, hiduplah seorang raja bernama Mahasammata yang memiliki keturunan yang bernama Mandhata. Mandhata merupakan seorang yang benar-benar luar biasa. Ketika dia mengepalkan tangan kirinya kemudian menyentuhkannya ke tangan kanan, maka akan terjadi hujan tujuh jenis batu permata, setinggi lutut, seakan-akan awan hujan surgawi muncul di langit. Dalam kurun waktu yang lama dia menjadi seorang pangeran, selama waktu yang sama pula dia mengambil bagian dalam memerintah kerajaan sebagai wakil raja, dan selama waktu yang sama pula lagi dia memerintah sebagai raja.   

Pada suatu hari, dia tidak mampu memuaskan kehausannya akan kesenangan indriawi dan menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan. Dalam pandangannya karena kekuatan kebajikan telah terlihat, dirinya menganggap kerajaan tidak berguna baginya lagi. Sehingga ia pun berkunjung ke Alam Dewa Catumaharajika beserta para pengawalnya. Keempat raja dewa beserta rombongan para dewa lainnya, menyambutnya dengan membawa untaian bunga surgawi dan wewangian. Mereka memberikan kekuasaan alam dewa kepada dirinya dan memerintah dalam kebesarannya.

Waktu yang lama pun berlalu, di sana dia juga tidak bisa memuaskan kehausannya akan kesenangan indriawi, sehingga dia kemudian terlihat tidak puas. Dirinya pun bertanya kepada keempat raja dewa. Merekapun menyarankannya Alam Dewa Tavatiasa yang lebih indah dari alam dewa Catumaharajika.  
Mandhata kemudian bersama dengan para pengawalnya, menuju ke Alam Tavatiasa. Dan Sakka, raja para dewa, dengan membawa untaian bunga surgawi dan wewangian berada di antara rombongan para dewa lainnya menyambutnya. 

Sakka menuntun Mandhata ke Alam Tavatiasa, dan memberikan setengah kekuasaannya kepada dirinya. Setelah itu, mereka berdua memimpin alam dewa tersebut. Waktu terus berjalan, sampai Sakka yang lainnya muncul untuk menggantikan yang lama, dia juga memimpin bersama dengannya. Dengan keadaan yang sama, tiga puluh enam Sakka memimpin secara silih berganti. Akan tetapi, Mandhata tetap berkuasa, bersama dengan rombongannya. 

Seiring berjalannya waktu, kekuatan dari kehausannya akan kesenangan indriawi pun ikut terus berkembang dan menjadi lebih kuat bukan hanya berkuasa atas setengah kerajaan. Ia pun merencanakan membunuh Sakka sehingga hanya tinggal dirinya seorang diri yang memimpin alam tersebut. Akan tetapi, dia tidak mampu membunuh Sakka. Nafsu dambaannya (taaha) menjadi akar kemalangannya. Kekuatan dari kehidupannya mulai berkurang, usia tua mulai menyerang dirinya. Maka dia pun jatuh wafat ke dalam sebuah taman dan menerima buah perbuatan sesuai dengan perbuatannya.

Dalam Manggala Sutta, Sang Buddha menguraikan berpuas diri merupakan satu dari tiga puluh delapan berkah utama untuk meraih kebahagiaan. Orang bijaksana menyadari bahwa hasrat yang terus-menerus untuk memenuhi kemelekatan material ibaratnya seperti meneguk air garam untuk melegakan rasa haus, dan ini secara tidak terelakkan menuntun pada ketidak-puasan, frustasi dan penderitaan. Tidak ada yang dapat memuaskan nafsu kesenangan indriawi, meskipun dengan hujan emas. Karena kesenangan indriawi hanya memberikan sedikit kepuasan dan banyak penderitaan. Setelah memahami ini seharusnya seorang bijaksana tidak akan bersenang-senang dalam kesenangan indriawi.

Menemukan tingkat kepuasan serupa dengan menemukan ketenangan pikiran yang sejati. Kepuasan adalah kekayaan yang terbesar. Banyak orang dengan kekayaan berlimpah ataupun kekuasaan yang sedemikian besar tidak bahagia karena mereka berpikir mereka masih belum cukup memiliki. Demikian halnya Mandhata yang tidak pernah bahagia karena tidak puas terhadap apa yang telah dimilikinya. Bahkan akhirnya menghadapi kemalangan karena nafsunya yang begitu besar.

Ada saat dimana kita harus berhenti sejenak, melihat kebelakang lalu berpuas hati. Rahasia kepuasan batin adalah mampu berpuas hati, dan mampu berdamai dengan nafsu keinginan yang merupakan sumber dari ketidakpuasan diri. Jalani hidup dengan bahagia, bersedih dengan seperlunya, dan berpuas hati sebanyak-banyaknya. (h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pengurus DPW Doakan Jokowi Menang Sumut Dilantik, Tuani Lumbantobing Ketua
CSIS: Prabowo Alami Stagnasi Elektoral
Bawaslu Jadwalkan Panggil Kepala Daerah di Riau Pendukung Jokowi
Sandiaga Resmikan Posko Pemenangannya di Rumah Keluarga Soeharto
Tensi Pilpres 2019 Makin Panas Karena Medsos
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU