Home  / 
Pedoman Bebas Noda
* Oleh Upa Madyamiko Gunarko Hartoyo
Sabtu, 17 Februari 2018 | 20:29:10
Sekali waktu di Kota Benares, ada seorang brahmana di sebuah desa yang menguasai sebuah mantra, ia bernama Vedabbha. Mantra yang dimilikinya berharga melebihi semua barang bernilai. Jika saat planet-planet berada pada posisi yang sejajar sambil mengucapkan mantra ini menatap jauh ke langit, secara langsung akan timbul hujan batu dari langit berupa tujuh jenis batu berharga.

Suatu hari, gurunya meninggalkan desa itu untuk mengurus beberapa keperluan. Ia pergi ke Negeri Ceti bersama seorang muridnya yang merupakan Bodhisatta kelahiran masa lalu. Melewati sebuah hutan yang dikuasai lima ratus orang perampok dengan sebutan "Pengutus"  yang membuat perjalanan itu berbahaya dan sulit dilakukan. Menurut cerita, mereka terkenal sebagai "pengutus" karena setiap dua tahanan yang menjadi korban mereka, satu orang di antaranya diutus untuk menjemput uang tebusan. Kemalangan terjadi,  kelompok perampok tersebut menangkap Bodhisatta dan Brahmana Vedabbha. Mereka menahan Brahmana Vedabbha dan mengirim Bodhisatta untuk mencari uang tebusan. Bodhisatta dengan tidak mengurangi rasa hormat mengingatkan gurunya jangan sampai  membacakan mantra dan memanggil hujan barang-barang berharga. Jika hal tersebut dilakukan, dikhawatirkan malapetaka akan menimpa guru dan kelompok penjahat tersebut. Dengan peringatan tersebut pada gurunya, Bodhisatta pergi untuk mencari uang tebusan.

Saat matahari terbenam, perampok-perampok itu mengikat brahmana itu dan membaringkannya di dekat mereka. Pada saat itu juga, purnama muncul di langit bagian timur. Brahmana yang mempelajari tentang langit, mengetahui - bahwa pergerakan bersama planet-planet itu sedang terjadi. Berpikir tidak seharusnya mengalami penderitaan ditahan perampok, sang guru menawarkan kepada para perampok bahwa dirinya membacakan mantra dan akan memanggil hujan batu berharga, membayar tebusan pada perampok-perampok ini. Dengan demikian sang guru berharap dapat segera  bebas untuk pergi

Para perampok melakukan apa yang diminta olehnya mempersiapkan segala sesuatunya. Brahmana yang menandai kebersamaan planet-planet itu, membacakan mantra dengan mata menatap ke langit. Segera saja, barang-barang berharga itu mengalir turun dari langit. Para penjahat langsung memungut barang-barang berharga itu dan membungkus barang rampasan itu dengan menggunakan mantel mereka.

Mereka meninggalkan tempat itu dengan diikuti oleh brahmana itu di belakang mereka. Namun, seakan telah diatur, kelompok itu disergap oleh kelompok kedua yang beranggotakan lima ratus orang perampok! Kelompok pertama menyerahkan brahmana kepada kelompok kedua "Jika barang berharga ini yang kalian inginkan, tangkap saja brahmana ini, ia bisa dengan mudah menatap ke langit dan membawa turun harta kekayaan seperti aliran hujan. Ia yang memberikan semua barang yang kami miliki ini." Maka kelompok kedua melepaskan kelompok pertama, hanya menahan brahmana itu.

Namun masih membutuhkan waktu satu tahun lagi sebelum planet-planet bergerak bersama, yang merupakan syarat utamanya. Para perampok menjadi sangat marah karena keinginan mereka tidak bisa diwujudkan brahmana. Mereka kemudian memotongnya menjadi dua bagian dengan sebilah pedang yang tajam dan membuang mayatnya di tengah jalan. Lalu mengejar kelompok pertama, membunuh semua anggota perampok kelompok pertama dalam sebuah perkelahian, dan mengambil barang rampasan mereka. Mereka saling membunuh satu sama lain sehingga yang tersisa hanya dua orang saja. Dengan demikian, hampir seribu orang telah mati karenanya.

Kedua orang yang masih hidup itu sepakat untuk membawa lari harta tersebut, yang kemudian mereka simpan di sebuah hutan dekat desa. Satu orang duduk dengan pedang di tangan menjaga harta tersebut sementara yang satunya lagi pergi ke desa untuk mencari beras dan memasaknya sebagai santapan malam mereka.

Memperhitungkan temannya akan menginginkan sebagian dari harta ini, perampok yang sedang menunggu berpikir harus membunuh rekannya pada saat ia kembali. Sementara itu, penjahat yang satu lagi, membayangkan hal yang sama, bahwa harta rampasan itu akan dibagi dua, iapun  berencana memberikan nasi untuk dimakan temannya dan kemudian membunuhnya. Namun ia tidak sempat melakukan rencananya, ketika penjahat yang satunya lagi memotongnya menjadi dua bagian dengan menggunakan pedang sebelum sempat mencicipi nasi beracun, dan menyembunyikan mayatnya di suatu tempat yang terpencil. Kemudian ia makan nasi beracun itu, dan meninggal di tempat pada saat itu juga. Demikianlah, karena harta tersebut, tidak hanya brahmana itu, namun semua penjahat itu menjadi binasa.

Sementara itu, satu dua hari kemudian, Bodhisatta kembali dengan membawa uang tebusannya. Tidak menemukan gurunya di tempat ia meninggalkannya, hatinya merasa khawatir bahwa gurunya pasti telah menurunkan hujan harta benda dari langit, dan semuanya telah tewas sebagai akibatnya; ia menelusuri sepanjang jalan tersebut. Bodhisatta menemukan seribu penjahat tewas karena brahmana yang tidak mendengar nasihatnya sehingga membinasakan tidak hanya dirinya sendiri, namun juga seribu orang lainnya. Benar, mereka sendiri yang menerima akibat kekeliruan dan salah jalan, yang akhirnya menemui kehancuran.

Cerita Jataka tersebut, menginspirasi salah satu berkah utama sebagaimana diuraikan dalam Manggala Sutta yakni berkah karena bebas dari noda. Noda dari ketamakan, kebencian dan kebodohan adalah akar yang menyebabkan semua penderitaan dan ketidakpuasan. Bahkan aspek yang paling halus dari noda-noda ini harus dilenyapkan. Aspek-aspek yang halus ini meliputi hasrat keinginan dan kemelekatan, rasa tidak suka dan cepat marah, dan tidak berkepentingan serta ketidaktahuan.

Noda yang kita lakukan akan membawa kehancuran, bukannya keuntungan. Usaha brahmana yang salah arah dengan mengupayakan turunnya hujan harta benda dari langit, mengakibatkan kematiannya dan kehancuran bagi orang lain yang bersama dengannya. Tetap saja, setiap orang yang salah mengartikan pencarian terhadap pedoman demi keuntungannya sendiri, akan hancur dan melibatkan orang lain dalam kehancurannya. (h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Warga Berharap Jalan Menuju Nagori Palia Naopat Diaspal
Kearifan Lokal Perlu Dikembangkan Mendukung Destinasi Pariwisata Danau Toba
HKBP Distrik V Sumatera Timur Rayakan Pesta Puncak Kesehatan dan Kebersihan Lingkungan Hidup
Jembatan Sungai Bahbolon Perdagangan Berlubang
Sumpah Pemuda Tonggak Sejarah Pergerakan Kemerdekaan Bangsa Indonesia
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU