Home  / 
Berat Untuk Berpisah
* Oleh : Mina Wongso
Sabtu, 23 Desember 2017 | 17:01:09
Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung
bagi diri sendiri.
Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung
bagi dirinya?
Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik,
ia akan memperoleh perlindungan
yang sungguh amat sukar dicari.
Atta Vagga, 160

"Bukan perpisahan yang kutangisi, tapi pertemuanlah yang kusesali." Pepatah lama ini kembali teringat saat seorang sahabat lama datang berkeluh kesah sebab sulit menerima nasib dicerai suami.  Pasti duka teramat dalam ketika digugat cerai oleh orang yang sudah hidup bersama kita dalam jangka waktu panjang. Apalagi jika kehidupan perkawinan sudah berlangsung belasan tahun dan sudah punya karunia anak anak remaja  belasan tahun.

Banyak wanita yang sulit menerima berpisah dengan suami, mereka bahkan memilih untuk menerima saja kenyataan bahwa suaminya mendua, atau ringan tangan, atau tidak bertanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarganya. Stigma "JANDA" merupakan hal yang berat untuk dipikul bahkan oleh wanita yang mampu untuk mandiri secara ekonomi. Rasa rasanya status istri lebih terhormat, sehingga mereka melakukan segalanya untuk mempertahankan status, meskipun harus menurunkan harga diri serta menanggung resiko hidup dalam keadaan tak bahagia demi status "ISTRI" tersebut.  Sulit dibayangkan kehancuran hati saat sang istri sudah menurunkan harga diri demi memohon suaminya agar tetap di sisi, dan bersedia menanggung konsekuensi buruknya hidup bersama selanjutnya, namun justru di saat itulah ia digugat cerai oleh pasangannya.

Begitu banyak alasan untuk menceraikan pasangan dan sebagian besar bicara tentang kekurangan dari pasangan tersebut. Lupa bahwa sebagaimana pasangan, diri sendiri juga tidak lah sempurna. Saat seseorang memilih untuk hidup berumah tangga, seharusnya juga sudah mengetahui dan dapat menerima segala konsekuensi dan tanggung jawab dalam sebuah perkawinan.  Kesetiaan dan tanggung jawab serta dapat menerima pasangan sebagaimana adanya merupakan faktor penting yang menentukan kemampuan sebuah rumah tangga bertahan dalam ombak dan badai kehidupan.

Tahap pertama, adalah menerima kenyataan. Bahwa setiap orang memiliki keinginan yang tidak dapat dikontrol oleh pihak lain. Rumah tangga ini tidak dapat dipertahankan sebab kemauan baik  dari salah satu pihak sudah tidak ada lagi. Hal ini sejalan dengan konsep Anicca yang menjadi salah satu dari  dasar ajaran Buddha, bahwa segala sesuatu  di dunia ini adalah tidak kekal, termasuk kebahagiaan dalam berumah tangga. Meminjam kata kata dari seorang teman yang mengalami nasib malang dalam rumah tangga, bahwa pasangan itu kalau bukan diambil orang ya diambil Tuhan, ga mungkin bisa kekal abadi di samping kita.

Mengapa kita menderita karena dia ingin berpisah? Karena kenyataan ini tak sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Semakin disesali keadaan ini, semakin besar penderitaan, semakin sakit hati ini. Mari kita renungkan, apa yang terjadi jika dia tetap di samping namun dengan hati yang sudah berpaling. Apakah  bersedia demi kelegaan sesaat tidak berpisah saat ini,  kemudian harus menahan sakit hati jangka panjang selama sisa hidup, toh pada akhirnya juga akan dipisahkan oleh panggilan ajal. Ibarat tumor dalam tubuh manusia yang sudah besar, lebih baik sakit sesaat untuk kesehatan jangka panjang.

Apa tak boleh bersedih? Bersedih adalah hal yang sangat manusiawi, dialami oleh semua orang, karena berbagai sebab. Ketika kita berpisah dengan orang yang mendampingi kita sekian lama, wajar kita memberi ruang dan waktu bagi diri untuk bersedih, namun sadari bahwa kesedihan ini adalah bagian dari hidup dan saat ini giliran kita. Beri waktu bagi diri untuk menerima kondisi, setelah itu bergeraklah, tata diri dan menjadi orang yang lebih baik dari saat ini. 

Perasaan terbuang dan tidak berharga yang sering muncul dapat menimbulkan luka jiwa yang dalam. Buanglah perasaan itu, katakan pada diri sendiri bahwa kita sangat berharga, manjakan diri dengan penampilan yang lebih baik dan kegiatan positif seperti olah raga atau pun meditasi. Jika belum mampu melepaskan beban perasaan ini, carilah  teman atau keluarga yang dapat dipercaya dan ceritakan emosi tersebut. Atau tuliskan keluh kesah dalam buku. Semakin cepat perubahan positif itu datang, semakin cepat kita memulihkan perasaan. Jangan mengurung diri, karena hal ini akan membuat mu makin terpuruk dengan depresi.

Setelah berhasil melepaskan diri dari emosi sedih, maka bergeraklah ke depan, masa lalu menjadi referensi bagi kita saat hendak memulai hidup baru, dalam sebuah rumah tangga masing-masing pihak tentu memiliki kesalahan dan kelemahan. Intropeksi agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Buat daftar tentang enaknya hidup sendiri. dan tidak lupa juga untuk menjaga perasaan anak-anak dengan tidak menjelekkan pasangan di depan mereka. Jangan lupa bahwa bagi anak, orang tua adalah dua orang yang sangat mereka cintai, sehingga mereka sangat menderita jika mendengar orang tua saling membenci dan saling memburukkan. Jangan lupa juga bahwa di balik huru hara perceraian, anak yang paling menderita sehingga kita harus cepat pulih dan memperhatikan kesehatan mental mereka.

Pernikahan bukan kewajiban bagi umat Buddha. Umat Buddha boleh memilih antara berumah tangga atau tidak dengan seluruh konsekuensi yang menyertainya. Jika pilihan berumah tangga sudah diambil, maka jalankanlah dengan segenap kesungguhan hati,  merujuk pada Sigalovada Sutta tentang kewajiban suami istri. Di dalam Sigalovada Sutta terdapat 5 kewajiban seorang suami terhadap isterinya sebagai berikut : menghormati isterinya; bersikap lemah lembut; setia;
memberikan kekuasaan tertentu kepada isterinya; memberikan perhiasan kepada isterinya. (Digha Nikaya III, 190).

Selain itu di dalam Khuddaka Patha juga  disebutkan bahwa seorang suami harus bersikap ramah terhadap isterinya, membantu istrinya dalam segala bentuk pekerjaan, mengajak isterinya untuk menghadiri upacara-upacara dan pesta-pesta, mendorong isterinya melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Suami sebagai kepala keluarga wajib menghindarkan empat macam apayamukha, yaitu sebab-sebab, yang akan membawa keruntuhan, yaitu : Suka menggoda wanita lain; Suka bermabuk-mabukan; Suka berjudi; Suka bergaul dengan orang jahat dan akrab dengan orang jahat. (Anguttara Nikaya IV, 283)

Atas perlakuan yang diterimanya dari seorang suami yang baik, berdasarkan Sigalovada Sutta maka seorang isteri yang mencintai suaminya mempunyai kewajiban sebagai berikut: melakukan semua tugas kewajibannya dengan baik; bersikap ramah kepada keluarga dari kedua belah pihak; setia kepada suaminya; nenjaga baik-baik barang-barang yang dibawa oleh suaminya; pandai dan rajin dalam melaksanakan semua pekerjaannya (Digha Nikaya III, 190)
Adalah merupakan hal yang pantas dipuji apabila setiap isteri berusaha untuk memenuhi 5 ciri isteri yang sempurna, yaitu : Bangun lebih dahulu dari suaminya; Pergi tidur setelah suami tertidur; Selalu mematuhi perintah suaminya; Selalu bersikap ramah dan sopan; Dari mulutnya hanya keluar kata-kata yang ramah.
(Anguttara Nikaya IV, 265)

Apabila kedua belah pihak menjalankan ajaran Buddha dengan baik, serta berusaha memenuhi kewajiban sebagaimana termaktub dalam ujaran ujaran ini, meskipun tidak sempurna, maka boleh dikatakan perceraian, perselingkuhan maupun poligami tidak terjadi dalam hidup berumah tangga tersebut. (h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Gerak Jalan Beregu dan Jalan Santai Brigade Kartini AMPI Medan
BI dan DPRD Harus Kordinasi Atasi Pengangguran dan Kemiskinan di Medan
KPU Gelar Coklit Serentak Nasional di Hamparanperak
Wagubsu Jenguk Bocah Korban Penganiayaan dari Paluta di RS Adam Malik
Gubsu Tengku Erry Harapkan JCI Medan Bisa Tingkatkan Peran Pemuda
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU