Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Penawar Karma Negatif
* Oleh: Upasaka Rudiyanto Tanwijaya
Sabtu, 2 Desember 2017 | 21:23:12
Tidak ada manusia yang sempurna. Maka tidak ada juga manusia yang luput dari karma negatif, baik sebagai hasil perbuatannya saat kehidupan ini, maupun kelahiran sebelumnya.

Juga tidak ada manusia yang berharap agar kehidupannya diwarnai berbagai permasalahan yang tak kunjung selesai. Tentunya, sebagai siswa Buddha, kita percaya pada Hukum Karma. Bahwa sebab yang baik akan menghasilkan yang baik, sebaliknya, sebab yang tidak baik akan menghasilkan hal yang tidak baik pula. Soal kapan itu berbuah, tentu hanya Buddha yang bisa mengetahuinya.

Lantas, jika hidup tak luput dari karma negatif, maka apakah ada cara untuk mengatasinya? Dalam ajaran Buddha, perbuatan negatif yang pernah kita lakukan, tidak akan hilang begitu saja. Perbuatan tersebut tetap akan berdampak. Buddha hanya mengajarkan agar dampak tersebut bisa berrang bukan pupus begitu saja, yang diistilahkan sebagai penawar. Lantas bagaimana caranya?

Seorang Guru Besar Mahayana terkemuka, Yang Arya Asanga, menyebutkan 6 perbuatan bajik yang mampu menawarkan dampak perbuatan negatif yang telah kita perbuat.

Yang pertama adalah rutin membaca dan melafalkan Sutra khususnya yang bertemakan tentang Kebijaksanaan dan Kesunyataan. Sebab dengan rutin membaca Sutra, maka secara tidak langsung kita bisa bersentuhan dengan Maha Kebijaksanaan Buddha, yang telah terangkum dalam Sutra tersebut.

Kedua, senantiasa merenungkan bahwa semua fenomena tidak memiliki eksistensi yang melekat (inheren) atau kita kenal dengan anatta. Kebiasaan ini akan membuat kita tidak terjebak pada hawa nafsu yang mengikat.

Ketiga, rajin melafalkan mantra. Silakan dipilih mantra yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Meskipun Guru Besar Asanga menganjurkan untuk melafalkan mantra Wajrasattwa, perwujudan Buddha untuk membantu semua makhluk menawarkan dampak karma negatif mereka.

Keempat yaitu membuat citra Buddha, misalnya dalam bentuk patung, foto, gambar, lukisan dan sebagainya. Tujuannya agar kita senantiasa mengingat keagungan Buddha serta terinspirasi dengan welas asih Buddha dalam menolong makhluk keluar dari penderitaan.

Kelima yaitu memberikan persembahan kepada para Buddha. Perbuatan ini merupakan simbol dedikasi bakti antara murid dengan guru. Dengan adanya semangat ini maka kita akan senantiasa patuh terhadap segala nasehat dan ajaran Guru.

Dan keenam adalah melafalkan nama-nama Buddha, yang bertujuan untuk menyadari perbuatan negatif yang pernah diperbuat dan menyesali serta berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.

Yang Mulia Dagpo Rinpoche menjelaskan, bahwa dari keenam perbuatan bajik yang diajarkan Guru Besar Yang Arya Asanga, juga amat penting praktik berbuat kebaikan untuk menolong orang/makhluk lain. Misalnya membangun rumah sakit, membantu orang yang sakit, pelepasan satwa terutama yang akan dibunuh, dan lainnya - termasuk juga perbuatan yang mampu menjadi penawar dari dampak karma negatif.

Intinya adalah berbuat, bukan sekedar kata-kata belaka. Sebab dalam ajaran Buddha, hanya perbuatan yang bisa merubah kita. Oleh sebab itu, jangan menunda lagi, mulai sekarang juga! (Penulis adalah Dharmaduta Majelis Buddhayana Indonesia (MBI)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Drainase Nagori Pinang Ratus Butuh Pengerukan
Jalan Nasional Jurusan Medan-Kuta Cane Berlubang dan Rawan Kecelakaan
Dianggap Melanggar Perjanjian, Warga Perdagangan Akan Lakukan Demo Tangkahan Pasir
Ketua DPRD Hadiri Peringatan Hari Jadi Desa Sukamulia Secanggang
Pemkab Karo Sosialisasi Tata Cara Pemberian Tambahan Penghasilan PNS
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU