Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Ingat Selalu Akan Kematian
*Oleh : Upasaka Rudiyanto Tanwijaya
Sabtu, 28 Oktober 2017 | 22:48:26
Dalam satu peristiwa, saya beruntung pernah berjumpa dengan seorang sesepuh Buddhis yang menurut saya orangnya bijaksana. Beliau bernama Upasaka Pandita Tandjung Kartawijaya atau karib saya panggil Romo Tandjung.

Dalam sebuah perjalanan panjang bersama di atas kereta api, Romo Tandjung memberikan nasehat bahwa sebagai siswa Buddha, ingat pada 3 hal, yaitu jangan takut mati, jangan cari mati, dan jangan tunggu mati. Khusus poin pertama, jangan takut mati, akan menjadi fokus tulisan ini.

Ya, banyak kita, manusia, yang setelah lahir ke dunia ini, justru melihat kematian sebagai momok. Padahal dalam ajaran Buddha, yang namanya lahir pasti akan mengalami sakit, tua dan mati. Ini merupakan hakikat kehidupan yang dialami oleh siapa saja.

Buddha pernah mengajarkan bahwa kesadaran akan kematian adalah kesadaran yang terkuat dan paling efektif sebagai asupan energi terbesar dalam mempraktikkan Dharma. Buddha mengibaratkan dengan jejak kaki gajah yang paling besar dan terdalam dibanding jejak kaki binatang lain.

Guru Besar Tantra, Yang Mulia Dagpo Rinpoche, dalam bukunya "Appreciating Life, Preparing for Death" (2002) membeberkan bahwa ada beberapa manfaat penting dari sikap selalu sadar akan kematian. 

Pertama, dengan selalu sadar akan kematian maka kita akan terlatih untuk melakukan sesuatu yang benar-benar bermanfaat sehingga kita benar-benar siap apabila kematian tiba. Tentunya salah satu hal yang bermanfaat adalah senantiasa berbuat kebaikan, tidak merugikan makhluk lain, dan tentunya menjalankan apa yang diajarkan oleh Buddha sebagai Guru Dharma.

Kedua, yaitu kesadaran akan kematian akan memberikan kekuatan besar bagi praktik latih diri kita. Kemarahan, keserakahan, atau pun kebencian yang biasanya mewarnai hari-hari kita perlahan-lahan akan mengecil. Mengapa? Karena kita semakin sadar bahwa hal-hal tersebut justru sangat tidak bermanfaat. Bahkan apabila ini kita biarkan maka pada saat menjelang kematian, akan menjadi sangat mengganggu perjalanan kita untuk menuju kehidupan yang baru.

Ketiga, dapat memurnikan praktik Dharma kita. Kesadaran akan kematian akan membuat kita benar-benar menghargai apa yang ada saat ini. Keluar masuk nafas akan menjadi begitu berharga. Padahal sebelumnya, kita justru mengabaikannya.

Keempat, dapat mempertahankan tekad latihan kita untuk tidak kembali pada tuntutan-tuntutan lahiriah yang mencengkeram diri kita. Sebab, kita benar-benar terpanggil untuk mempersiapkan diri. Bukan justru kembali terlena kepada godaan hawa nafsu yang penuh jebakan yang membuat kita sungguh menderita.

Kelima, kita benar-benar fokus pada tujuan akhir pelatihan kita. Sebab waktu sungguh-sungguh tidak banyak tersedia. Dan kita harus benar-benar serius mempertahankannya sebagaimana kita sudah memulainya.

Dan keenam, yang terakhir, adalah kita akan mati dengan penuh damai dan bahagia. Mengapa? Karena kita benar-benar telah mempersiapkannya. Kita menyambut kematian sebagai sebuah realitas, bukan sebagai momok yang menakutkan. Kita meninggalkan kehidupan selama ini dengan berani dan penuh kebijaksanaan, tanpa penyesalan.

Demikianlah. Maka siapa yang senantiasa ingat akan kematian, sesungguhnya ia telah berbenah dan mempersiapkan diri secara bathiniah dan spiritual. Orang seperti ini menjadikan kesadaran sebagai penuntun untuk kehidupan berikutnya. (*) Penulis adalah Dharmaduta Majelis Buddhayana Indonesia (MBI/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Aktivis: Proyek Cacat Mutu, Jangan Ada Pencairan dari Dinas PUPR
Coba Tabrak Petugas, Bandar Narkoba Bertato Ditembak Mati di Medan
Proyek Turap Jalan Cor Beton di Silau Laut Asahan Gunakan Batu Bata Lapuk
Korupsi Alat Tangkap dan Bibit Ikan, 2 Mantan Kadiskanla Madina Ditahan Kejaksaan
Ada Seminar Cara Dapat 4 Istri, PKS: Poligami Bukan untuk Diobral
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU