Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Siapkan Disiplin
* Oleh Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo
Sabtu, 23 September 2017 | 20:37:11
Untuk mempunyai disiplin moral, seseorang perlu pengendalian diri (samvara ). Pengendalian diri hanya akan dapat dicapai dengan ketekunan dan kesabaran (khanti) serta memerlukan viriya (semangat dan keuletan). Tanpa keuletan, tanpa ketekunan dan kesabaran; seseorang akan gagal mengendalikan dirinya sendiri. Hal penting lainnya dalam menjaga kemurnian moralitas adalah kebijaksanaan .

Pentingnya disiplin moral dapat kita renungkan dari kisah dua orang tukang gergaji kayu .Tukang yang satu memiliki moral rajin, tekun, bekerja selalu riang gembira karena dianggap sebagai kesenangan dan kewajiban, bertanggung jawab dan tidak perlu pujian walaupun secara fisik tukang pertama ini memiliki kemampuan yang biasa-biasa saja .

Sementara temannya, bermoral bertolak belakang dengan tukang pertama. Tukang kedua hanya mau bekerja kalau dipuji atau diawasi, bekerja dianggap sebagai beban bahkan dianggap semacam mendapatkan hukuman.Tukang kedua malas dan selalu menghindari tanggung jawab dan hanya menuntut hak lebih daripada kewajibanya. Padahal dirinya secara fisik lebih kekar dan memiliki daya tahan kerja yang lebih tinggi.

Kemampuan keduanya teruji saat sang majikan menantang mereka dengan memberikan iming-iming upah dua kali lipat bagi mereka yang pada akhir bulan memiliki jumlah gergajian yang lebih banyak. Di awal lomba  selama seminggu berkompetisi tukang kedua selalu mendapat hasil kerjaan yang lebih banyak karena sang majikan masih mengawasi dan sering memperhatikannya. Sedangkan tukang pertama bekerja dengan sewajarnya,biasa-biasa saja sehingga jumlah gergajian lebih sedikit dibanding rekannya.

Namun pada minggu berikutnya semuanya berubah saat sang majikan tidak lagi memiliki kesempatan untuk menyaksikan kedua pekerjanya. Disiplin moral keduanya diuji, tukang pertama tetap  bekerja meski tanpa dilihat dan diawasi siapapun serta selalu rajin mengasah gergajinya setiap dirasakan sudah kurang tajam, serta senantiasa disiplin bekerja dengan semangat tinggi.

Sebaliknya rekannya kembali kepada sifat dasarnya mulai malas-malasan karena tidak diawasi dan tidak ada yang memujinya serta tidak disiplin ditambah jarang mengasah gergajinya. Dia menyombongkan kemampuan fisiknya yang lebih kuat dibanding tukang pertama. Saking asiknya lebih banyak istirahat dan santai, dia harus  bekerja siang malam tanpa pandang waktu mengejar ketinggalannya saat tiba batas akhir bulan. Saat bersamaan, gergaji mulai "tumpul" karena tidak pernah di asah sehingga makin membuat semangat kerjanya menurun. Akhir kisah ini tentu mudah ditebak, yaitu tukang pertama sebagai pemenang dengan mendapatkan bonus satu bulan gaji.

Makna dari cerita tukang kayu menyadarkan kita bahwa moralitas tinggi akan menghindarkan seseorang dari lima jenis bahaya sebagaimana yang dijabarkan Sang Buddha dalam  Mahaparinibbana Sutta :

'Para perumah tangga, terdapat lima bahaya bagi seseorang yang bermoral buruk, gagal dalam moralitas. Apakah lima itu? Pertama-tama, ia akan menderita kehilangan harta-benda karena melalaikan tugas-tugasnya. Kedua, ia akan mendapatkan reputasi buruk karena moralitas yang buruk dan perbuatan salah.
Ketiga, kelompok apa pun yang ia datangi, apakah Khattiya, Brahmana, perumah tangga atau petapa, ia melakukannya dengan perasaan segan dan malu. Ke empat, ia meninggal dunia dalam keadaan bingung. Ke lima, setelah meninggal dunia, saat hancurnya jasmani, ia muncul di alam yang tidak baik, bernasib buruk, di alam menderita, di neraka. Ini adalah lima bahaya bagi seseorang yang bermoral buruk.'

Dalam Manggala Sutta juga disebutkan disiplin moral adalah salah satu berkah untuk kebahagiaan seseorang. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan penuh konsentrasi dan moralitas tinggi dan kebijaksanan akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar.

Sang Buddha menjabarkan lima keuntungan yang akan diperolehnya. Pertama, karena penuh perhatian terhadap tugas-tugasnya, ia memperoleh keuntungan dan kekayaan. Kedua, ia memperoleh reputasi baik karena moralitasnya dan perbuatan baiknya. Ketiga, kelompok apa pun yang ia datangi, apakah Khattiya,
Brahmana, perumah tangga atau petapa, ia melakukannya dengan penuh keyakinan dan penuh percaya diri. Ke empat, ia meninggal dunia dengan tenang dan tidak bingung. Ke lima, setelah meninggal dunia, saat hancurnya jasmani, ia muncul di alam yang baik, di surga. Ini adalah lima keuntungan dari seseorang yang bermoral baik, dan yang berhasil dalam moralitas.'

'Ini adalah moralitas, ini adalah konsentrasi, ini adalah kebijaksanaan. Konsentrasi, ketika disertai moralitas, akan menghasilkan buah dan manfaat besar.
Kebijaksanaan, ketika disertai konsentrasi, akan menghasilkan buah dan manfaat besar. Pikiran yang disertai kebijaksanaan akan secara total terbebas dari kekotoran, yaitu, kekotoran indra, penjelmaan, pandangan salah, dan kebodohan.'  Mahaparinibbana Sutta. (c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jokowi Tunjuk Din Jadi Utusan Khusus Presiden untuk Dialog Agama
Pelapor Vonis Praperadilan Novanto Diperiksa MA 3 Jam
Komnas HAM: Ahmadiyah Korban Diskriminasi karena UU PNPS
Satpol PP Turunkan Spanduk Pengusiran Dubes AS di Dukuh Atas
MA Vonis Mati Agus Si Pembunuh 5 Nyawa Satu Keluarga
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU