Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Layar dengan Kemudi
* Oleh: Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo
Sabtu, 12 Agustus 2017 | 17:46:18
Ada sebuah kisah inspiratif yang menarik kita renungkan. Pada satu masa dulu, tersebut ada seorang tua yang terkenal kebijaksanaannya. Hampir seluruh penduduk negeri mengenalnya dan menjadi tempat untuk mendengar nasehat ataupun sekedar tempat bertanya.

Suatu ketika, datang seorang anak muda yang mendatanginya dengan penuh ingin tahu kebijaksanaannya. Sambil memegang seekor anak burung di belakang badannya, sang anak muda menantang orang tua tersebut menebak apakah anak burung yang berada dalam genggamannya dalam keadaan hidup atau sudah mati.

Sejenak orang tua tersebut terdiam dan merenung, kemudian ia berkata, anak muda sesungguhnya hidup atau tidaknya anak burung dalam genggamanmu tergantung keinginanmu. Karena jika saja saya menyebut anak burung tersebut hidup maka sekejap waktu kamu mematikan anak burung tersebut. Namun jika saya menyebutnya sudah mati, kamu akan membiarkan anak burung tersebut hidup. Jadi anak burung hidupnya tergantung sikapmu anak muda. Demikianlah jawaban bijaksana orang tua tersebut.

Lalu apa makna cerita anak burung tersebut dalam genggaman tersebut? Pelajaran kisah bahwa baik buruknya diri kita tergantung atas keputusan pilihan hidup yang kita ambil. Kita sendiri yang menentukan sukses tidaknya hidup kita.

Tanpa kita sadari, seluruh rangkaian kehidupan manusia terus berlangsung di dunia ini. Sebagian orang mencemari kehidupannya, mereka menghancurkan diri mereka dengan berbagai cara. Ada yang kecanduan mengkonsumsi minuman keras dan obat terlarang yang menghancurkan masa depan mereka. Orang yang gemar berjudi menyia-nyiakan kebahagiaan dirinya sendiri dan keluarganya. Tidak sedikit yang memilih jalan hidup kriminal dan akhirnya harus hidup di penjara bahkan dalam kondisi yang lebih buruk. Mereka membenamkan diri tanpa tujuan dan tak memiliki tujuan hidup. Mereka tidak memiliki tujuan yang jelas dan baik bagi kehidupannya dan membiarkan penderitaan menimpanya ibarat kapal yang berlayar tanpa kemudi

Di sisi lain kehidupan, sebagian orang bertujuan mencapai keberhasilan duniawi, ada juga yang bertekad berhasil dalam spiritual. Seseorang yang memiliki tujuan hidup yang jelas akan menuntun dirinya melalui kegiatan yang direncanakan dengan target tertentu. Keberhasilan dicapainya melalui keputusan yang mantap untuk melangkah ke arah tujuan yang diinginkan dalam kehidupan. Sekali keputusan ditetapkan, mereka bekerja keras untuk mencapai sasarannya. Mereka menggunakan waktunya dengan baik melalui kegiatan olahraga, seni dan belajar ataupun sekedar berkumpul dan memberikan dukungan bagi keluarganya.

Dua perbedaan pola hidup membuktikan bahwa sebenarnya setiap insan bisa memilih kehidupan yang lebih baik bagi dirinya. Kuncinya adalah bagaimana cara menuntun diri untuk berkembang dalam beragam pilihan kehidupan. Olahraga, seni dan spiritual merupakan suatu hobby yang mengasyikkan dan juga membahagiakan. Di sisi lain berjudi, narkoba dan asusila juga merupakan kegemaran yang mengasyikkan namun menimbulkan penderitaan.

Menuntun diri untuk memilih pola hidup yang baik erat kaitan dengan pengendalian diri atau penguasaan diri. Dengan pengendalian diri seseorang akan memiliki sikap, tindakan atau perilaku yang direncanakan  untuk mematuhi nilai yang baik dalam kehidupan. Hal ini diperlukan karena dalam diri seseorang mempunyai kecenderungan negatif dan positif dalam dirinya bahkan kadangkala lebih didominasi oleh kecenderungan negatif dalam dirinya.

Pada saat seseorang telah mampu menuntun dirinya ke arah yang benar dengan baik, dirinya tidak akan ragu-ragu, tidak akan goyah oleh keragu-raguan dan ketidakpastian. Dengan memiliki kepercayaan diri, seseorang tidak tergantung pada orang lain atau kekuatan lain di luar dirinya. Mereka memiliki tujuan yang benar, tidak akan mengikuti jalan yang salah dan tidak memanjakan diri dengan perbuatan-perbuatan yang tercela.

Sang Buddha menekankan menuntun diri ke jalan yang benar (Attasammapanidi ca) adalah salah satu berkah untuk kebahagiaan dalam Manggala Sutta.
Penyelamatan manusia tidak bergantung kepada kemampuan dari orang lain, pemikiran ketergantungan seseorang dapat mengangkat orang lain dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi dan pada akhimya menyelamatkan mereka cenderung membuat manusia menjadi lemah, pasrah dan bodoh. Hal ini merendahkan dirinya sebagai manusia dan menekan martabat dirinya. (f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Paradigma Baru Pengawasan Menurut PP Nomor 12 Tahun 2017
Touring Merdeka Honda Jalan Medan - Parapat Semarakkan Hari Kemerdekaan RI
Gandeng PMI, WAC Kirim Bantuan Tiga Ton Beras ke Pengungsi Sinabung
Temuan Bangkai Pesawat Tanpa Awak, Warga Garut Geger
Bea Cukai Sita Rokok Ilegal Bernilai Rp 2,7 Miliar
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU