Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Melihat ke Dalam
* Oleh : Upasaka Vijaya Rudiyanto Tanwijaya
Sabtu, 1 Juli 2017 | 22:11:19
Suatu ketika sepasang isteri tengah menikmati sarapan di ruang tamunya. Mata si isteri melihat tetangganya yang sedang menjemur pakaian.

"Lihatlah tetangga kita. Pakaian yang dijemurnya sangat kotor," demikian komentar si isteri kepada suaminya.

Keesokan harinya masih sama. Si isteri masih mengomentari hal yang senada tentang jemuran si tetangga. Sang suami hanya diam.

Pada hari ketiga, si isteri kaget. Karena jemuran itu kelihatan bersih sekali.

"Sepertinya tetangga tahu aku mengkritik soal jemurannya," ujar si isteri kepada suaminya. "Lihatlah, sekarang jemurannya sudah bersih sekali."

Si suami yang dari tadi cuma diam, kemudian angkat bicara.

"Sebenarnya bukan jemuran tetangga yang kotor, tetapi kaca jendela rumah kita yang penuh debu. Nah sebelum kamu bangun tadi, aku sudah membersihkannya," ungkap suaminya tersenyum. Si isteri tersipu, sadar akan kesalahannya yang suka mengkritik orang lain tanpa tahu penyebabnya.

Dari kisah tersebut kita diberi sebuah makna bahwa amatlah mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi begitu sukar menyadari kekurangan diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita menilai sesuatu dengan hanya menggunakan persepsi kita sendiri, yang juga belum tentu benar. Akibatnya permasalahan muncul dan ketidakharmonisan terjadi.

Ketika anak kita gagal dalam ujian, maka dengan entengnya kita sebut dia bodoh. Kita tidak menyadari, apakah selama persiapan ujian, kita sudah memberi perhatian dan motivasi kepadanya?

Atau ketika mencicipi masakan di rumah, dengan mudahnya kita mengatakan makanannya tidak enak. Apakah kita sendiri sudah mampu memasak yang lezat dan memuaskan semua orang?

Ajahn Buddhadasa melalui sebuah tulisannya yang berjudul "The Dawning of Truths: Difficult for Anyone to Believe No.18" pernah menyatakan bahwa dunia ini disempurnakan oleh alat indera kita, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran.

Apa yang disampaikan oleh Ajahn Buddhadasa sungguh tepat. Bahwa apa pun yang kita alami dalam kehidupan ini, sangat tergantung pada indera kita. Indah atau tidak, sangat ditentukan oleh mata kita. Wangi atau tidak, oleh hidung kita. Pujian atau kritik, oleh telinga kita, dan sebagainya.

Jika seumpama indera kita telah dibiasakan hanya menerima apa yang baik menurut kita, maka kalimat-kalimat kritikan tentunya akan menjadi hal yang sangat menyakitkan bila sampai di telinga kita.

Padahal semua alat indra tersebut sangat personal, bahkan subyektif. Bagaimana sesuatu yang subyektif bisa mengintrepretasikan dunia secara sebenar-benarnya? Tentu hal yang mustahil.

Inilah salah satu akar penderitaan.  Manusia kerap menilai dengan persepsinya sendiri. Padahal persepsinya belum tentu sama dengan orang lain. Benturan inilah yang membuat kita semakin menderita.

Buddha senantiasa mengingatkan agar kita menjaga indera-indera kita. Mengapa? Karena apa yang kita rasakan sesungguhnya merupakan "intrepretasi sepihak" dari indera kita.

Oleh sebab itu, sebelum menilai sesuatu, lihatlah ke dalam. Periksa diri kita, apakah memang sudah pantas kita memberikan penilaian? Apakah bisa memberi manfaat bagi kemajuan bathin kita atau justru menimbulkan kemerosotan dalam diri kita bahkan mengundang luka pada diri orang lain? Sekali lagi, sebelum melakukan apa pun, lihatlah ke dalam diri kita.

Semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu... Sadhu... Sadhu... (*) Penulis adalah Dharmaduta dan Pengurus Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi Sumut/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Paradigma Baru Pengawasan Menurut PP Nomor 12 Tahun 2017
Touring Merdeka Honda Jalan Medan - Parapat Semarakkan Hari Kemerdekaan RI
Gandeng PMI, WAC Kirim Bantuan Tiga Ton Beras ke Pengungsi Sinabung
Temuan Bangkai Pesawat Tanpa Awak, Warga Garut Geger
Bea Cukai Sita Rokok Ilegal Bernilai Rp 2,7 Miliar
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU