Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Kemarahan Yang Menakutkan
* Oleh : Upasaka Vijaya Rudiyanto Tanwijaya
Sabtu, 10 Juni 2017 | 19:57:50
Kemarahan (dosa) merupakan salah satu dari Tiga Racun dalam Agama Buddha, disamping keserakahan (lobha) dan kebodohan (moha).

Mengapa manusia diliputi kemarahan? Menurut Maha Biksu Chin Kung, kemarahan muncul karena ada sesuatu hal yang tidak tercapai. Kondisi ini membuat kita menjadi tidak tenang, reaktif dan mulai tidak berpikir tenang. Kemarahan juga muncul karena rasa panik atau gelisah. Biasanya ketika orang mendapatkan apa yang dia inginkan maka hatinya menjadi tenang, kepanikan atau gelisah menjadi hilang.

Orang yang diliputi rasa amarah maka  wajahnya akan terlihat menakutkan. Oleh sebab itu, sering dikatakan bahwa makhluk-makhluk penghuni neraka biasanya berwajah seram karena semasa hidup mereka sering diliputi kemarahan. Wajah seram mereka sebenarnya bukan untuk menakuti orang tetapi merupakan cerminan bathin mereka yang selalu bergejolak.

Ada sebuah cerita dimana hidup seorang gadis yang selalu berwatak kurang baik. Tiada hari tanpa amarah. Dan kalau sudah marah, semua hal menjadi korban. Sebenarnya gadis tersebut berparas cantik. Namun kemarahannya membuat wajahnya berubah seperti nenek penyihir yang culas. Tidak ada yang berani mendekati gadis tersebut. Rumahnya selalu tertutup dan ia hanya menyendiri dalam kamarnya yang pengap.

Sampai satu ketika, rumahnya terbakar. Ia terjebak di dalam kamarnya. Ketika api mulai marak, ia hanya bisa berteriak-teriak minta tolong. Namun tak satu pun bersedia menolong karena semua orang takut kena amarahnya. Dalam ketidakberdayaannya, gadis itu mulai menyadari kesalahannya selama ini. Ia bertekad apabila ia bisa selamat dari kepungan api, maka ia akan mengubah sifat jeleknya tersebut.

Tiba-tiba seorang pemuda nekad menerobos kobaran api dalam rumah tersebut. Dengan gagah berani laki-laki tersebut berhasil menyelamatkan si gadis yang sudah pingsan akibat menghirup terlalu banyak asap. Namun beruntung, gadis itu berhasil diselamatkan.

Ketika ia siuman, ia sadar ternyata banyak sekali penduduk yang mengelilingi dirinya. Semuanya terpanggil untuk menyelamatkannya. Tiba-tiba ia merasa terharu dan menangis. Lalu dengan tulus ia mengucapkan terima kasih serta memohon maaf kalau selama ini ia bertingkah laku tidak baik. Semua penduduk memaafkannya. Melihat begitu banyak orang perduli kepadanya, ia begitu bahagia sampai ia tersenyum dengan tulus.  Dan anehnya, begitu ia tersenyum, wajahnya yang selama ini terlihat seperti penyihir, berubah menjadi jauh lebih cantik.

Penawar kemarahan adalah sifat welas asih. Dengan berwelas asih, kita terpanggil untuk membahagiakan semua makhluk. Kita tidak ingin makhluk lain menderita, apalagi karena kita.

Para Buddha dan Bodhisattwa, dalam bentuk rupang/pratima, senantiasa terlihat tersenyum. Itu dikarenakan Buddha dan Bodhisattwa telah sempurna kesabarannya (Khanti Paramita), sehingga dalam bathin mereka tidak bisa timbul kemarahan lagi.

Jika pun ada hal yang tidak tercapai, kita tak perlu marah. Lebih baik kita mengevaluasi mengapa kita gagal mencapai apa yang kita inginkan. Juga tak perlu menyalahkan orang lain. Kita pelajari sebabnya dan kita harus perbaiki di masa mendatang. Dengan demikian, keberhasilan ataup pun kegagalan, dapat menjadi berkah bagi kita semua.

Saat ini, banyak yang tak bisa mengendalikan dirinya sehingga kemarahan mirip seperti pencuri atau tamu tak diundang. Begitu lengah ia datang. Padahal dari sisi kesehatan, kemarahan juga berdampak bagi daya tahan fisik kita. Riset sering mengingatkan bahwa orang yang terlalu sering marah sangat potensial terkena penyakit jantung yang mematikan. Jika sudah sakit, maka akan menjadi susah untuk mewujudkan cita-cita kita. Rugi bukan?

Untuk itu, sebagai siswa Buddha, kita harus berlatih untuk meredakan kemarahan. Jangan biarkan kemarahan menyiksa kehidupan kita. Kemarahan hanya merugikan diri kita dan orang lain yang terkena imbas kemarahan kita.

Semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu...Sadhu...Sadhu...
(Penulis adalah Dharmaduta dan Pengurus Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi Sumut/l) 


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Tabrak Pagar Mako Polres Seorang Perampok Mobil Ditembak di Stabat
Polres Binjai Musnahkan 6,5 Kg Ganja dan 18 Gram Sabu
Timur Tumanggor Camat Percut Seituan yang Baru
Tangkap Ikan di Perairan Indonesia, Warga Thailand Dituntut Bayar Denda Rp200 Juta
Berkas Partai Perindo Lengkap, Kader Diminta Terus Konsolidasi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU