Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Mencapai Nibbana
* Oleh : Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo
Sabtu, 18 Maret 2017 | 20:05:58
Kita diberikan kemampuan yang memadai mencapai Nibbana. Nibbana bukan suatu tempat ataupun semacam surga tempat saat kita wafat berada. Nibbana adalah suatu keadaan yang bergantung pada diri kita sendiri. Nibbana merupakan suatu keadaan di atas keduniawian (lokuttara) yang dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini juga. Nibbana merupakan suatu pencapaian (Dhamma) yang berada dalam jangkauan semua orang. Agama Buddha tidak mengajarkan bahwa tujuan akhir ini hanya dapat dicapai dalam kehidupan di alam lain.

Sebagian di antara kita juga terjebak seolah Nibbana ditafsirkan sebagai suatu kekosongan atau kemusnahan. Hal ini dikarenakan kita tidak pernah dapat memahami Nibbana hanya dengan pengertian duniawi kita, sama halnya  seperti perumpamaan sebuah cerita tentang seekor ikan yang berdebat dengan sahabatnya seekor penyu, dimana atas ketidaktahuannya sang ikan dengan bangga menyatakan bahwa tidak ada daratan. Begitu pula kita tidak dapat menggambarkan warna hijau kepada orang buta karena mereka tak dapat melihatnya. Dari sudut pandangan metafisik, Nibbana merupakan kebebasan dari penderitaan. Dari sudut pandangan psikologis, Nibbana adalah penghancuran egoisme. Dari sudut pandangan etika, Nibbana adalah penghancuran keserakahan, kebencian dan kebodohan.

Dalam konsep Buddhis, Nibbana tidak hanya dapat dicapai pada kehidupan setelah kematian. Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini, sewaktu kita masih hidup, yang disebut sebagai Sa-upadisesa Nibbanadhatu. Dan juga saat wafatnya seorang Arahat, yang telah berhasil mematahkan semua sepuluh belenggu dan sepenuhnya tercerahkan serta telah membebaskan diri dari kelahiran kembali dan mencapai Nibbana, maka setelah kehancuran tubuhnya atau tanpa adanya sisa kehidupan fisik, Nibbana yang dicapainya disebut Anupadisesa Nibbanadhatu.

Jalan menuju ke Nibbana adalah jalan tengah (Majjima Patipada) dengan menghindari penyiksaan diri ekstrim yang akan melemahkan kecerdasan dan ekstrim pengumbaran nafsu yang menghalangi kemajuan moral. Pencapaian Nibbana tidak diperoleh dengan seketika atau sepenuhnya. Untuk kebanyakan orang, hal itu dialami secara bertahap. Kita mungkin tidak mencapai pencerahan secara langsung tetapi memungkinkan bagi kita untuk mencapai suatu tingkatan dimana perolehan Nibbana telah terjamin.

Setiap insan mendapat kesempatan besar terlahir sebagai manusia yang memiliki kemampuan yang lebih baik dalam berjuang untuk mencapai Nibbana setidaknya pemasuk arus. Hal ini berada di alam jangkauan semua umat Buddha yang tulus, apakah mereka bhikkhu, bhikkhuni atau umat awam, yang menerima dan memiliki keyakinan pada Dhamma dan hidup sesuai dengan Jalan Berunsur Delapan. Dengan tekad bulat dan ketulusan hati, hal ini dapat diraih di kehidupan sekarang. Pencapaian Nibbana dengan demikian berserah pada waktu saja.

Jalan Berunsur Delapan dalam mencapai Nibbana yang dimaksud adalah Pengertian benar, Pikiran benar, Ucapan benar, Perbuatan benar, Penghidupan benar, Usaha benar, Perhatian benar, Konsentrasi benar yang terbagi dalam tiga kelompok besar yakni Sila (kesucian pikiran, ucapan, dan perbuatan), Samadhi (kesadaran/batin yang bebas dari kekotoran-kekotoran) dan Panna (melihat segala sesuatunya dalam kewajaran dari anicca, dukkha, dan anatta). Keberhasilan menjalankan Sila (kesucian moral), seseorang akan dapat mengendalikan tanha (keterikatan/ belenggu).  Lebih jauh keberhasilan Samadhi (kesucian batin) dapat melemahkan kekuatan tanha. Dan terutama pencapaian Panna (kesucian pandangan) akan melenyapkan tanha.

Dalam Manggala Sutta, tersebut jelas mencapai Nibbana merupakan berkah tinggi yang mampu memberikan kebahagian. Seseorang yang mencapai Nibbana akan merasakan kenikmatan, kebahagiaan, dan ketenangan yang tak terbandingkan. Bahkan mampu mengembangkan kesenangan pada keadaan batin yang penuh kebahagiaan. Setelah itu, dirinya juga mampu segera memiliki kesadaran bahwa perkembangan baru akan menjadi rintangan pada kemajuan moral, sehingga dirinya lebih jauh mampu mengembangkan kejelasan pengetahuan berkenaan dengan sang jalan dan bukan jalan. (d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jordan/Debby tembus semifinal Australia Terbuka
Benzema Ingin Terus Raih Gelar di Madrid
Marquez Bertekad Kompetitif Sejak Sesi Latihan Bebas
Lionel Messi Batal Dipenjara, Hanya Denda Rp3,34 M
Liverpool Sudah Lapar Gelar Juara
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU