Home  / 
PN Medan Gelar Sidang Kasus Dugaan Pencurian Frekuensi Radio 99,5 FM
* Saksi Ahli Sebut Izin Penggunaan Frekuensi 99,5 FM Terbit Juni 2017 untuk PT Radio Kardopa
Selasa, 17 April 2018 | 15:50:41
Medan (SIB)- Pengadilan Negeri (PN) Medan menggelar sidang kasus dugaan pencurian frekuensi radio di gelombang frekuensi 99,5 FM dengan terdakwa Alexander Laurentius Dacosta, Senin (16/4).

Ketua majelis hakim yang menyidangkan perkara tersebut Erintuah Damanik kepada SIB mengatakan, sidang itu beragendakan mendengar keterangan saksi pelapor yakni Tiorida Simanjuntak, pemilik Radio Kardopa FM.

Dalam keterangan Tiorida, Erintuah mengatakan saksi tersebut menceritakan soal awal mula penggunaan frekuensi 99,5 FM. "Intinya pembahasannya adalah penggunaan frekuensi 99,5 FM. Sidangnya dilaksanakan di ruang Cakra Utama," ucap Erintuah singkat.

Sementara JPU Septebrina Silaban dari Kejatisu mengatakan, sidangnya dilaksanakan pada pukul 16.30 WIB hingga 17.30 WIB. Dalam sidang itu Tiorida menjelaskan soal permohonan perubahan frekuensi dari AM ke FM. "Tadi saksi Tiorida menjelaskan soal permohonan yang ia layangkan ke Balai Monitoring di bawah Kementerian Kominfo RI," ucapnya.

Selain itu, lanjut Septebrina, di persidangan tersebut majelis hakim memertanyakan alasan saksi Tiorida datang ke pengadilan. "Lalu dijawab Tiorida, dia ada melapor ke Poldasu terkait dugaan pencurian frekuensi. Lalu hakim menanya, siapa yang dia laporkan, ternyata tidak ada nama terlapor yang dia laporkan ke Poldasu. Lalu hakim nanya apa kerugian saksi Tiorida, saksi mengaku ia mengalami kerugian materil seperti kerugian iklan, kerugian penggunaan listrik yang ia gunakan menjalankan Radio Kardopa," jelas JPU Septebrina.

Selain itu, lanjut JPU Septebrina, selain saksi Tiorida, dirinya juga menghadirkan saksi ahli dari Balai Monitoring Klas II Medan-Tuntungan di bawah Kominfo RI bernama Purwanto Simamora. "Tadi keterangan Purwanto menjelaskan bahwa Tiorida atasnama PT Radio Kardopa sudah mengajukan permohonan penggunaan frekuensi 99,5 FM sejak 2010. Namun baru 5 Juni 2017 dikeluarkan izin tersebut. Izin tersebut dijelaskan bahwa yang berhak menggunakan frekuensi 99,5 FM adalah PT Radio Kardopa," jelasnya.

Sementara atas penjelasan saksi Tiorida Simanjuntak dan ahli Purwanto, JPU Septebrina mengatakan terdakwa Lawrencius menolak seluruh keterangan saksi Tiorida. "Dia (terdakwa) bersama kuasa hukumnya menolak seluruh keterangan saksi Tiorida. Namun ketika ia menjelaskan apa-apa saja yang ia tolak dari keterangan Tiorida dipersidangan, hakim Erintuah mengatakan keterangan Lawrencius itu nanti saja didengar ketika jadwal agenda sidang keterangan mendengar keterangan terdakwa," ucapnya.

Usai mendengar keterangan saksi, sidang tersebut ditunda pada pekan depan. Sebelumnya sidang sudah berlangsung 3 kali. Namun untuk saksi Tiorida baru bisa hadir pada sidang di hari Senin (16/4). Sementara pada sidang sebelumnya, JPU Septebrina mengatakan Tiorida tidak hadir lantaran sedang berada di luar negeri. "Dia (Tiorida) baru pulang dari Yerusalem. Makanya hari ini dia bisa datang ke persidangan untuk didengar keterangannya," ucapnya.

Dalam kasus ini, JPU menjerat terdakwa dengan pasal berlapis yakni Pasal 47 jo Pasal 53 UU No 36 Tahun 1999 tentang telekomunikasi dan pasal 58 huruf b UU No 32 tahun 2002 tentang penyiaran dengan ancaman hukuman empat tahun penjara dan denda Rp 400 juta. (A14/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Gubsu: Ulama sebagai Tempat Mengadu
Wakil Dubes AS Bahas Persoalan Perempuan dan Anak, Termasuk Investasi di Sumut
Menlu Retno Resmikan Gedung KJRI di Chicago
KPU RI Tetapkan Komisioner KPU Sumut Periode 2018-2023
JK Pimpin Delegasi Indonesia di Sidang Umum ke-73 PBB
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU