Home  / 
Penggunaan Antibiotik Relatif Tinggi
GP Farmasi: Antibiotik Perlu Dikontrol
Rabu, 14 Februari 2018 | 16:24:05
Medan (SIB) -Antibiotik memang memiliki posisi yang sangat penting dalam dunia kesehatan. Sebab selama ini, antibiotik dinilai sangat manjur dalam menyembuhkan berbagai kasus infeksi. Namun, belakangan ini penggunaan antibiotik yang relatif tinggi justru menimbulkan permasalahan, terutama resistensi bakteri. Sehingga banyak pihak yang kini mulai mengevaluasi penggunaannya, bahkan pernah ada wacana agar antibiotik tidak lagi dijual secara bebas.

Menanggapi ini, Ketua Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Sumatera Utara (Sumut) Amin Wijaya mengatakan, di negara tropis seperti Indonesia, kuman dan bakteri jumlahnya cukup banyak. Karenanya penyakit diare dan infeksi sangat mungkin untuk menyerang siapa saja.

"Sehingga kalau nggak ada antibiotik gimana? Jadi antibiotik ini sebetulnya hanya perlu untuk di kontrol saja," kata Amin Wijaya, Selasa (13/2).

Sebab pada dasarnya, lanjut Amin, setiap obat memang tidak boleh diperjualbelikan secara bebas. Namun, seiring kemajuan pengetahuan, banyak masyarakat yang kini telah memahami manfaat dan fungsi dari penggunaan obat bagi dirinya.

"Selain itu di apotek kan tentu ada apotekernya, sehingga walau apoteker bisa memberi, kan tetap ada aturannya," tuturnya.

Namun jelas Amin, yang menjadi masalah adalah, apabila meminum antibiotik sesuai dengan dosisnya. Tentunya bila meminum antibiotik sesuai dosis, resistensi bakteri tidak akan terjadi.

"Apoteker dan dokter kan ngerti, sehingga akan memberi tahu. Jadi yang terjadi resistensi itu hanya bila meminumnya tidak sesuai aturan," jelasnya.
Begitupun, sambung Amin, dirinya belum pernah mendengar ada kasus orang yang meninggal dunia akibat mengkonsumsi antibiotik. Apalagi memang, kata dia, tidak semua penyakit butuh antibiotik untuk sembuh.

"Yang penting, tahu pakainya. Kalau disalahgunakan, memang namanya obat bisa menjadi racun. Jadi harus terkontrol dengan orang yang paham, dan semua ada aturannya," pungkasnya.

Dalam catatan, Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr Hari Paraton, SpOG (K) pernah mengatakan, penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan tidak sesuai indikasi, jenis, dosis dan lamanya, serta kurangnya kepatuhan merupakan penyebab resistensi tersebut. Penyebab banyaknya kasus resistensi antibiotik, salah satunya dipicu oleh mudahnya masyarakat membeli antibiotik tanpa resep dokter, baik di apotik, kios atau warung.

"Seharusnya, antibiotik tidak dijual bebas dan harus berdasarkan resep dokter. Menyimpan antibiotik di rumah merupakan kebiasaan yang banyak dijumpai di masyarakat. Padahal ini dapat mendorong terjadinya resistensi antibiotik," ungkapnya.

Sedangkan menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2014 terdapat 480.000 kasus Multi Drug Resisten Tubercolosis (MDR-TB) di dunia yang 70.000 kematian pertahunnya akibat bakteri resisten.

Selain itu, berdasarkan laporan the Review on Antimicrobial Resistance (AMR) memperkirakan, jika tidak ada tindakan global yang efektif, AMR akan membunuh 10 juta jiwa di seluruh dunia setiap tahun pada 2050. Angka tersebut melebihi kematian akibat kanker, yakni 8,2 juta jiwa pertahun dan bisa menyebabkan kerugian global mencapai US$ 100 triliun. (A17/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bacaleg DPRD SU Jan Rismen Saragih Suarakan Pemekaran Kabupaten Simalungun
Kapolres Tes Urine Mendadak Personil Satres Narkoba Polres Simalungun
Partai Golkar Simalungun Gelar Rapat Koordinasi Atur Strategi Perolehan Suara di Pileg dan Pilpres 2019
Seratusan Pengemudi Angkutan Online Unjukrasa ke Kantor DPRD P Siantar
Kelompok Tani di Sumut Dapat Bantuan Hibah Sapi dan Kambing
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU