Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
1 dari 100 Bayi Lahir dengan Jantung Bocor
Ibu Pecandu Narkoba dan Penderita Diabetes Berisiko Lahirkan Bayi Bocor Jantung
Rabu, 15 November 2017 | 14:51:10
Medan (SIB)- Kasus kelahiran bayi mengalami jantung bocor di Indonesia terdapat satu dari 100 bayi. Jenis yang paling banyak ditemukan adalah Ventricular Septal Defect (VSD), yakni kebocoran pada bilik jantung. Kasus ini merupakan kelainan bawaan yang paling sering terjadi dan memiliki banyak variasi, mulai dari sangat ringan sampai berat, sehingga memerlukan penanganan yang segera untuk menyelamatkan nyawa bayi.

"Jantung bocor merupakan istilah awam yang sering digunakan untuk seluruh jenis penyakit jantung bawaan. Di sini, dokter umum dan dokter spesialis anak yang bertugas di lini terdepan pelayanan kesehatan harus mengetahui manifestasi klinis jantung bocor ini," kata dokter spesialis penyakit anak dr Rizky Adriansyah SpA kepada wartawan di Medan, Senin (13/11).

Rizky mengatakan, hingga saat ini tidak diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab jantung bocor. Namun, tutur dia, ada beberapa faktor risiko yang memengaruhi di antaranya ibu hamil yang kecanduan Narkoba, menderita diabetes, mengalami infeksi rubela, mengkonsumsi obat-obatan tertentu yang bersifat teratogenik.

"Tidak hanya itu, pengguna kontrasepsi tidak tepat, bayi lahir prematur dan dengan kelainan bawaan yang berat seperti syndrome down juga menjadi faktor risiko jantung bocor," jelasnya.

Karenanya, menurut Rizky, orangtua diharapkan mampu mengenali gejala jantung bocor yang dapat terjadi pada anaknya. Gejala yang paling sering ditemukan adalah tampak biru pada lidah, mulut, serta ujung-ujung jari tangan dan kaki.

Gejala lain yang juga sering ditemukan, lanjut dia, ialah sesak napas, dengan atau tanpa disertai kebiruan pada lidah, mulut, dan ujung-ujung jari. Sesak napas karena jantung bocor biasanya berhubungan dengan aktivitas, seperti bayi akan bernapas lebih cepat saat disusui atau minum susu terputus-putus, anak tampak lebih mudah lelah saat bermain, lalu anak mungkin mengambil posisi jongkok setelah hanya berjalan beberapa meter saja.

"Gejala yang mungkin berhubungan dengan jantung bocor adalah batuk kronik berulang, berat badan tidak sesuai usia atau pada remaja mengalami nyeri dada dan jantung berdebar. Tidak jarang anak dinyatakan penyakit lain karena keterbatasan fasilitas untuk menegakkan diagnosis jantung bocor ini," jelasnya.

Rizky menyebutkan, dalam menegakkan diagnosis pasti diperlukan ekokardiografi. Sedangkan alat ini hanya tersedia di rumah sakit rujukan dan jumlah dokter subspesialis jantung anak juga masih sangat terbatas, khususnya di Sumatera Utara. "Sejak 2012 sampai saat ini, RSUP H Adam Malik telah menangani jantung bocor tanpa operasi lebih dari 150 kasus," sebutnya.

Terkait pengobatan herbal, menurutnya, sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan itu. Pada beberapa kasus ringan, memang jantung bocor dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan apapun (penutupan spontan). Namun pada sebagian besar kasus masih tetap memerlukan pengobatan, baik dengan obat-obatan, penanganan jantung tanpa operasi, maupun dengan operasi.

"Banyak iklan yang kita temukan melalui media online yang menyatakan jantung bocor dapat disembuhkan dengan obat herbal. Informasi salah kaprah tersebut sudah banyak menyesatkan masyarakat," pungkasnya. (A17/c)



Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Kepala LAN RI Dr Adi Suryanto MSi : PP No 11/2017, Membawa Transformasi Baru Terhadap Tata Kelola ASN
Lemhannas Minta Pemerintah Perluas Kewenangan UKP Pancasila
Benny Pasaribu: Untuk Memenuhi KEJ, Wartawan Indonesia Perlu Memahami Norma Keagamaan
Gubsu Ajak Semua Elemen Dukung Pelestarian Hutan Tropis
Dalang Pembunuh Massal Top AS Charles Manson Meninggal
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU