Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Medan Terus Dihantui Banjir Akibat Debit Air Tak Sebanding dengan Inlet Drainase
* Janji BWSS II Bangun Jalan Inspeksi Sungai Belum Terealisasi
Rabu, 15 November 2017 | 14:22:21
Medan (SIB)- Kalangan praktisi jasa konstruksi dan aktivis lingkungan hidup di daerah ini menilai Kota Medan masih akan tetap terancam dan dihantui serangan atau genangan banjir walaupun proyek drainase kota terus dikerjakan setiap tahun. Pasalnya, proyek itu tidak dibarengi tindak adaptasi debit air dengan liang-liang pemasukan arus air (inlet) pada objek drainasenya.

Pemerhati infrastruktur kota, Jhon Tulus Sitompul SSos dan Robert Sianipar SP serta aktivis lingkungan hidup Ir Jonathan Ikuten Tarigan dari Dewan Pakar Geologi Indonesia (DP IAGI), secara terpisah menyebutkan, kondisi objek drainase yang dikerjakan selama ini melulu hanya bersifat pengorekan atau pengerukan lumpur dengan bongkar-pasang tembok selokan-selokan yang kembali ke posisi semula.

"Pekerjaan drainase kota terbukti tak lagi menjamin berkurangnya banjir, karena selokan-selokan yang walaupun tampak diperdalam dan diperlebar, justru tidak dibarengi dengan pengadaan liang-liang alir atau inlet, sehingga mayoritas arus air justru terlebih dahulu meluap ke badan jalan dan menggenangi rumah warga. Kalau begini terus, kota Medan akan terus diancam banjir, karena volume inlet-inlet tak sebanding dengan volume arus air pada saat hujan atau serangan banjir arus kiriman," ujar mereka kepada pers di Medan, Minggu (12/11).

Soalnya, ujar mereka, mayoritas objek drainase di kota ini ternyata tak kelihatan sebagai selokan saluran primer atau sekunder, karena langsung ditutupi dengan cor semen sehingga menjadi trotoar yang difungsikan sebagai lahan-lahan parkir kendaraan, halaman kantor atau toko dan sebagainya.
Harusnya kata mereka, drainase atau selokan-selokan itu harus terbuka atau minimal ditutupi dengan semacam terali atau jerejak. Selain akan bebas dan cepat dimasuki air setiap hujan, juga untuk memermudah pembersihan sampah sewaktu-waktu.

Selain faktor minimnya volume inlet-inlet tersebut, ancaman banjir di Kota Medan juga karena kontrol dan kendali arus sungai juga belum optimal, antara lain melalui program inspeksi sungai atau membangun halte cegah banjir di sekitar Medan, oleh pihak Direktorat Sumber Daya Air (DSDA) di Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS)-II Kementerian PUPR, pada Maret lalu, yang hingga kini ternyata belum juga terealisasi.

"Untuk cegah dan kendali banjir di Medan, pembuatan jalan inspeksi dan halte cegah banjir oleh BWSS-II itu katanya akan berfungsi sebagai sarana pengawasan fungsi dan pemeriksaan kondisi sungai, agar sungai-sungai tertata sebagai sarana angkutan alur dan transportasi sungai, sarana kendali banjir dan juga sebagai objek wisata yang berbasis lingkungan hidup mulai dari kawasan hulu, lintas tengah (kota) hingga ke hilir (laut). Tapi belum tampak hasilnya di mana dan bagaimana," kata Tarigan. (A04/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Kepala LAN RI Dr Adi Suryanto MSi : PP No 11/2017, Membawa Transformasi Baru Terhadap Tata Kelola ASN
Lemhannas Minta Pemerintah Perluas Kewenangan UKP Pancasila
Benny Pasaribu: Untuk Memenuhi KEJ, Wartawan Indonesia Perlu Memahami Norma Keagamaan
Gubsu Ajak Semua Elemen Dukung Pelestarian Hutan Tropis
Dalang Pembunuh Massal Top AS Charles Manson Meninggal
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU