Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Tarif Tol di Sumut Dinilai Terlalu Mahal
Kamis, 9 November 2017 | 10:59:58
Defriaty Tamba
Medan (SIB) -Kalangan DPRD Sumut menilai tarif tol di Sumut terlalu mahal dan dikeluhkan masyarakat pengguna jalan tol tersebut, terutama tarif tol Kuala Namu-Sei Rampah Serdangbedagai (Sergai) sebesar Rp41.000, sehingga pemerintah perlu mempertimbangkan kembali.

Penilaian ini dinyatakan anggota Komisi A DPRD Sumut Brilian Moktar SE MM dan Astrayudha Bangun kepada wartawan, Rabu (8/11) di ruang Komisi A gedung DPRD Sumut Jalan Imam Bonjol Medan.

Dikatakan Brilian Moktar, masalah tarif tol di Sumut yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo terlalu tinggi, yaitu Kualanamu-Lubukpakam golongan I Rp 11.500, Kualanamu-Perbaungan Rp24.000, Kualanamu-Teluk Mengkudu Rp33.000 dan Kuala Namu-Sei Rampah Rp41.000. Tarif tersebut mulai dikeluhkan masyarakat pengguna jalur tol tersebut, karena terlalu mahal untuk jarak tempuh 42 km dari Kuala Namu-Sei Rampah. Sedangkan tarif tol di Jakarta dengan membayar Rp25.000 pengguna jalan tol sudah bisa keliling Jakarta.

"Kita minta pemerintah mempertimbangkan kembali, jangan sampai tarif tol di Sumut termahal di Indonesia," ujar Brilian Moktar seraya minta Gubsu menyampaikan keluhan tentang mahalnya tarif tol di Sumut ke pihak Jasa Marga.

Selain masalah tarif, Brilian Moktar juga minta masalah keamanan jalan tol yang baru ditingkatkan, karena sepanjang jalan tol dari Tanjung Morawa hingga Sei Rampah tidak ada lampu jalan, membuat jalan tol menjadi sangat gelap. Kondisi yang sama tidak hanya menuju Sergai, tapi juga tol dari Helvetia- Binjai tidak memiliki fasilitas penerangan jalan yang memadai.

"Kalau malam jalan tol itu gelap, sehingga rawan dan menimbulkan niat orang untuk merampok. Kalau memang tidak sanggup menyediakan lampu jalan untuk malam hari lebih baik ditutup saja malam, siang saja dibuka. Dari pada membahayakan pengguna jalan. Tidak adanya lampu, masyarakat juga jadi tidak mau menggunakan jalan tol, karena berbahaya," tambah politisi PDI-Perjuangan ini.

Hal serupa juga dinyatakan Astrayudha, karena jika lampu jalan belum bisa difasilitasi oleh pihak Jasa Marga, konsekuensinya harus ada petugas patroli yang mengawasi keamanan di sepanjang jalan tol. "Konsekuensinya harus ada petugas yang berpatroli di sepanjang jalan tol tersebut. siapkan petugas keamanan di sepanjang jalan yang tidak memiliki lampu tersebut. Lampu jalan itu menjadi tanggung jawab pengelola jalan tol," ungkapnya.

Kedua anggota dewan ini juga mengapresiasi kinerja Polres Sergai yang telah menangkap pelaku pelemparan batu di jalan tol baru-baru ini. Pelemparan batu tersebut sempat menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna tol.

"Meski pelaku sudah tertangkap, polisi jangan sampai lengah. Perlu juga dilibatkan masyarakat untuk saling membantu petugas Polsek menjaga fasilitas milik bersama tersebut. Jangan sampai ada oknum yang membuat ketidaknyamanan, nama warga di sana menjadi jelek dan tercemar," tambah Brilian Moktar.

Terlalu Mahal
Wakil Ketua DPRD Serdang Bedagai (Sergai) Defriaty Tamba  juga meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta PT Jasa Marga mengkaji ulang tarif jalan Tol Sei Rampah-Kualanamu (Medan) yang dinilai terlalu tinggi.

"Untuk kendaraan kelas I saja, tol Sei Rampah-Kualanamu (Medan) sepanjang 41 km tarifnya Rp 41 ribu atau sekira Rp 1000 / km. Harga ini terlalu mahal, sehingga menyulitkan bagi masyarakat pengguna jalan tol," ungkapnya kepada SIB, Rabu (8/11), di ruang kerjanya di DPRD Sergai.

Politisi asal Partai Hanura ini berharap, agar tarif tol itu dibuat secara wajar. "Jika dibandingkan dengan tarif tol Belawan-Medan-Tanjung Morawa (Belmera) sepanjang 34 km yang tarifnya hanya Rp 7000, tarif tol Sei Rampah-Kualanamu jelas terlalu tinggi. Kondisi ini dikhawatirkan bisa membuat pengendara enggan menggunakan jalan tol tersebut dan lebih memilih jalan umum kendati harus lebih lambat," katanya.

Ketua DPD Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Sumut ini mengapresiasi pemerintah dalam upaya memperlancar arus lalu lintas yang secara otomatis juga mendukung perkembangan wilayah dan peningkatan perekonomian masyarakat. Namun, dalam hal ini pemerintah juga harus mengkaji lebih dalam tarif idealnya yang disesuaikan dengan kemampuan pengguna jasa tol, agar keberadaan jalan tol ini banyak yang menggunakan sehingga benar-benar bermanfaat.

Sementara itu, sejumlah pengendara kepada SIB mengaku masih enggan menggunakan jalan tol Sei Rampah-Kualanamu karena tarifnya yang terlalu mahal.
Mereka lebih memilih jalan umum ketimbang melalui jalur bebas hambatan tersebut. Akibatnya, kondisi Jalinsum Sergai masih kerap mengalami kemacetan panjang. Kalau dikaji, pulang pergi Medan lewat jalan tol, kita harus mengeluarkan tambahan uang Rp 82 ribu. "Uang sebesar itu bisa beli banyak kebutuhan lain, uang makan maupun tambahan minyak," ungkap Safarudin Pane senada dengan pengendara lainnya saat ditemui di Sei Rampah. (A03/C-08/q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Kepala LAN RI Dr Adi Suryanto MSi : PP No 11/2017, Membawa Transformasi Baru Terhadap Tata Kelola ASN
Lemhannas Minta Pemerintah Perluas Kewenangan UKP Pancasila
Benny Pasaribu: Untuk Memenuhi KEJ, Wartawan Indonesia Perlu Memahami Norma Keagamaan
Gubsu Ajak Semua Elemen Dukung Pelestarian Hutan Tropis
Dalang Pembunuh Massal Top AS Charles Manson Meninggal
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU