Hotel Tapian Nauli
Home  / 
SBY Memulai, Jokowi Melanjutkan, Pemprovsu Mendukung, Rakyat Menikmati Pembangunan
* Tahan M Panggabean: Jalan Tol Medan-Tebingtinggi, Wujud Kesinambungan Pembangunan
Senin, 19 Juni 2017 | 13:28:10
Drs Tahan M Panggabean MM
Medan (SIB) -Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Sumut Drs Tahan M Panggabean MM menyebutkan, keberadaan Tol Medan - Kualanamu - Tebingtinggi serta pembangunan infrastruktur lainnya di Sumut, merupakan wujud dari berhasilnya kesinambungan pembangunan yang dilakoni dengan baik oleh dua era pemerintahan terakhir ini yakni semasa pemerintahan SBY hingga Presiden Jokowi.

"Masyarakat segera menikmati hasil kerja keras pemerintah selama ini,  beberapa proyek besar infrastruktur di beberapa daerah di Indonesia, termasuk di Sumut, akan segera beroperasi. Contoh, Jalan Tol Medan - Binjai dan Jalan Tol Medan - Kualanamu - Tebingtinggi, yang sudah dimulai di era SBY dan pembangunannya diteruskan dan rampung pada masa pemerintahan Jokowi, berkat dukungan Pemprovsu," kata Tahan Panggabean kepada wartawan, Kamis (15/6) di Medan.

Selain itu, katanya, sebelumnya juga sudah ada proyek peningkatan status Bandara Silangit, Bandara Kualanamu (KNIA), Kawasan Ekonomi Khusus Sesi Mangke, dan lain-lain, yang semuanya ada dalam MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang tertuang dalam Perpres RI No 32/2011. "Intinya, pembangunan ini,  SBY memulai, Jokowi melanjutkan, rakyat menikmati," sambung Tahan

Tahan sangat mengapresiasi niat baik Presiden Jokowi yang dengan kebesaran hati melanjutkan apa yang sudah dimulai pendahulunya. "Ini tentunya butuh keberanian besar, dimana selama ini ada kesan, pemerintahan berkuasa alergi untuk meneruskan apa yang dimulai pendahulunya," sebutnya.

Tahan pun mengingatkan, bagaimana Jembatan Suramadu di Jawa Timur, yang dimulai sejak Era Megawati, kemudian diteruskan hingga tuntas di Era SBY.
"Semoga ke depan, cara seperti ini akan selalu dilakukan, sehingga ada kesinambungan pembangunan dan hasilnya semakin nyata dirasakan masyarakat," katanya.

Dikatakannya, dengan pengoperasian jalan tol tersebut, tentu akan banyak manfaat bagi masyarakat, antara lain, jarak tempuh semakin singkat, yang berpengaruh pada efisiensi dan peningkatakan ekonomi. "Kita harapkan pemerintah juga segera merealisasikan Jalan Tol Tebingtinggi-Parapat dan sampai ke Pantai Barat," katanya.

Sementara bagi masyarakat pengguna, Tahan berpesan agar tetap berhati-hati, mengingat jalan tol tersebut belum 100 persen rampung. "Rambu jalan belum terpasang semua. Penerangan juga belum maksimal. Jadi mari kita nikmati hasil pembangunan ini tapi tetap berhati-hati," katanya.

Pada kesempatan itu, Tahan menyoroti kuantitas jalan tol, baik dari jumlah proyek maupun panjang jalan antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa, yang menurut dia, masih sangat timpang.

"Berdasarkan data Kementerian PU (Pekerjaan Umum) dan Perumahan Rakyat, sepanjang tahun 2017 akan ada 392 Km jalan tol yang bakal beroperasi, di luar 176 Km yang sudah beroperasi. Kalau dihitung, panjang jalan tol di Pulau Sumatera yang bertambah kurang lebih 93 Km. Masih terasa jauh dibanding Pulau Jawa yang mencapai 470 km lebih. Hanya sekitar 16,5 persen dibanding Pulau Jawa yang 83,5 persen," katanya sembari berharap  agar ke depan pemerintah bisa lebih fokus lagi ke luar Pulau Jawa," sambung Tahan.

Otorita Danau Toba
Selain itu, Tahan juga mengingatkan keberadaan BPODT (Badan Pengelola Otorita Danau Toba), yang pembentukannya sudah memberikan "angin segar", agar didukung oleh masyarakat di seputaran Danau Toba.

"Sejauh ini BPODT sudah terus bekerja, termasuk di antaranya peningkatan Bandara Silangit menjadi bandara internasional bulan September ini. Lalu bagaimana dengan kesiapan kita sebagai masyarakat? Sudah siap mental kah kita?" katanya.

Dengan akan dijadikannya Bandara Silangit berstatus internasional, maka wisatawan mancanegara akan semakin mudah datang ke Danau Toba. Untuk itu, mari  tunjukkan budaya tradisional  dengan cara modern.

"Pimpinan daerah pun harus memberikan pembinaan, bagaimana agar masyarakat bisa menunjukkan sikap budaya global, sehingga wisatawan betah dan berharap bisa datang kembali. Jangan lagi ada istilah 'parsahalian' karena turis merasa takut datang kembali akibat merasa tertipu, intimidasi, sikap tak bersahabat, dan lainnya," tutup Tahan. (A03/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sejak Indonesia Merdeka, Jalan Huta Gulping Simalungun Tidak Pernah Diaspal
Warga Nagori Pondok Buluh Audiensi dengan Plt Pangulu, Pertanyakan DD 2017
Dirjen Imigrasi Keluarkan Layanan Antrian Paspor Secara Online
Kapoldasu Hadiri Perayaan Natal Raja Sonang se-Dunia di Pematangsiantar
Pemkab Simalungun Bangun Jalan Menuju Nagori Pinang Ratus
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU