Home  / 
Lahan Persawahan di Bulu Duri Dairi Beralih Fungsi
Sabtu, 10 November 2018 | 00:12:45
SIB/Edison P Malau
BERALIH FUNGSI: Hamparan persawahan yang terkenal dengan nama sawah Bulu Duri dengan tanaman padi sawah, di Kecamatan Siempat Nempu dan Kecamatan Lae Parira Dairi kini beralih fungsi dengan tanaman jagung. Selain karena pengerjaan pembangunan irigasi, peralihan tersebut juga ditengarai karena menurunnya debit air.
Lae Parira (SIB)- Semakin tahun debit air yang mengairi ratusan hektare persawahan Bulu Duri, Kecamatan Lae Parira, Kabupaten Dairi semakin menurun, sehingga petani mengalihkan fungsinya dengan menanam jagung, cabai dan lainnya. Kondisi ini semakin parah pada musim tanam tahun 2016 lalu. Silaban dan warga Siempung lainnya kepada SIB, Kamis (8/11) menyebutkan, petani juga sudah ada menanam pisang dan kakao, akibat keterbatasan air.

"Kekurangan air sudah terjadi sejak 3 tahun terakhir. Sehingga warga mengalihkan fungsi dengan menanam jagung. Selain pengerjaan penanaman jagung yang jauh lebih mudah dari padi, harga jagung saat ini sudah menjanjikan," ujar warga.

Terpisah, Kepala Desa Bulu Duri, Senang Silaban kepada wartawan SIB mengakui, penanaman jagung secara serentak saat ini merupakan hasil kesepakatan seluruh petani. Kesepakatan mereka buat, sehubungan dengan adanya pembangunan dan perbaikan pada irigasi.

"Penanaman jagung saat ini merupakan hasil kesepakatan. Direncanakan, November ini irigasi telah dapat berfungsi seperti sebelumnya untuk mengairi lahan persawahan," ujar Silaban.

Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Lae Parira, Swanto Swanto Sitakar kepada wartawan SIB, Kamis (8/11) di ruang kerjanya mengaku telah memiliki rencana penambahan debit air. Menurutnya, pembendungan air Lae Simbolon memiliki tantangan dan harus dipertimbangkan dengan matang.

"Hingga saat ini, sudah banyak irigasi yang mengurangi debit air Lae Simbolon mulai dari hulu. Selain itu, warga dan petani yang sudah menggunakan air itu dan juga harus kita lakukan survey hingga ke hilir. Boleh saja dilakukan pembendungan, sepanjang tidak ada warga dan petani yang kena dampaknya kemudian," urainya.

Sementara kepala Dinas Pertanian Kabupaten Dairi, melalui Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Holtikultura, Siska Tampu Bolon menyebutkan, pihaknya akan melihat kondisi dan lokasi persawahan terlebih dahulu. "Kami akan melihat lokasi dulu, sehingga dapat menawarkan pembangunan embung," ujarnya singkat.

Pantauan SIB di Kecamatan Lae Parira dan Kecamatan Siempat Nempu, petani lebih memilih menanam jagung karena harganya saat ini sudah mencapai Rp 4700, sedangkan gabah padi Rp 6000, perkilogram. (B04/f)



Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Ilmuwan Ingin Menggunakan Laser untuk Memandu Alien ke Bumi
Studi Ungkap Wanita Nigeria Kembangkan Bisnis dengan WhatsApp
Audio High Resolution Picu Peningkatan Speaker Wireless
Mirip Manusia, Robot Berteknologi AI Gantikan News Anchor
BPPT Kurangi Dosis Teknologi Asing untuk Perkapalan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU