Home  / 
Tembok Penahan Tanah Berbiaya Rp 2,9 M yang Ambruk di Parbalogan Diaudit BPK
Jumat, 25 Mei 2018 | 16:12:51
Simalungun (SIB) -Kejari Simalungun melalui Kasi Intel Robinson D Sihombing  SH meminta PPK (pejabat pembuat komitmen) pembangunan tembok penahan tanah berbiaya Rp 2,9 miliar di Nagori Parbalogan Kecamatan Tanah Jawa Simalungun, agar memerintahkan kontraktor membangun kembali tembok penahan tanah yang ambruk lagi, Selasa (22/5). "Perbaikan tersebut sudah berulang-ulang dan hasilnya tetap ambruk dan proyek tersebut dalam tahap pemeliharaan," sebut Robinson kepada SIB, di ruang kerjanya, Kamis (24/5).

Perintah itu disampaikan Kasi Intel tersebut kepada PPK bernama Rizal, melalui telepon selular pada Kamis pagi itu. "Saya sudah hubungi PPK Rizal untuk segera memperbaiki kembali tembok penahan tanah yang sebelumnya sudah pernah ambruk, lalu diperbaiki dan belum sebulan sudah ambruk lagi," sebut Robinson.

Robinson menambahkan, bangunan tembok penahan tanah di Parbalogan sudah menjadi objek audit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) perwakilan Sumatera Utara. LPH (laporan hasil pemeriksaan) BPK diminta agar diserahkan ke Kejari Simalungun melalui TP4D (Tim Pengawal Pengamanan Pemerintah dan Pembangunan Daerah).

"TP4D tinggal menunggu LHP dari BPK, jika ternyata ada temuan kerugian negara diberi waktu 60 hari kepada pihak kontraktor untuk mengembalikan ke kas negara disertai penyerahan tanda bukti  setoran kepada TP4D, jika tidak maka perkara tersebut akan dilanjutkan ke proses hukum," tegas Robinson.

Ditambahkan, pekerjaan tembok penahan tanah di Parbalogan meminta pendampingan dari TP4D setelah progres pekerjaan mencapai 30 persen. Padahal menurutnya, yang terbaik adalah mulai dari tahap perencanaan. TP4D dalam melakukan pendampingan juga melibatkan ahli dari Politeknik Negeri Medan.

Sebagaimana diberitakan, baru selesai diperbaiki, tembok penahan senilai Rp 2,9 miliar bersumber dari dana APBD di Nagori Parbalogan Kecamatan Tanah Jawa Kabupaten Simalungun kembali ambruk, Selasa (22/5) dan bangunan tersebut terkesan belum bermanfaat bagi masyarakat. Seperti penuturan Sutrisno warga Parbalogan kepada SIB, pekerjaan bangunan tembok penahan tamah tersebut terkesan asal jadi dan amburadul itulah sebabnya hancur lagi setelah diperbaiki pada Maret 2018.

Warga tersebut juga sangat menyayangkan kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simalungun dan pemborongnya. "Dengan adanya biaya yang cukup besar yakni Rp 2,9 miliar, seharusnyalah kualitas bangunan akan memuaskan dan bermanfaat bagi masyarakat, tapi yang terjadi justru sudah ambruk berulang kali," ucap Sutrisno. (D02/q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Usulan Pembangunan Tol Medan-Berastagi Dikaji Penganggarannya di APBN 2020
Ratusan ‟Omak-omak‟ dan Mahasiswa Unjuk Rasa di Kantor Bupati Asahan
Megawati ke Kader PDIP: Kalau Ada Serangan, Jangan Lawan
Bawang di Hot Dog Jadi Kontroversi, PM Australia Angkat Bicara
KPK Upayakan Semua Universitas Punya Mata Kuliah Antikorupsi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU