Home  / 
Warga Tidak Nyaman, Kades Sukadamai Rohul Minta Seluruh Kafe dan Usaha Miras Ditutup
Rabu, 25 April 2018 | 11:35:11
SIB/Maruba Habeahan
Kades Sukadamai didampingi Upika Ujungbatu, Prov Riau menyampaikan sambutan dan paparannya dihadapan para pengusaha Kafe dan Miras, Senin, 23-4-2018 di Kantor Desa setempat.
Ujungbatu (SIB) -Sebanyak 83 Kepala Keluarga, warga Dusun III Durian Sebatang Desa Sukadamai Kecamatan Ujungbatu,  Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) menyampaikan keberatan melalui kepala desa, atas maraknya kafe dan usaha Minuman Keras (miras) di wilayah tempat tinggal mereka. Para warga merasa tidak nyaman dan sangat terganggu khususnya anak-anak yang sedang belajar, karena suara musik yang memekakkan telinga itu berlangsung dari malam hingga  dinihari.

Surat yang berisi minta ketegasan Upika Ujungbatu untuk menutupnya dan ditandatangani 83 KK/warga tersebut juga memberi ultimatum, jika Upika karena keterbatasannya tidak dapat melakukan penutupan maka mereka akan melakukan penutupan paksa.

Hal itu disampaikan Kades Sukadamai Mhd Ramtami Rokan MPdI kepada SIB, di ruang kejanya sebelum rapat dimulai dengan para pengusaha yang juga dihadiri para Upika Ujungbatu.

Menindaklanjuti keberatan para warga tersebut, Senin (23/4) di ruang rapat kantor Desa Sukadamai diadakan rapat untuk membahas keresahan warga, yang dipimpin Kades. Hadir, Camat Ujungbatu diwakili staf Trantib, Wakapolsek, Danramil diwakili Staf Babinsa, Kades dan Ketua BPD, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan sejumlah perangkat Desa Sukadamai, serta dua puluhan pengusaha kafe dan Miras yang beroperasi di Durian Sebatang.

Dalam sambutannya Kades menyebutkan, dirinya berinisiatif memanggil semua pihak untuk dapat hadir dalam rapat ini dan tanggapan Upika luar biasa. Harapan kita, Durian Sebatang yang merupakan desa leluhur dan Kampung tertua di Ujungbatu jangan ada lagi sebutan dunia setan. 

Lebih jauh disebutkan Kades, awalnya usaha kafe dan Miras tersebut hanya beberapa usaha namun saat ini sudah tumbuh seperti jamur di musim hujan menjadi 23 usaha. Yang paling fatal adalah ada  rumah ibadah diapit kedai tuak. Oleh karenanya, diminta kesadaran para pemilik usaha menutup sendiri usahanya daripada masyarakat yang bertindak. 

Mewakili Danramil, dalam sambutannya pada intinya menyebutkan, Durian Sebatang saat ini sudah menjadi jalur hitam, dari beberapa pengelola usaha yang ditanyai hampir senada menyebutkan alasannya karena tidak ada pekerjaan lain. Pemilik rata-rata bukan orang Ujungbatu. Selain itu, ada oknum ormas, pemuda yang melakukan kutipan dengan menggunakan kwitansi, yang dibuka usaha ilegal yang mengutip juga ilegal, ungkapnya.

Sedangkan Wakil Kapolsek H IPTU Ali Amran  mengatakan, agar semua pemilik menghentikan aktivitasnya yakni menyediakan minuman keras (miras), seperti tuak, bir dan sejenisnya, serta Pekerja Seks Komersial (PSK) digantikan dengan usaha kuliner. 

Kata sambutan juga disampaikan tokoh masyarakat Desa Sukadamai H Abdul Gafar, yang menyebutkan yang memulai adalah anak-anak Ujungbatu/Durian Sebatang yang merupakan kampung tertua Ujungbatu. Diharapkan agar mereka menutup sendiri usahanya yang ilegal, sebab kalau tidak  warga akan menutupnya.

Demikian juga dari tokoh agama menyebutkan, apa yang disampaikan Kades dan para Upika bukan karena benci, tapi karena sayang. Tidak satu jalan ke roma, untuk itu buatlah usaha  halal.  (G12/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Melamar Wanita yang Sama, 2 Pria Berkelahi di Tempat Umum
Suami Palsukan Kematian, Istri dan Anak Bunuh Diri
Demi Sembuhkan Anak, Orangtua Beli Pulau Rp 2,2 Miliar
Lumpuh Setelah Jatuh dari Ranjang Saat Bercinta
Demi Balas Budi, Seorang Pria Bangun Vila Rp7 Miliar Buat Anjingnya
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU