Home  / 
Diduga Korban Mafia Hukum, Afif Gurning Aksi Tunggal di Depan Istana Negara
* Kabid Humas Poldasu: Tidak Cukup Bukti, Kasusnya Sudah di SP3
Selasa, 20 Maret 2018 | 21:34:41
SIB/Dok
AKSI TUNGGAL : Warga Asahan Afif Gurning, anak kandung H. Ishak M Gurning melakukan aksi tunggal di depan Istana Negara selama 6 hari, mulai 22 Februari - 28 Februari 2018 menuntut keadilan hukum.
Kisaran (SIB)  -Afif Gurning, anak kandung H Ishak M Gurning  seorang PNS di Pemkab Asahan, nekad melakukan unjuk rasa tunggal di depan Istana Negara selama 6 hari, mulai 22 Februari sampai 28 Februari 2018.

Dalam rilis beritanya, Afif mengatakan, keluarganya adalah korban praktik mafia hukum di Polda Sumut. Dia dan ayahnya sudah 4 tahun berjuang mendapatkan penegakan hukum yang berkeadilan di Polda Sumut. Afif dan ayahnya telah melaporkan TGS (Bupati Asahan) yang diduga memalsukan Akta Yayasan Pesantren Modern Daar al Uluum (PMDU) Asahan dan menggelapkan aset-asetnya.Tetapi dalam penanganan kasusnya, Afif menuding telah terjadi praktik mafia hukum yang dilakukan oknum aparat di Polda Sumut, yang bertujuan  melepaskan terlapor dari jerat hukum.

"Laporan pengaduan kami di Polda Sumut atas dugaan korupsi penggelapan aset lahan pemerintah yang dilakukan  TGS, dihentikan penyelidikan dengan cara merekayasa fakta hukum. Selain itu, penyelidik menyimpulkan sendiri tidak ada kerugian keuangan negara tanpa adanya audit dari pihak yang berkompeten seperti BPK atau BPKP,"ungkap Afif, Senin (19/3).

Dijelaskan Afif, laporan pengaduan pemalsuan Akta Yayasan PMDU No 12 Tahun 1995, juga dihentikan Polda Sumut penyidikannya  dengan cara merekayasa penyidikan dan  keterangan saksi ahli dari Kemenkumkam RI. 

Afif menyebut, dua laporan polisi yang berikutnya, terkait penggelapan tanah dan keterangan palsu dalam Laporan Harta Kekayaan Pribadi Nasabah (LHKPN) TGS,  serta laporan polisi terkait keterangan palsu dalam Akta Yayasan PMDU No 7 Tahun 2015, di mana kedua kasus ini juga melibatkan TGS, sampai saat ini sudah dua tahun penyidikannya dibiarkan atau mengambang di Polda Sumut. "Kami sudah mengadukan melalui surat ke Presiden, Kompolnas, Ombudsman, Komnas HAM, Kapolri dan Komisi III DPR,tetapi tidak ada artinya, karena pengaduan itu kembali lagi dilimpahkan ke Polda Sumut dan tidak ada lagi tindak lanjutnya," tambah Afif.

Afif juga mengatakan, ayahnya sudah lanjut usia (75 tahun), sudah renta dan dalam keadaan sakit. "Harus berapa tahun lagi kami menunggu untuk bisa mendapatkan keadilan dan harus berapa lama lagi kami dipermainkan  oknum mafia hukum di Polda Sumut?," tanya Afif.

Akumulasi rasa kecewa dan frustrasi itulah yang membuat dirinya nekad melakukan  unjuk rasa tunggal di depan Istana Negara, agar mendapat perhatian Presiden Jokowi."Penegakan hukum selalu menjadi tumpul ketika berhadapan dengan orang yang mempunyai banyak uang dan punya jaringan dengan kekuasaan,"sebut Afif.

Afif juga mengatakan  keluarganya memang tidak punya uang dan tidak punya relasi yang berpangkat jenderal, tidak seperti apa yang dimiliki TGS. Tapi dia berkeyakinan kebenaran harus terus diperjuangkan, apapun resikonya dan apapun konsekuensinya.

Sementara itu, Kabid Humas Poldasu Kombes Pol Rina Sari Ginting saat dikonfirmasi melalui WhatsApp mengatakan, kasus yang dilaporkan Ishak M Gurning sudah di-SP3-kan. "Dari hasil penyelidikan tidak ditemukan tindak pidana maka kasus tersebut sudah di -SP3-kan sejak Februari 2018,". (E06/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Gelapkan HP Temannya, Pria Ditangkap Kapos Pasar Horas
Polres Asahan Ringkus Jurtul Togel
Diduga Edarkan Sabu, 2 IRT Ditangkap di Rumah Kontrakan
Aniaya Kekasih WN Polandia, Pria Australia Ditangkap
Simpan Sabu, Buruh Harian Lepas Ditangkap Polres Tanjungbalai
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU