Home  / 
Negosiasi Dikabarkan Buntu, Hubungan Korut-AS Mulai Memanas
* Korsel Siapkan Rp3,8 T untuk Bangun Rel dan Jalan di Korut
Jumat, 9 November 2018 | 17:08:36
Washington DC (SIB) -Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut) dikabarkan mulai memanas karena Korut marah. Sumber dari pejabat militer maupun diplomat asing menuturkan, tensi dua negara memanas buntut pembicaraan mereka yang mengalami kebuntuan. Dilaporkan CNN pada Kamis (8/11), buntunya perundingan Korut dan AS disebabkan mereka masih menunggu siapa yang bakal membuat konsesi terlebih dahulu. 

Korut dilaporkan marah setelah Washington menolak untuk mencabut sanksi, ditambah dengan friksi personal antara juru runding kedua negara. Mantan pejabat Central Intelligence Agency (Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat/CIA) Bruce Klingner menyebut ancaman Korut bakal kembali membangun pasukan nuklirnya jika AS tidak mencabut sanksi. 

Korut juga belum menggelar pertemuan dengan Utusan Khusus AS untuk Korut Stephen Biegun karena kedua negara belum sepakat dengan istilah dasar seperti "denuklirisasi". Sementara pejabat Washington berujar Korut kesal karena AS tidak kunjung memberikan penawaran seperti pengurangan sanksi. "Sikap Korut adalah AS harus membuat gerakan sebelum mereka juga memberikan respons lain," kata pejabat anonim tersebut. 

Media Korut KCNA dalam ulasannya pada 2 November menyatakan bahwa Pyongyang sudah memberikan iktikad baik dengan melaksanakan perubahan. "Namun, kami tidak menerima respons seperti yang dibutuhkan. Kami tidak akan bergerak meskipun 1 milimeter sebelum mereka memberi respons," ulas KCNA. Sejumlah pakar menyatakan, segala klaim Korut bahwa mereka telah memulai proses pelucutan senjata nuklirnya tak lebih dari "bermanis-manis mulut". 
Rezim Kim Jong Un menyatakan telah menutup fasilitas uji coba mesin rudal dan menjanjikan bakal menutup fasilitas nuklir Yongbyon. Pejabat AS lain mengemukakan, terdapat prinsip "kami bakal memberikan sedikit jika kalian juga melakukan hal yang sama" terkait proses denuklirisasi. "Karena itu sikap Presiden (Donald Trump) jelas. Dia bersikeras untuk mempertahankan tekanan maksimal hingga denuklirisasi penuh dilakukan," katanya. 

Sementara itu, Trump mengatakan sangat senang dengan perkembangan negosiasi dengan Pyongyang dan menegaskan pemerintahannya tak terburu-buru ingin Korut melakukan denuklirisasi. "Sementara sanksi masih berada di tempatnya, tidak ada lagi kabar uji coba rudal maupun nuklir. Bahkan tawanan mulai dibebaskan," klaim Trump. 

Korsel Siapkan Rp3,8 T 
Sementara itu, Korea Selatan mengalokasikan dana lebih dari US$264 juta atau setara Rp3,8 triliun untuk membangun rel kereta dan ruas jalan baru di Korea Utara. Seorang sumber dari Kementerian Unifikasi Korsel mengatakan bahwa dana tersebut akan digelontorkan dalam satu skema pada tahun depan.

Sumber anonim Reuters itu memastikan bahwa pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Amerika Serikat agar dapat menjalankan serangkaian program kerja sama tersebut di tengah sanksi internasional atas Korut. "Ini baru perkiraan. Kami akan terus berupaya, termasuk dengan mengoordinasikan kebijakan dengan Amerika Serikat, untuk menjalankan proyek yang disetujui antara kedua Korea tanpa hambatan," ucap sumber tersebut. 

Rencana ini muncul setelah Presiden Korsel, Moon Jae-in, menawarkan bantuan pembangunan jalan dan rel kereta api di Korut yang selama ini terbengkalai, saat bertemu Kim Jong-un pertengahan tahun ini.

AS dan Korsel pun sepakat membentuk kelompok kerja untuk mengoordinasikan kebijakan di tengah kekhawatiran Washington akan pendekatan baru Moon ini.
Sementara itu, AS sendiri terus berkeras bahwa mereka akan tetap menerapkan sanksi atas Korut selama Pyongyang belum benar-benar melucuti senjata nuklir mereka.

Kesepakatan untuk melakukan denuklirisasi ini tercapai dalam pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Kim pada Juni lalu. Namun hingga kini, masih ada perbedaan pendapat mengenai diksi "denuklirisasi" yang dimaksud. Untuk menjaga momentum kesepakatan, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, sudah beberapa kali bertemu dengan pejabat di Korut. 

Meski demikian, diskusi lanjutan antara Pompeo dan pejabat tinggi Korut berulang kali batal karena Korut menyebut perundingan ini tak dapat berjalan beriringan dengan sanksi. (Rtr/kps/CNNI/q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Ilmuwan Ingin Menggunakan Laser untuk Memandu Alien ke Bumi
Studi Ungkap Wanita Nigeria Kembangkan Bisnis dengan WhatsApp
Audio High Resolution Picu Peningkatan Speaker Wireless
Mirip Manusia, Robot Berteknologi AI Gantikan News Anchor
BPPT Kurangi Dosis Teknologi Asing untuk Perkapalan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU