Home  / 
Seorang Jurnalis Saudi Dikabarkan Disiksa hingga Tewas di Tahanan
* Raja Saudi Lakukan Kunjungan Langka di Tengah Krisis Khashoggi
Kamis, 8 November 2018 | 15:59:51
Riyadh (SIB) -Seorang jurnalis dan penulis Arab Saudi Turki bin Abdul Aziz Al-Jasser dikabarkan telah meninggal dunia karena disiksa di dalam penjara. Kabar kematian Al-Jasser  ini dimuat dalam harian The New Khaleej terbitan Selasa (6/11). Harian itu juga mengabarkan, Al-Jasser ditangkap dan disiksa hingga tewas karena dianggap sebagai pengelola akun Twitter Kashkool. Akun ini dikenal kerap mengungkap dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintah dan keluarga kerajaan Arab Saudi. 

Sejumlah sumber mengatakan, pemerintah mengidentifikasi Al-Jasser sebagai "admin" akun tersebut berdasarkan laporan mata-mata yang bekerja di kantor regional Twitter di Dubai. Pada Maret lalu, aparat keamanan Saudi menangkap dan menahan Al-Jasser. Menurut sejumlah sumber, para mata-mata ini adalah bagian dari tentara siber Arab Saudi yang dibentuk Saud Al-Qahtani, mantan orang kepercayaan Pangeran Mohammed bin Salman. 

Lewat kicauan di akun Twitter-nya, Al-Qahtani mengatakan, menggunakan nama palsu di Twitter tidak akan melindungi sosok di balik nama tersebut dari kejaran pemerintah Saudi. Mengkritik pemerintah apalagi keluarga kerajaan Arab Saudi amat sulit dilakukan para jurnalis negeri itu. Salah satunya, Jamal Khashoggi (59), yang bekerja untuk harian The Washngton Post, dikenal amat keras mengkritik kebijakan pemerintah Arab Saudi lewat tulisan-tulisannya.
 
Pada 2 Oktober lalu, Khashoggi menghilang usai datang ke kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Setelah berulang kali menyangkal, pemerintah Arab Saudi mengakui Khashoggi tewas di dalam kantor konsulatnya tetapi membantah terlibat dalam kematian sang jurnalis. 

Kunjungan Langka
Sementara itu, raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud melakukan kunjungan domestik langka, pekan ini. Kunjungan dilakukan saat Saudi sedang menghadapi krisis internasional terkait kasus pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi. Seperti dilansir AFP, Rabu (7/11), Raja Salman ditemani oleh putra mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), dalam kunjungan kerajaan di Provinsi Qassim. 

Media-media Saudi menyebut kunjungan domestik yang dimulai sejak Selasa (6/11) waktu setempat sebagai tur 'beberapa wilayah' di Kerajaan Saudi. Raja berusia 82 tahun ini disebut sedang menggalang dukungan domestik, usai kasus Khashoggi yang dipandang sebagai krisis diplomatik terburuk yang dihadapi Kerajaan Saudi sejak tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat (AS).

Menurut otoritas Saudi, Raja Salman juga akan berkunjung ke wilayah Hail, Saudi bagian utara. Kunjungan ke wilayah Hail menjadi kunjungan pertama Raja Salman sejak dia bertakhta pada tahun 2015 lalu.

Dalam kunjungan di Qassim pada Rabu (7/11) waktu setempat, seperti dilaporkan Saudi Press Agency (SPA), Raja Salman memerintahkan pembebasan sejumlah 'tahanan pailit' dengan utang mencapai 1 juta Riyals (Rp 3,8 miliar). Tak hanya itu, Raja Salman juga meluncurkan lebih dari 600 proyek pembangunan senilai 16 miliar Riyals (Rp 61,5 triliun). Tidak diketahui pasti apakah MBS akan mendampingi Raja Salman hingga akhir kunjungan. 

Kunjungan domestik langka ini dilakukan Raja Salman saat Saudi sedang menghadapi kemarahan global terkait pembunuhan Khashoggi (60) di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober lalu. Otoritas Saudi memberikan pernyataan yang tidak konsisten terkait kasus Khashoggi. Dari awalnya membantah tahu-menahu, lalu mengakui Khashoggi tewas dalam perkelahian di Konsulat Saudi hingga akhirnya mengakui Khashoggi tewas dalam pembunuhan berencana.

Kasus Khashoggi ini juga menyeret putra mahkota Saudi -- pemimpin de-facto dan ahli waris takhta Saudi -- yang dicurigai turut terlibat dalam pembunuhan Khashoggi. Otoritas Saudi telah membantah tuduhan semacam itu. Setelah kasus Khashoggi menarik perhatian dunia dan nama putra mahkota Saudi disebut terlibat, Raja Salman kembali turun tangan dalam pemerintahan melalui berbagai kebijakan. Salah satunya dengan memerintahkan pemberian bonus tahunan untuk seluruh pegawai pemerintah mulai awal tahun depan. Pemberian bonus sempat ditangguhkan di bawah langkah penghematan tahun 2016, saat harga minyak dunia menurun. (Middle East Monitor/Kps/AFP/Detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sekdaprovsu Buka Sosialisasi E-Formasi Pemprovsu, Sistem Transparan Lindungi Pegawai
Timses Jokowi Balas PAN: Narasi Ekonomi Prabowo-Sandi Cuma Jargon
Jaksa Kembalikan Berkas Nur Mahmudi ke Polisi
Kebakaran di Kementerian Pertahanan, 11 Mobil Pemadam Dikerahkan
3 Bulan Ditahan KPK, Idrus Marham Pamer Bikin Buku
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU