Home  / 
Pangeran Ahmed Kembali ke Saudi, Raja Salman Bakal Dikudeta?
* Jaksa Turki Sebut Khashoggi Langsung Dicekik dan Dimutilasi
Jumat, 2 November 2018 | 20:31:47
SIB/dailymail
Pangeran Ahmed bin Abdulaziz, adik Raja Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud, (gambar kiri) dilaporkan kembali ke Saudi, sementara Pangeran Khaled bin Farhan seperti dilansir Middle East Monitor, Kamis (1/11), memperkirakan akan ada kudeta terhadap Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammad bin Salman dalam waktu dekat.
Istanbul (SIB) -Pangeran Arab Saudi yang membelot, Khalid bin Farhan al Saud mengatakan bahwa dia memperkirakan akan ada kudeta terhadap Raja Salman bin Abdulaziz dan Putra Mahkota Mohammad bin Salman (MbS) dalam waktu dekat. "Periode mendatang akan menyaksikan kudeta terhadap raja dan putra mahkota," kata Pangeran Khalid saat memberikan komentarnya mengenai pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi sebagaimana dilansir Middle East Monitor, Kamis (1/11).

Dia mengatakan bahwa orang yang memerintahkan pembunuhan atas Khashoggi kemungkinan besar adalah Putra Mahkota Mohammad bin Salman. Menurutnya, Khashoggi berencana menulis sebuah memoir yang mungkin menjadi salah satu alasan dia dibunuh.

Sementara itu Pangeran Ahmed bin Abdulaziz al-Saud dikabarkan pulang ke Arab Saudi setelah tinggal beberapa bulan di London, Inggris. Kepulangan saudara Raja Salman ini terjadi di saat keluarga kerajaan masih menjadi sorotan dunia akibat dugaan pembunuhan Khashoggi.

Kepulangan Pangeran Ahmed juga memicu spekulasi kemungkinan Kerajaan Arab Saudi tengah mencari dukungan dari seluruh anggota keluarga, menyusul kritikan keras dan tekanan dari berbagai pihak serta negara terkait kasus Khashoggi. Setidaknya tiga Pangeran Saudi lainnya berkicau di akun Twitter mengenai kepulangan Pangeran Ahmed. Namun, otoritas Saudi menolak menanggapi alasan Ahmed pulang ke Saudi.

Pangeran berusia sekitar 70 tahunan itu kembali ke istana kerajaan, setelah pada bulan lalu melontarkan kritikan secara tidak langsung soal intervensi Saudi dalam perang sipil di Yaman. Saat itu, paman dari Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman itu meminta kritikus berhenti memprotes keluarga kerajaan atas keterlibatan Saudi dalam perang di Yaman.

"Apa yang harus dilakukan keluarga kerajaan terkait hal ini (intervensi Saudi dalam perang di Yaman)? Sejumlah orang tertentu bertanggung jawab dalam hal ini, (yakni) raja dan putra mahkota," ucap Ahmed dalam video yang tersebar luas ketika dia berada di London.

Pernyataan Ahmed itu cepat menyebar di media sosial. Sebab jarang anggota kerajaan mengkritik kepemimpinan Raja Salman. Tak lama setelah pernyataannya itu menjadi bahan pembicaraan, Ahmed berupaya berkelit.

Sebelum kasus Khashoggi mencuat, Pangerah Mohammed terus memperkuat kendalinya di kerajaan, terutama setelah ia diangkat sebagai putra mahkota pada 2017 lalu. Meski mencoba membentuk Saudi menjadi lebih moderat dengan sejumlah kebijakan reformasinya, Mohammed bersikap keras terhadap kritik dan perbedaan pendapat. Dia tak segan memenjarakan ulama, aktivis, hingga pangeran dan elit bisnis.

Namun, di sisi lain, sejumlah pengamat keluarga kerajaan Saudi membantah spekulasi bahwa kedatangan Pangeran Ahmed menimbulkan ancaman bagi posisi Mohammed di kerajaan. "Ahmed bukan pangeran anti-kerajaan. Dia telah menjadi tokoh sentral dalam (keluarga kerajaan Saudi) selama bertahun-tahun," ucap Michael Stephens, seorang ahli Timur Tengah dari Royal United Service Institute.

"Kepulangannya kemungkinan besar adalah berkaitan dengan kapasitasnya sebagai keluarga kerajaan, bukan sebuah plot. Politik Saudi selalu penuh intrik, Raja Salman telah menginvestasikan banyak hal pada diri Mohammed bin Salman sehingga tak mungkin membuat putra mahkota jatuh," ujar Michael.

Langsung Dicekik dan Dimutilasi
Otoritas Turki menyampaikan pernyataan resmi pertamanya terkait lanjutan kasus pembunuhan Khashoggi di gedung konsulat Saudi di Turki. Khashoggi diyakini dicekik segera setelah dia masuk ke gedung konsulat Saudi di Istanbul. Kemudian tubuhnya dimutilasi dan dihancurkan sebagai bagian yang telah direncanakan. Demikian pernyataan dari jaksa kepala Turki Irfan Fidan, satu jam setelah dia bertemu dengan Jaksa Agung Saudi Sheikh Saud al-Mojeb.

"Sesuai dengan rencana sebelumnya, korban, Jamal Khashoggi, dicekik sampai mati segera setelah masuk ke Konsulat jendera Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018 untuk mengurus formalitas pernikahan," demikian pernyataan Fidan, Rabu (31/10). "Tubuh korban dipotong-potong dan dihancurkan menyusul kematiannya karena dicekik, yang lagi-lagi, sesuai dengan rencana awal," imbuhnya. 

Sheikh Saud dikirim Saudi sebagai kepala penyelidikan kasus pembunuhan Khashoggi ke Istanbul pada pekan ini. Dia tiba pada Minggu lalu dan bertemu dengan Fidan sebanyak dua kali, serta berbincang dengan intelijen Turki. Kemudian dia terbang ke Istanbul tanpa membuat pernyataan publik. "Terlepas dari upaya kami yang bermaksud baik untuk mengungkapkan kebenaran, tidak ada hasil nyata yang keluar dari pertemuan itu," kata kantor kejaksaan Turki.

Jenazah Khashoggi hingga saat ini belum ditemukan namun Turki, AS, dan juga Saudi sepakat bahwa dia dibunuh di dalam gedung konsulat. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah berbicara dengan Raja Salman pada pekan lalu. Keduanya setuju untuk melanjutkan kerja sama penyelidikan. Pejabat Turki anonim sebelumnya mengatakan, pihaknya memiliki bukti audio dan visual untuk membuktikan pernyataan mereka terhadap kematian sang jurnalis. Namun, bukti-bukti tersebut belum ada yang dirilis.

Sementara itu Pemerintah Prancis menyatakan bakal memberikan sanksi terhadap Arab Saudi, jika terbukti terlibat dalam pembunuhan Khashoggi. "Kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan terhadap mereka yang bertanggung jawab," kata Menteri Luar Negeri Prancis, Jean Yves Le Drian.

Perancis telah meminta Arab Saudi untuk mengungkap kematian Khashoggi secara gamblang. "Selama mereka yang bertanggung jawab dan keadaan di sekitar pembunuhan tidak dipublikasikan dan dievaluasi, kami akan terus menuntut kebenaran," kata dia kepada stasiun radio lokal, RTL.

Perancis merasa selama ini Arab Saudi terus menerus memberikan penjelasan berbeda-beda mengenai pembunuhan Khashoggi. Saudi juga berjanji akan terus melakukan identifikasi orang-orang di balik pembunuhan dan akan menghukum mereka. Namun, hingga kini hasilnya masih nihil.

Tidak hanya Perancis, berbagai negara Barat juga terus menekan Arab Saudi terkait kasus ini. Jerman juga mengancam akan menghentikan penjualan senjata ke Riyadh jika terlibat pembunuhan ini. "Saya pikir kita harus menunggu penyelidikan untuk menemukan pelakunya," kata dia.

Arab Saudi merupakan salah satu pembeli terbesar dalam hal senjata, produk mewah, dan ekspor lainnya terhadap Perancis. Namun, Le Drian berkelit menyatakan volume pembelian Arab Saudi hanya 7 persen dari keseluruhan ekspor senjata dari Perancis. "Kami tidak bergantung pada Arab Saudi dalam hal itu," kata Le Drian. (CNNI/kps/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sekdaprovsu Buka Sosialisasi E-Formasi Pemprovsu, Sistem Transparan Lindungi Pegawai
Timses Jokowi Balas PAN: Narasi Ekonomi Prabowo-Sandi Cuma Jargon
Jaksa Kembalikan Berkas Nur Mahmudi ke Polisi
Kebakaran di Kementerian Pertahanan, 11 Mobil Pemadam Dikerahkan
3 Bulan Ditahan KPK, Idrus Marham Pamer Bikin Buku
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU