Home  / 
Skandal Kematian Khashoggi, Pangeran MBS Diawasi Ketat
Minggu, 21 Oktober 2018 | 12:48:55
Riyadh (SIB) -Skandal Jamal Khashoggi ternyata berbuntut panjang meski pemerintah Arab Saudi sudah mengakui bahwa sang jurnalis memang tewas di kantor konsulat negara itu di Istanbul, Turki. Sejumlah sumber intelijen menyebut sejumlah kalangan di lingkungan istana kerajaan Arab Saudi mendiskusikan kemungkinan perubahan garis suksesi kepemimpinan. Sementara itu, pemerintah AS dikabarkan ingin terlibat langsung dalam proses perubahan garis suksesi tersebut. Demikian dilaporkan situs berita Middle East Eye.

Sumber yang tak mau disebutkan namanya itu mengatakan, kasus ini mengakibatkan Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) diawasi ketat. Apalagi tujuh personel pengawal pribadinya disebut pemerintah Turki sebagai tersangka pelaku pembunuhan Jamal Khashoggi. Sumber itu menambahkan, Gedung Putih mengirimkan Menlu Mike Pompeo ke Riyadh sebagai bagian dari upaya pemerintahan Trump terlibat dalam setiap kemungkinan perubahan garis suksesi di Arab Saudi. Sumber anonim ini melanjutkan, Presiden AS Donald Trump menginginkan Raja Salman tetap berkuasa tetapi Pompeo menganggap posisi sang raja amat "rapuh" dan harus diganti. 

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diperoleh Middle East Eye, Kementerian Luar Negeri Inggris juga sudah menggelar diskusi internal untuk mempersiapkan diri menghadapi skenario apapun di Saudi termasuk perubahan garis suksesi. Sumber di Kemenlu Inggris mengatakan, Dubes Inggris di Riyadh Simon Collins belum pernah bertemu lagi dengan Raja Salman sejak Jamal Khashoggi menghilang 2 Oktober lalu. Hal ini terjadi karena para pejabat Saudi masih kebingungan untuk memberikan jawaban terkait situasi tersebut.

Krisis ini membuat Raja Salman harus mengirim penasihatnya yang paling dipercaya Khalid al-Faisal, gubernur Mekkah, untuk berangkat ke Istanbul. Kantor berita Reuters mengabarkan, penugasan Al-Faisal ini dilakukan saat tekanan dari para pemimpin dunia terhadap Arab Saudi terkait nasib Khashoggi semakin kuat.

Sementara itu, para analis dan kelompok oposisi Saudi meragukan kasus kematian Khashoggi akan membuat Pangeran MBS terlempar dari jalur suksesi kekuasaan. Salah seorang tokoh oposisi yang mengenal dekat keluarga kerajaan Saudi mengatakan, Raja Salman dan keluarganya akan bersatu untuk mencegah munculnya konflik internal di istana. Tokoh itu menambahkan, keluarga kerajaan yakin putra mahkota bagaimanapun tetap akan menduduki tahta dan mereka tetap akan mendukung MBS sebagai konsekuensinya.

"Keluarga kerajaan bersatu untuk dua alasan. Pertama, mereka yakin MBS akan tetap menjadi raja sehingga mereka tetap harus mendukung dia," kata tokoh oposisi ini. "Kedua, jika mereka memulai konflik internal, seluruh negara akan runtuh, dan tak satupun anggota keluarga kerajaan menginginkan hal itu," tambah dia. 

Pangeran MBS ditunjuk menjadi putra mahkota pada Juni tahun lalu menggantikan posisi sang sepupu Mohammed bin Nayef. Sejak 2015, MBS sudah menduduki posisi sebagai menteri pertahanan yang mengendalikan angkatan bersenjata Arab Saudi. Di sisi lain MBS juga mengendalikan perekonomian negara dalam kapasitasnya sebagai ketua dewan perekonomian dan pembangunan. 

Andreas Krieg, asisten guru besar di King's College London sekaligus pakar Timur Tengah, mengatakan bahwa banyak tokoh di Washington memprediksi kakak MBS, Khalid bin Salman, akan ditunjuk sebagai wakil putra mahkota. Saat ini, Khalin bin Salman menjabat duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat. 
Namun, ujar Krieg yang pernah menjadi penasihat militer Qatar, membutuhkan "kudeta sungguhan" di dalam istana untuk melengserkan Pangeran MBS dari posisinya sebagai putra mahkota. "Masalahnya tidak ada lagi orang lama yang cukup berpengaruh yang bisa menentangnya. MBS menciptakan sebuah rezim yang tak bisa diguncang kelompok di luar keluarga Salman," ujar Krieg. "Sehingga butuh kudeta sungguhan di dalam istana untuk menyingkirkan MBS," Krieg menegaskan. Di sisi lain, posisi MBS masih relatif aman karena kecil kemungkinan pemerintahan Donald Trump menjatuhkan sanksi bagi Arab Saudi.

"Pemerintahan Trump sudah memiliki ikatan kuat dengan dia (MBS) dan terlepas dari sejumlah langkah untuk menyelamatkan muka, tidak akan ada sanksi untuk Saudi," ujar Krieg. "Tekanan di Washington berasal dari Senat dan Kongres, tetapi Trump nampaknya akan mengabaikan itu semua," dia menegaskan. (kps/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Raih Action Star of the Year, Aktris Zimbabwe-Amerika Ungguli Chris Pratt dan Ryan Reynolds
Adjie Notonegoro Kini Mengembala, Berkesaksian di GBI GranDhika Medan
Hombo Batu Disuguhkan di Stosa Art Parade 3
Ratusan Petani Sirapit Unjuk Rasa di Kantor Bupati dan BPN Langkat
Jalan Desa Sopobutar-Pardomuan Dairi Rusak
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU