Home  / 
Putra Mahkota Saudi Dituding Penyebab Dibunuhnya Khashoggi
* Polisi Turki Kembali Geledah Konsulat Saudi, Seorang Tersangka Tewas Kecelakaan
Jumat, 19 Oktober 2018 | 13:33:31
SIB/dailymail
Maher Abdulaziz Mutreb, salah seorang yang dilaporkan dicari pihak berwenang Turki terkait hilangnya wartawan Jamal Khashoggi, terlihat berada di belakang barisaan saat Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman mengunjungi Habitat for Humanity di Houston, Texas, pada April lalu.
Washington (SIB) -Senator senior Amerika Serikat (AS) Lindsey Graham terang-terangan menuduh Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) telah membuat wartawan Jamal Khashoggi dibunuh. Graham menyarankan Raja Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud mengganti putra mahkotanya. Seperti dilansir media ternama AS, The Washington Post, Kamis (18/10), tuduhan Graham yang merupakan Senator senior dari Partai Republik ini disampaikan dalam program televisi Fox News Channel 'Fox & Friends' pada Selasa (16/10) waktu setempat.

"Dia (MBS-red) membuat pria ini (Khashoggi-red) dibunuh di Konsulat (Saudi-red) di Turki. Berharap saya mengabaikannya? Saya merasa dimanfaatkan dan disalahgunakan," tegas Graham, merujuk pada advokasi yang pernah dilakukannya untuk Saudi sebagai Senator AS. "Saya ada di lantai parlemen setiap waktu, membela Arab Saudi karena mereka sekutu yang baik," imbuhnya.

Graham kemudian menyarankan agar Raja Salman memilih pangeran lain untuk menjadi calon penggantinya memimpin Kerajaan Saudi kelak. "Sosok MBS ini racun bagi saya," sebutnya. "Dia tidak akan pernah menjadi pemimpin dunia di panggung dunia ... Pria ini (MBS-red) harus lengser. Arab Saudi, jika kalian mendengarkan, ada banyak orang-orang baik yang bisa dipilih, tapi MBS telah mencoreng negara Anda dan mencoreng dirinya sendiri," ujar Graham.

Sejumlah anggota parlemen AS telah mengajukan rancangan undang-undang (RUU) untuk menghentikan penjualan senjata terhadap Arab Saudi. Penghentian akan dilakukan hingga Saudi terbukti tidak terlibat kasus hilangnya wartawan Jamal Khashoggi.

RUU itu diajukan oleh sejumlah anggota House of Representatives (HOR) atau DPR AS pekan ini, menyikapi kasus Khashoggi yang menghilang sejak masuk ke Konsulat Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober lalu. Anggota parlemen dari Partai Demokrat untuk wilayah Massachusetts, Jim McGovern, memimpin pengajuan RUU ini. McGovern diketahui menjabat sebagai co-chair Komisi HAM pada DPR AS dan menjadi anggota House Rules Committee yang bertugas mempertimbangkan RUU yang diajukan. Disebutkan McGovern bahwa laporan-laporan yang muncul soal Khashoggi 'menunjukkan pelanggaran keterlaluan terhadap norma internasional'.

RUU itu menyatakan pemberian bantuan dan penjualan militer AS untuk Saudi akan dilarang, selama menunggu konfirmasi dari Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo soal status Khashoggi. Atau dengan kata lain, penjualan senjata untuk Saudi akan dihentikan hingga Pompeo bisa mengonfirmasi bahwa Saudi tidak memerintahkan pembunuhan Khashoggi. Hingga kini, otoritas Saudi bersikeras membantah terlibat kasus hilangnya Khashoggi.

Selain McGovern, sejumlah anggota parlemen AS lainnya juga menyerukan langkah tegas untuk Saudi. Mereka menyatakan sanksi-sanksi perlu dijatuhkan untuk Saudi, jika terbukti Khashoggi telah dibunuh. Senator senior dari Partai Republik, Lindsey Graham, memperingatkan bahwa akan ada 'kemurkaan besar' jika benar Khashoggi dibunuh.

Menurut laporan situs berita Intercept, RUU itu diajukan ke HOR pada Selasa (16/10) lalu. RUU itu disponsori oleh enam anggota parlemen Partai Demokrat dan dua anggota parlemen Partai Republik. Senator Republikan, John Kennedy, menegaskan bahwa Saudi harus dikecam jika terbukti mereka ada di balik hilangnya Khashoggi.

Beberapa waktu lalu, Presiden Donald Trump mengindikasikan keengganannya untuk menghentikan penjualan senjata Saudi atau memblokir investasi Saudi di AS. Trump mengaku khawatir bahwa Saudi akan memindahkan aliran dana ke Rusia dan China, jika hal itu terjadi.

Kembali Geledah
Sementara itu tim kepolisian Turki kembali melakukan penggeledahan di gedung Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Penggeledahan ini sebagai bagian dari penyelidikan atas hilangnya jurnalis kawakan Jamal Khashoggi.

Kepolisian Turki sebelumnya telah menggeledah kediaman Konsul Jenderal (Konjen) Arab Saudi di Istanbul, Mohammed al-Otaibi, sehari setelah dia meninggalkan Turki menuju Riyadh, Saudi. Penggeledahan di kediaman Konjen tersebut dilakukan pada Rabu (17/10) sekitar pukul 16.40 waktu setempat. Penggeledahan dilakukan oleh tim yang terdiri dari belasan polisi dan jaksa, termasuk ahli-ahli forensik. Menurut jurnalis AFP di lokasi, para penyelidik memeriksa taman, juga atap bangunan. Sebuah drone juga digunakan dalam pemeriksaan kediaman Konjen Saudi itu.

Para penyelidik meninggalkan kediaman Konjen Saudi pada sekitar pukul 01.30 waktu setempat, namun beberapa orang dari mereka pergi menuju gedung Konsulat Saudi yang berada di dekatnya untuk kembali melakukan penggeledahan. Penggeledahan kedua kalinya di gedung Konsulat Saudi itu berlangsung hingga Kamis (18/10) pagi waktu setempat.

Otoritas Turki belum mengeluarkan pernyataan mengenai penggeledahan tersebut. Sebelumnya pada Senin (15/10) malam waktu setempat, kepolisian Turki untuk pertama kalinya menggeledah gedung Konsulat Saudi selama delapan jam. Dalam penggeledahan itu, tim membawa sejumlah sampel termasuk sampel tanah dan DNA.

Khashoggi yang seorang jurnalis dan kolumnis The Washington Post ini menghilang misterius setelah masuk ke Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu. Kekhawatiran semakin memuncak bahwa Khashoggi dibunuh di Konsulat Saudi. Otoritas Saudi berulang kali membantah terlibat kasus hilangnya Khashoggi.

Namun laporan berbagai media, yang mengutip sumber-sumber pejabat Turki, menyebut adanya bukti rekaman audio dan video yang menunjukkan bahwa Khashoggi diserang dan dibunuh secara keji sesaat setelah dia masuk ke Konsulat Saudi, dua pekan lalu.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump dalam kicauan via Twitter menyatakan bahwa MBS 'jelas-jelas membantah mengetahui' soal apa yang terjadi di Konsulat Saudi di Istanbul dan MBS berjanji akan memberikan jawaban 'dalam waktu dekat'. 

Tewas Kecelakaan di Saudi
Surat kabar Turki melaporkan bahwa salah satu tersangka dalam kasus hilangnya wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi, tewas dalam 'kecelakaan mobil mencurigakan' di Riyadh, Saudi. Tersangka yang tewas itu diketahui merupakan personel Angkatan Udara Kerajaan Saudi.

Kabar soal kecelakaan mencurigakan itu dilaporkan oleh surat kabar lokal berbahasa Turki, Yeni Safak, yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui kecelakaan itu. Belum ada komentar resmi dari otoritas Saudi maupun Turki terkait laporan ini.

Surat kabar Yeni Safak menyebut tersangka yang tewas dalam kecelakaan mencurigakan itu bernama Mashal Saad al-Bostani, berusia 31 tahun dan berpangkat letnan pada Angkatan Udara Saudi. Al-Bostani disebut sebagai salah satu dari 15 warga Saudi yang secara mencurigakan datang dan pergi dari Turki pada 2 Oktober lalu, hari yang sama saat Khashoggi menghilang usai masuk ke Konsulat Saudi di Istanbul. Belasan warga Saudi itu diketahui masuk ke Konsulat Saudi pada hari yang sama.

Dalam laporannya, surat kabar Yeni Safak menyatakan sumber-sumber yang dikutipnya tidak memberikan informasi lebih lanjut, seperti soal waktu dan lokasi, terkait 'kecelakaan mobil misterius' yang menewaskan Al-Bostani. Peranan Al-Bostani dalam kasus Khashoggi juga masih belum jelas. (Detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Paripurna RPJMD Hanya Dihadiri 10 Anggota Dewan
Wali Kota Medan dan Kapoldasu Raih Gelar Magister Hukum di Medan
Anggota DPRD Medan Nilai, Pemko Masih Tebang Pilih Tertibkan Reklame
Melindungi Anak-anak Dari Bahaya Rokok
Bupati Indramayu Tepis Isu Mundur karena Masalah di KPK
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU