Home  / 
Delegasi Arab Saudi Datangi Turki Bahas Kasus Wartawan Hilang
* Media Arab Saudi: Tunangan Khashoggi Berhubungan dengan Ikhwanul Muslimin
Minggu, 14 Oktober 2018 | 16:18:25
Ankara (SIB)- Otoritas Arab Saudi menyambut baik dilakukannya penyelidikan gabungan antara pihaknya dengan Turki terkait kasus hilangnya wartawan Jamal Khashoggi. Delegasi khusus dari Saudi pun telah tiba di Ankara untuk membahas kasus ini. Dituturkan sejumlah pejabat Turki, seperti dilansir kantor berita Anadolu Agency, Sabtu (13/10), bahwa delegasi Saudi ini akan bertemu dengan tim dari Turki di ibu kota Ankara pada akhir pekan. Pertemuan dimaksudkan untuk membahas kasus Khashoggi secara mendalam.

Tidak disebut lebih lanjut oleh sejumlah pejabat Turki yang tidak bisa disebut namanya itu, soal apa saja yang akan dilakukan delegasi Saudi selama berada di Turki.

Khashoggi (59) yang seorang jurnalis dan kolumnis The Washington Post menghilang sejak masuk ke dalam Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu. Khashoggi mendatangi Konsulat Saudi untuk mengurus dokumen agar bisa menikahi tunangannya asal Turki, Hatice Cengiz. 

Pihak Konsulat Saudi sebelumnya menyebut Khashoggi telah keluar dari gedung tersebut. Namun otoritas Turki dan tunangan Khashoggi menegaskan dia masih ada di dalam. Sumber-sumber pemerintahan Turki menyebut Khashoggi dibunuh di dalam Konsulat Saudi. Tuduhan itu dibantah keras oleh Saudi.

Pada Kamis (11/10) waktu setempat, juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin, menyebut satu tim kerja gabungan akan dibentuk untuk membantu mengungkap misteri di balik hilangnya Khashoggi. 

Secara terpisah, kantor berita Saudi Press Agency (SPA) melaporkan bahwa otoritas Saudi menyambut baik penyelidikan gabungan antara pihaknya dengan Turki terkait kasus Khashoggi. "Sumber pemerintahan menyambut baik respons Republik Turki untuk meminta Arab Saudi untuk membentuk tim gabungan ... dari para pakar ... untuk menyelidiki situasi di balik menghilangnya warga Saudi, Jamal Khashoggi," sebut SPA via Twitter resminya.

Dalam pernyataan terpisah berbahasa Inggris, SPA mengutip sumber pemerintahan Saudi yang menyatakan 'apresiasi' untuk langkah tersebut dan 'memastikan keyakinan penuh' terhadap tim gabungan itu 'untuk menjalankan tugas mereka sebaik mungkin'.

Otoritas Saudi sejauh ini hanya menyampaikan sedikit komentar soal kasus Khashoggi. Hal ini memicu spekulasi liar, salah satunya soal Khashogi dibunuh di dalam Konsulat Saudi. Dalam pernyataan terbaru melalui SPA, Menteri Dalam Negeri Saudi Pangeran Abdel Aziz bin Saud bin Nayef membantah keras tuduhan soal adanya perintah membunuh Khashoggi di dalam Konsulat Saudi.

Berhubungan dengan Ikhwanul Muslimin
Sementara itu, media Arab Saudi memberikan laporan mengenai identitas tunangan jurnalis yang dilaporkan menghilang sejak pekan lalu. Media Al Arabiya dilansir Newsweek Jumat (12/10) mempublikasi satu twit bahwa Hatice Cengiz tunangan Khashoggi berhubungan dengan organisasi Ikhwanul Muslimin dan Qatar. Al Arabiya dalam ulasannya berkata, kicauan Cengiz di Twitter menunjukkan dukungannya terhadap orang-orang yang mengkritik pemerintah Saudi. Sementara Saudi Gazette memberitakan keluarga Jamal Khashoggi, jurnalis yang menghilang itu bahkan tidak pernah mendengar atau tahu tentang Cengiz. 
Saudi memutus hubungan diplomatik dengan Qatar pada 2017 setelah Doha dituduh telah mendanai dan mendukung adanya terorisme. Sementara Ikhwanul Muslimin, yang dilaporkan didukung Qatar serta Turki, disebut Saudi dan sekutunya di Timur Tengah sebagai organisasi teroris.

BBC Arabic memberitakan, sepanjang pekan ini mulai muncul teori konspirasi di kalangan para pendukung pemerintah Saudi. Dalam teori tersebut, kalangan pro-pemerintah menduga Khashoggi menghilang, atau dibunuh, oleh orang lain dengan tujuah menyalahkan Riyadh. Reuters melaporkan, Khashoggi menjalin hubungan dengan perempuan berkebangsaan Turki tersebut pada Mei. Dia bahkan mendatangi konsulat Saudi di Istanbul untuk mengurus dokumen pernikahan pada 2 Oktober sebelum hilang. 

Selain itu, dia juga membeli apartemen di Istanbul untuk ditempati bersama Cengiz setelah mereka menikah meski dia memperoleh kewarganegaraan Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, Cengiz melaporkan Khashoggi menghilang setelah dia memasuki gedung konsulat Saudi di Istanbul, dengan Riyadh bersikukuh dia telah keluar dengan selamat. Pendapat berbeda diutarakan pejabat anonim Turki yang menyatakan dia dibunuh dan jenazahnya dimutilasi oleh tim beranggotakan 15 orang. 

Khashoggi, yang notabene mantan penasihat pemerintah, melarikan diri dari Saudi dan tinggal di Amerika Serikat (AS) sejak September 2017. Dalam ulasannya di The Post, jurnalis berumur 59 tahun itu acap mengkritik kebijakan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman maupun keterlibatan Saudi di Yaman. 
Intelijen AS Sudah Miliki Bukti Rekaman

Pejabat intelijen Amerika Serikat (AS) mengaku memiliki dan telah melihat video serta mendengarkan rekaman suara pembunuhan jurnalis Arab Saudi. Dilaporkan The Washington Post seperti dilansir dari The Independent Sabtu (13/10), rekaman itu memperlihatkan momen sebelum dan saat Jamal Khashoggi dibunuh. 

Khashoggi dilaporkan menghilang setelah dia memasuki Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu. Sumber dari agen rahasia AS menuturkan, suara yang terdengar dari dalam gedung menunjukkan momen ketika Khashoggi memasuki ruangan. "Kami bisa mendengar ada orang yang berbicara Arab. Terdengar suaranya diinterogasi, disiksa, sebelum kemudian dibunuh," ujar sumber tersebut. 

Jurnalis berusia 59 tahun itu dilaporkan dibunuh oleh 15 orang, di mana salah satunya merupakan pakar forensik yang bertugas memutilasi jenazahnya. Riyadh telah mengirimkan tim yang dilaporkan dipimpin Pangeran Khalid al-Faisal untuk bertemu Turki dan membicarakan kasus hilangnya Khashoggi. "Tim gabungan Saudi dan Turki bakal dibentuk untuk menyelidiki kasus Jamal dari segala aspek," terang juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin. 

Khashoggi, yang notabene mantan penasihat pemerintah, melarikan diri dari Saudi dan tinggal di Amerika Serikat (AS) sejak September 2017. Dalam ulasannya di The Post, jurnalis berumur 59 tahun itu acap mengkritik kebijakan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman maupun keterlibatan Saudi di Yaman. 

Kasusnya menuai reaksi AS di mana Presiden Donald Trump mendesak Riyadh untuk memberi penjelasan. Bahkan, dia menyatakan bakal menggelar investigasi. Meski begitu, Trump menuturkan dia tidak akan menangguhkan kesepakatan penjualan persenjataan kepada negara kaya minyak tersebut. Ucapan Trump mendapat respon anggota Senat AS baik dari Partai Demokrat maupun Republik yang menyatakan bakal memblokir kesepakatan tersebut. (Newsweek/Independent/Kps/Detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bupati Indramayu Tepis Isu Mundur karena Masalah di KPK
Sandiaga Minta Maaf soal Langkahi Makam Pendiri NU
Diduga Tidak Terima Diputuskan, Pria Bakar Diri dan Kekasihnya di Medan
Menag: Kartu Nikah Bukan Pengganti Buku Nikah
Polisi Atensi Tuntaskan Kasus Pengancaman Wartawan SIB di Nisel
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU