Home  / 
Trump Desak Arab Saudi Beri Jawaban
Senator AS Serukan Penyelidikan HAM Atas Hilangnya Wartawan Saudi
* Erdogan: Kita Tak Boleh Diam Atas Hilangnya Wartawan Arab Saudi
Jumat, 12 Oktober 2018 | 16:24:54
SIB/Yahoonews
Sejumlah anggota asosiasi jurnalis Turki-Arab memamerkan poster bergambar Jamal Khashoggi ketika menggelar aksi protes di depan gedung Konsulat Arab Saudi, di Istanbul pada Senin (8/10) menuntut penjelasan atas keberadaan jurnalis kolom opini Washington Post tersebut.
Washington DC (SIB) -Sebanyak 22 Senator Amerika Serikat (AS) menyerukan dilakukannya penyelidikan Hak Asasi Manusia (HAM) terkait hilangnya wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi. Penyelidikan akan menentukan apakah sanksi-sanksi HAM perlu dijatuhkan AS terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (11/1/0), puluhan Senator AS ini menyerukan digunakannya ketetapan Undang-Undang (UU) Akuntabilitas HAM Magnitsky Global yang mewajibkan Presiden AS menentukan apakah seorang warga negara asing bertanggung jawab atas pelanggaran HAM berat.

"Harapan kami adalah dalam menentukan keputusan Anda, Anda akan mempertimbangkan setiap informasi terkait, termasuk menghormati pejabat tinggi level tertinggi dalam pemerintahan Arab Saudi," sebut para Senator AS ini dalam surat yang ditujukan untuk Presiden AS Donald Trump. 

Seruan penerapan UU Magnitsky itu dilakukan oleh para pemimpin Komisi Hubungan Internasional Senat AS dari Partai Republik dan Partai Demokrat, Senator Bob Corker dan Senator Bob Menendez bersama mitra-mitra mereka dari Subkomisi Kelayakan yang mendanai Departemen Luar Negeri AS, seperti Senator Lindsey Graham dan Senator Patrick Leahy.

Dituturkan sejumlah ajudan Senator AS, sekitar 18 Senator AS lainnya juga menandatangani surat yang ditujukan untuk Trump itu. Ini menjadi pesan dukungan bipartisan yang kuat untuk Trump bagi diberikannya respons serius AS terhadap kasus hilangnya Khashoggi. 

UU Magnitsky Global mewajibkan laporan dalam kurun waktu 120 hari setelah surat dikirimkan ke Presiden AS. Laporan itu harus berisi keputusan tegas soal penerapan sanksi terhadap siapa saja yang dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran HAM serius. Yang dimaksud pelanggaran HAM serius antara lain tindak penyiksaan, penahanan tanpa persidangan dalam jangka panjang atau pembunuhan di luar hukum terhadap siapa saja yang mempraktikkan kebebasan berekspresi. "Menghilangnya jurnalis Saudi dan kolumnis The Washington Post, Jamal Khashoggi, baru-baru ini menunjukkan bahwa dia bisa saja menjadi korban pelanggaran HAM berat yang diakui internasional," demikian bunyi surat itu. 

Dengan didasarkan UU Magnitsky Tahun 2012, AS telah menjatuhkan sanksi larangan visa dan pembekuan aset terhadap sejumlah pejabat Rusia yang terlibat dalam kematian seorang whistleblower Rusia, Sergei Magnitsky di dalam penjara tahun 2009 lalu. Tahun 2016, UU ini berubah menjadi UU Magnitsky Global dan bisa diberlakukan untuk menghukum setiap pelanggar HAM di negara manapun.

Khashoggi (59) menghilang sejak masuk ke dalam Konsulat Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober lalu, untuk mengurus dokumen resmi bagi pernikahannya dengan tunangannya asal Turki, Hatice Cengiz. Sang tunangan menemani Khashoggi namun tidak bisa masuk bersamanya. Cengiz pun menunggu di luar Konsulat Saudi namun Khashoggi tidak pernah keluar.

Trump Desak Arab Saudi Beri Jawaban
Sementara itu, presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Arab Saudi untuk memberikan jawaban atas hilangnya jurnalis Jamal Khashoggi usai mendatangi konsulat Saudi di Istanbul, Turki. Pejabat-pejabat Turki menyebut jurnalis pengkritik pemerintah Arab Saudi itu dibunuh di dalam gedung konsulat Saudi.

Trump mengatakan, dirinya telah berbicara "lebih dari sekali" dan "di tingkat tertinggi" dengan mitra-mitra di Arab Saudi, yang merupakan salah satu sekutu terdekat Washington dan pasar kunci bagi industri senjata AS. "Kita menuntut semuanya," kata Trump kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (11/10). "Kita tak bisa membiarkan ini terjadi, pada para reporter, pada siapapun," imbuhnya. "Kita sangat kecewa melihat apa yang terjadi. Kita tidak menyukainya dan kita akan mengungkap ini hingga ke dasarnya," kata Trump.

Juru bicara Trump, Sarah Sanders mengatakan bahwa Penasihat Keamanan Nasional John Bolton, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan asisten Trump sekaligus menantunya, Jared Kushner telah berbicara dengan Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman dalam dua hari terakhir mengenai hilangnya Jamal Khashoggi. Sanders mengatakan, dalam percakapan via telepon itu, "mereka meminta keterangan lebih detail dan agar pemerintah Saudi transparan dalam proses penyelidikan."

Sejauh ini, pemerintah AS belum mengonfirmasi klaim pejabat-pejabat Turki bahwa Khashoggi yang bermukim di AS dan kerap melancarkan kritikan terhadap rezim Raja Salman dan putranya, Pangeran Mohammed, telah diperdaya untuk masuk ke gedung konsulat Saudi di Istanbul dan dibunuh oleh tim beranggotakan 15 orang yang dikirimkan pemerintah Saudi ke Istanbul. Namun pada Rabu (10/10) waktu setempat, media ternama The Washington Post, tempat Khashoggi menjadi penulis kolom, melaporkan bahwa MBS sendiri yang memerintahkan operasi terhadap Khashoggi.

Bisa Ganggu Hubungan AS-Arab Saudi
Tekanan dari Kongres Amerika Serikat (AS) semakin besar agar Presiden Donald Trump mengambil langkah tegas atas hilangnya wartawan Jamal Khashoggi, di Turki. Namun di sisi lain, langkah tegas itu tidak boleh mengasingkan Saudi, sekutu penting AS dalam melawan Iran. 

Seperti dilansir Reuters, Kamis (11/10), para Senator senior AS mulai terang-terangan menyatakan perasaan tidak senangnya terhadap otoritas Saudi. Salah satunya Senator Bob Corker dari Partai Republik yang pernah melontarkan suara keras untuk Saudi terkait kasus Khashoggi. "Anda tidak bisa berkeliaran begitu saja membunuh jurnalis," ucap Corker kepada Reuters. 

Bantahan otoritas Saudi yang menegaskan pihaknya tidak terlibat dalam hilangnya Khashoggi tidak digubris oleh Kongres AS. Puluhan Senator AS telah menyerukan penyelidikan HAM untuk menentukan penjatuhan sanksi bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab di balik kasus Khashoggi. 

Trump yang selama ini berupaya menjalin hubungan lebih dekat dengan Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman, juga merasa frustrasi terkait kasus Khashoggi ini. Tindakan keras terhadap Saudi, sekutu penting AS, berarti akan bertolak belakang dengan sikap diam pemerintahan Trump terhadap peran Saudi dalam konflik Yaman dan pemberantasan penentang Kerajaan Saudi di dalam negeri selama ini.

Senator Corker yang menjabat Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Senat AS mengakui bahwa kasus ini -- jika terbukti ada keterlibatan Saudi -- bisa semakin mempersulit strategi AS dalam mengatasi Iran yang semakin menancapkan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah.

"Itu bisa mempengaruhi banyak hal yang sedang kita upayakan bersama mereka (Saudi-red) untuk itu, yang sangat penting," tegas Corker dalam pernyataannya, sembari menyebut bahwa hubungan Senat AS dengan otoritas Saudi kini ada di 'titik sangat, sangat rendah'.

Secara terpisah, Senator Republikan lainnya, Lindsey Graham, yang dekat dengan Trump melontarkan peringatan untuk Saudi. Graham menegaskan 'akan ada yang harus dibayar di neraka' jika Saudi terbukti bertanggung jawab atas kasus Khashoggi. 

"Jika mereka (Saudi-red) sungguh tidak tahu malu, itu menunjukkan sikap merendahkan, merendahkan semua hal yang kita perjuangkan, merendahkan hubungan (AS-Saudi). Saya tidak ingin berprasangka, tapi jika apa yang saya khawatirkan sungguh terjadi, sikap merendahkan akan dihadapi dengan sikap merendahkan juga," tegas Graham dalam pernyataannya pada Rabu (10/10) waktu setempat.

Erdogan: Kita Tak Boleh Diam
Sementara itu di tempat terpisah, presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan Turki tidak boleh tinggal diam atas hilangnya wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi. Ditegaskan Erdogan bahwa Turki sedang menyelidiki segala aspek dalam kasus ini. Khashoggi (59) masuk ke Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu, untuk mengurus dokumen bagi pernikahan dengan tunangannya asal Turki, Hatice Cengiz. Otoritas Saudi menyebut Khashoggi telah keluar dari gedung konsulat, tapi otoritas Turki dan tunangannya -- yang menunggu di luar -- menegaskan dia belum keluar. 

Dilaporkan surat kabar Turki, Hurriyet Daily News dan dilansir Reuters, Kamis (11/10), Erdogan menyatakan kekhawatirannya atas hilangnya Khashoggi. "Kita tengah menyelidiki semua aspek peristiwa ini. Tidak mungkin bagi kita untuk tetap diam terhadap peristiwa seperti ini, karena ini bukan peristiwa yang biasa terjadi," ucap Erdogan dalam penerbangan pulang dari Hungaria. 

Lebih lanjut, Erdogan mempertanyakan pernyataan otoritas Saudi yang menyebut pihaknya tidak memiliki rekaman CCTV yang menunjukkan Khashoggi meninggalkan gedung Konsulat Saudi, karena CCTV hanya memberi tayangan langsung dan tidak melakukan perekaman. "Apakah mungkin tidak ada sistem kamera di Konsulat Arab Saudi, yang menjadi lokasi peristiwa ini terjadi? tanya Erdogan.

Kasus hilangnya Khashoggi berpotensi makin memperburuk hubungan antara Turki dan Saudi. Diketahui bahwa hubungan kedua negara memburuk setelah Turki mengerahkan tentara ke Qatar tahun lalu untuk menunjukkan dukungan, usai Saudi dan sekutu-sekutunya memutuskan hubungan diplomatik dan memberlakukan embargo terhadap Qatar. Erdogan bersama partainya, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), juga pernah mendukung pemerintahan Mesir saat dipimpin oleh Presiden Mohamed Morsi yang berasal dari Ikhwanul Muslimin, yang dianggap sebagai kelompok teroris oleh Saudi. (Rtr/AFP/dtc/kps/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sekdaprovsu Buka Sosialisasi E-Formasi Pemprovsu, Sistem Transparan Lindungi Pegawai
Timses Jokowi Balas PAN: Narasi Ekonomi Prabowo-Sandi Cuma Jargon
Jaksa Kembalikan Berkas Nur Mahmudi ke Polisi
Kebakaran di Kementerian Pertahanan, 11 Mobil Pemadam Dikerahkan
3 Bulan Ditahan KPK, Idrus Marham Pamer Bikin Buku
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU