Home  / 
Kapal Penghancur Tiba, AS Diduga Punya 200 Rudal Tomahawk di Suriah
* Turki Disebut Pasok Persenjataan untuk Pemberontak Suriah di Idlib
Jumat, 14 September 2018 | 17:11:11
SIB/AFP
Dua anak warga Suriah rela berdesakan di antara barang-barang bawaan keluarga mereka saat mengungsi ke luar dari Idlib guna menghindari serangan pasukan pemerintah Suriah.
DAMASKUS (SIB) -Satu kapal perang Amerika Serikat (AS) tiba di kawasan Mediterania di situasi Suriah yang mulai panas. Kapal penghancur kelas-Arleigh Burke USS Bulkeley tiba di Mediterania melalui Selat Gibraltar Rabu (12/9) waktu setempat. Harian Rusia Interfax via Russian Today melaporkan Kamis (13/9), dengan masuknya USS Bulkeley, AS kini diduga punya 200 rudal penjelajah Tomahawk di Suriah. 

Pekan lalu, kapal selam kelas-Los Angeles USS Newport News (SSN-750) dilaporkan juga tiba di perairan Mediterania. Masuknya armada tempur Negeri "Paman Sam" terjadi sejak pasukan Suriah berencana melakukan serangan di markas tersisa pemberontak Idlib. Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley memperingatkan kepada Suriah maupun sekutunya, Rusia dan Iran, untuk tidak menyerang Idlib. 

"Setiap serangan yang menyasar rakyat sipil di Idlib bakal segera mendapat pembalasannya," kata Haley kepada Fox News. Washington mengancam bakal mengerahkan militer jika pasukan rezim Bashar al-Assad menggunakan senjata kimia di Idlib. Haley menyatakan, AS sudah dua kali melaksanakan serangan udara ke Suriah pasca-dugaan penggunaan senjata kimia yang dilakukan Assad. Serangan terakhir terjadi pada April lalu di mana setidaknya 112 rudal Tomahawk ditembakkan di Damaskus dan Homs. 

Pekan lalu, Rusia menghelat latihan perang dengan fokus kepada kemampuan pendaratan marinir dan uji coba rudal. Selain itu, Rusia juga dilaporkan mengerahkan kekuatan perang tambahan ke Suriah sebagai tanda bahwa mencegah rencana operasi militer AS ke Suriah. 

Sementara itu, aliansi milisi dukungan Amerika Serikat mulai melancarkan 'serangan penghabisan' yang dikatakan sebagai tahap akhir dari operasi untuk menumpas kelompok Negara Islam (ISIS) dari Suriah timur laut. Pasukan Demokrat Suriah melancarkan serangan darat pada hari Senin (10/9) terhadap militan di sekitar Hajin, kota di Lembah Sungai Eufrat Tengah.

Koalisi internasional yang mendukung para pejuang Kurdi dan Arab mengatakan mereka memperkirakan terjadinya 'pertempuran sengit'. Beberapa waktu lalu, AS memperkirakan bahwa ISIS masih memiliki sekitar 14.000 milisi di Suriah. Sebagian besar diyakini berada di kawasan yang membentang ke timur dari sungai Eufrat ke perbatasan dengan Irak, sekitar 25 km dari Hajin, dan di daerah gurun di selatan dan Afghanistan tengah. Antara 15.500 hingga 17.100 milisi diperkirakan berbasis di Irak, kendati ISIS tidak lagi sepenuhnya menguasai wilayah mana pun. Banyak pula yang bersembunyi di padang pasir barat yang luas.
Pada puncaknya pada tahun 2014, ISIS mendirikan 'kekhalifahan', yang membentang di sebagian Suriah dan Irak hingga luasnya hampir sama dengan Inggris dan memerintah lebih dari 7,7 juta orang. Para petempur SDF melancarkan operasi untuk mengusir 'sisa-sisa' ISIS dari Hajin dan desa yang masih dikuasai ISIS di Provinsi Deir al-Zour setelah merebut daerah Baghuz dan Dashisha selama empat bulan terakhir.

Seorang komandan SDF yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa setidaknya 15 milisi ISIS tewas pada hari pertama serangan Hajin. "Bentrokan akan sengit di Hajin karena Daesh (ISIS) telah memperkuat posisi mereka, tetapi kami akan merebut (daerah itu)," tambah sang komandan. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, kelompok pemantau yang berbasis di Inggris, melaporkan bahwa serangan udara, tembakan artileri dan serangan darat terhadap ISIS kali ini adalah yang terberat sejak beberapa bulan.

"Pasukan Demokrat Suriah yang multietnis tetap berkomitmen untuk membebaskan rakyat Suriah timur laut dari kendali ISIS dan mengakhiri penderitaan rakyat di daerah itu," kata Mayor Jenderal Patrick Roberson, komandan Satgas Gabungan Operasi Khusus koalisi pimpinan AS. "Ke depan, kami akan terus berkoordinasi dengan SDF dan mitra lainnya untuk mempromosikan keamanan dan stabilitas regional yang akan memastikan kekalahan abadi ISIS."

Bulan lalu ISIS merilis pesan audio yang konon merupakan pidato pemimpinnya, Abu Bakr al-Baghdadi. Dalam rekaman itu, 'al-Baghdadi' menyatakan bahwa khilafah akan 'tegak berdiri', dan "ISIS tidak semata terbatas di Hajin." Di mana lokasi Baghdadi, tidak diketahui, tetapi seorang juru bicara koalisi mengatakan kepada AFP bahwa mereka yakin banyak pimpinan penting ISIS masih di Hajin.

Dalam perkembangan terpisah pada hari Selasa, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan setidaknya 21 milisi propemerintah tewas dalam serangan oleh militan ISIS di daerah Tulul al-Safa di Suweida, di barat daya negara itu. Media pemerintah Suriah melaporkan bentrokan sengit di sana, dan mengatakan pesawat dan artileri pemerintah telah membom 'tempat-tempat persembunyian' ISIS, menewaskan atau melukai sejumlah milisi. 

Turki Disebut Pasok Persenjataan
Sementara itu, kelompok pemberontak di Suriah dilaporkan mendapat pasokan persenjataan dari Turki sebagai persiapan menghadapi serangan yang dilancarkan pasukan pemerintah Suriah bersama sekutunya ke Idlib. Disampaikan komandan pemberontak Suriah kepada Reuters, bahwa Ankara telah mengirimkan persenjataan dan amunisi ke pasukan oposisi di Idlib, wilayah kantong terakhir di Suriah yang masih dikuasai pemberontak. 

Namun menurut laporan media pro-rezim Suriah menyampaikan bahwa rencana serangan tersebut telah ditunda. Melansir dari The New Arab, hal tersebut salah satunya karena rezim Suriah bersama sekutu Rusia dan Iran, menyimpulkan bahwa mereka akan menghadapi perlawanan yang jauh lebih besar dari para pemberontak dibandingkan dengan yang diperkirakan sebelumnya. 

Selain itu, pertentangan yang vokal dari Turki juga turut menjadi batu sandungan, dengan Ankara sebagai bagian penting dalam proses perdamaian Astana yang didukung Rusia dan Iran. Turki juga menyatakan bakal membantu para pemberontak di Suriah apabila serangan benar-benar dilancarkan oleh pasukan rezim Bashar al-Assad. Ankara dimungkinkan bakal mengirim kekuatan militernya yang dikerahkan dalam operasi Tameng Efrat untuk mendukung pasukan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) di Idlib. "Mereka menjanjikan dukungan militer Turki untuk pertempuran yang berlarut-larut," kata seorang komandan FSA. 

Diungkapkan perwira FSA, di antara persenjataan yang dikirimkan ke Idlib dalam beberapa terakhir termasuk peluncur misil Grad. "Pasokan senjata dan amunisi ini memungkinkan pertempuran diperpanjang dan memastikan pasokan kami tidak terkuras selama peperangan. Orang-orang Turki memastikan mereka memiliki cukup amunisi yang akan membuat mereka bertahan dalam waktu lama," tambahnya. 

Pasukan pemberontak yang bersatu di Suriah, yang dikenal dengan Front Nasional untuk Pembebasan, telah dibentuk di Idlib dengan bantuan Turki dan arahan dari FSA yang berjumlah sekitar 30.000 pasukan. Ankara juga berupaya membujuk anggota kelompok milisi Hayat Tahrir al-Sham (HTS) agar memisahkan diri dari ideologi jihad dan bergabung dengan kelompok pemberontak yang lebih moderat, namun belum berhasil. (AFP/BBCI/RussianToday/kps/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Anak Didik SMA GKPS 1 Pamatangraya Dapat Sosialisasi Bahaya Narkoba
Mendikbud Minta PPDB Ditiadakan Mulai Tahun Depan
Kemendikbud Siapkan Lulusan SMK Jadi Pengusaha
1.938 Siswa Ikut Dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional
Kunci Sekolah Bermutu Ada Pada Proses Pembelajaran
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU