Home  / 
Wapres AS Diduga Penulis Artikel Kontroversial Turunkan Trump
* Trump Minta Opini Kontroversial untuk Lengserkan Dirinya Diselidiki
Minggu, 9 September 2018 | 13:26:11
SIB/theindependent
Wapres AS Mike Pence diduga sebagai orang yang menulis artikel kontroversial untuk menurunkan Presiden Donald Trump.
Washington (SIB) -Sebuah opini yang ditulis seorang staf Gedung Putih di New York Times menjadi polemik. Sebabnya, opini tersebut menyebut adanya rencana pejabat Gedung Putih untuk mendongkel Presiden Donald Trump dari jabatannya. Si staf misterius mengatakan langkah itu harus dihancurkan untuk menyelamatkan Amerika Serikat (AS) dari Trump yang dianggap tak becus mengelola negara.

Artikel itu membuat Gedung Putih melakukan pencarian, sementara Trump menuntut The Times membeberkan identitas si penulis dan menyerahkannya. BBC melakukan tes menggunakan perangkat lunak untuk mencari tahu identitas sesungguhnya si staf tersebut. Perangkat lunak itu melakukan analisis berdasarkan gaya penulisan si staf. BBC memulai pencarian dengan setiap pidato yang disampaikan tanpa persiapan.

Pencarian kemudian dikhususkan pada beberapa faktor. Seperti pernyataan editor opini The Times, James Dao. Dia berujar begitu terkesan dengan kejelasan penulisan serta emosi yang ditumpahkan oleh si staf dalam opininya. Dao mengonfirmasi bahwa si editor yang menangani tulisan itu tidak menghapus karakteristik tulisan si staf yang bisa memberi petunjuk. Kemudian dalam twit yang disampaikan The Times, si penulis dideskripsikan sebagai pria (he). The Times lalu memberi pernyataan lanjutan si pengunggah twit tak tahu identitas penulis.

Perangkat lunak menganalisis gaya tulisan termasuk pengulangan, kata aneh dan seberapa sering digunakan, tanda baca dan digunakan di mana. Sebagai permulaan, rata-rata kalimat yang digunakan di opini itu tergolong rendah, yakni 19,3 kata per kalimat. BBC membandingkannya dengan sejumlah keterangan resmi yang dikeluarkan oleh para pejabat Gedung Putih. Antara lain pernyataan Sekretaris Pers Sarah Sanders tentang Suriah pada 4 September (rata-rata 31 kata per kalimat). Kemudian surat dari Trump kepada Senat AS pada 28 Agustus yang mempunyai rata-rata 30 kata per kalimat. 

BBC melansir, hanya ada satu pejabat di Gedung Putih yang mempunyai pernyataan lebih pendek dibandingkan lainnya. Namanya adalah Michael Richard Pence, atau Mike Pence, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden AS. Terdapat beberapa bukti pidato yang disampaikan Pence pendek. Pertama, pada 31 Agustus saat jenazah Senator John McCain disemayamkan yakni: 17,4 kata per kalimat, kedua saat menghadiri Konvensi Nasional ke-100 Legiun AS pada 30 Agustus yakni: 17,6 kata per kalimat dan ketiga; rencana administratif untuk luar angkasa di Houston pada 23 Agustus: 19,7 kata per kalimat.

Kemudian BBC juga mengomparasikan dengan kolom yang ditulis Pence sewaktu menjadi penyiar radio pada 1990-an. Kolom tua itu mempunyai gaya yang konsisten: pendek, kalimat yang mudah dicerna jika dibandingkan rilis pejabat lain. Opini itu juga menggunakan kalimat pasif, begitu mirip dengan yang digunakan wapres berusia 59 tahun itu dalam setiap pidatonya. Pence diketahui menggunakan struktur pasif itu tujuh kali di Houston, tiga kali di Legiun AS, dan satu kali di kolom tentang mengapa Bill Clinton harus dimakzulkan. Bukti lain adalah dalam artikel tersebut, terdapat kata lodestar yang cukup sering digunakan Pence setiap menyampaikan pidato. Sebelum analisis itu dilakukan Pence melalui juru bicaranya, Jarrod Agen, menyampaikan bantahan melalui Twitter. "Bapak Wapres selalu menempatkan namanya setiap menulis opini. The Times seharusnya malu merilis artikel yang salah dan tak logis itu," kata Agen.

Diselidiki
Presiden Donald Trump meminta diadakannya penyelidikan atas artikel yang menyebut adanya rencana memakzulkan dirinya. Diwartakan Sky News Jumat (7/9), dia berkata sudah memerintahkan Jaksa Agung Jeff Sessions untuk menggelar investigasi. "Kami bakal fokus kepada apa yang dia punya, apa yang sudah dia berikan, maupun di mana dia saat ini," ujar presiden 72 tahun itu.

Termasuk mempertimbangkan kemungkinan bahwa si penulis artikel di New York Times tersebut mempunyai izin keamanan tingkat tinggi. Trump melanjutkan, dia juga sedang menimbang langkah untuk mengambil jalur hukum kepada The Times yang sudah merilis artikel itu. Isu mengenai adanya usaha untuk menyingkirkan Trump dari kekuasaan mendapat perhatian dari pendahulunya, Barack Obama. Dalam pidatonya di Universitas Illinois, mantan presiden yang berkuasa pada 2009-2017 itu berujar bahwa saat ini AS dalam masa sulit. Dia menjadikan opini itu sebagai motivasi para pendukung Partai Demokrat guna membuat perubahan pada pemilu legislatif 6 November nanti. "Dalam dua bulan ke depan, kita mempunyai peluang untuk mengembalikan beberapa 'kewarasan' dalam politik negeri ini," kata Obama. Mantan presiden berusia 57 tahun itu sebelumnya berusaha menahan diri untuk tidak melakukan kritik terbuka kepada penerusnya itu. Namun, dalam pidatonya, Obama menyebut Trump adalah "gejala", bukan "penyebab" atas masalah yang terjadi di AS. "Jika kalian berpikir pemilu tak penting, saya berharap dua tahun terakhir bakal mengubah persepsi kalian," tukas dia. Sebelumnya, seseorang yang mengaku sebagai staf Gedung Putih menulis di The Times terdapat usaha untuk menyingkirkan Trump.

Presiden ke-45 itu dianggap menjalankan roda pemerintahan dengan buruk, dan perilakunya sering berubah-ubah. Dia menuturkan sejumlah pejabat mulai mempertimbangkan untuk menggunakan Amandemen Ke-25 sebagai dasar pemakzulan Trump. Kecurigaan sempat mengarah kepada Wakil Presiden Mike Pence. Sebab, terdapat kata lodestar yang sering dipakainya tatkala berpidato. Kecurigaan itu memaksa Pence untuk mengklarifikasinya. Bantahan juga disampaikan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo. (kps/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Kadis Pariwisata Sukabumi Puji Keindahan Danau Toba
Haru, Pertemuan Istri Korban Kecelakaan Lion Air JT 610 dan Garuda 152
Gaya Hidup Konsumtif Picu Kepala Daerah Korupsi
Bertemu Ulama di Istana Bogor, Jokowi Luruskan Isu Hoax
Akibat Perang, 85.000 Anak di Yaman Tewas karena Kelaparan dan Penyakit
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU