Home  / 
Erdogan Serukan Boikot Produk Elektronik AS
* Nilai Tukar Lira Jatuh, Turis Asing Banjiri Toko Barang Mewah di Turki
Rabu, 15 Agustus 2018 | 16:06:39
SIB/ABCAustralia
Para turis yang kebanyakan dari negara-negara Arab tampak ikut antrian di luar toko Louis Vuitton di kawasan mewah Istanbul Nisantasi, Turki.
Istanbul (SIB) -Presiden Recep Tayyip Erdogan menyerukan bahwa Turki akan memboikot produk-produk elektronik dari Amerika Serikat. Langkah itu diambil Erdogan sebagai balasan atas sanksi kenaikan tarif dari Washington terhadap Ankara terkait penahanan pastor AS. "Kita akan memboikot produk-produk AS," kata Erdogan dalam pidato yang ditayangkan televisi, Selasa (14/8). "Jika Amerika Serikat memiliki iPhone, di sisi lain ada Samsung," kata dia merujuk ponsel buatan Apple AS, dan Korea Selatan. "Kita juga punya Venus dan Vestel," kata dia menyebut ponsel buatan dalam negeri Turki.

Erdogan menyatakan Turki telah mengambil langkah yang diperlukan terkait ekonomi, di tengah kemerosotan mata uang lira, yang diperburuk dengan perselisihan dengan Washington. Menurutnya, penting untuk mempertahankan sikap politik yang kuat. "Beralih ke mata uang asing berarti menyerah kepada musuh," kata Erdogan seperti dilansir kantor berita Reuters.

Hubungan kedua anggota Traktat Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tersebut merosot ke titik terendah sejak penahanan Pastor AS Andrew Brunson. Dia ditahan karena dituding melakukan aksi mata-mata dan mendukung kelompok terorisme di Turki. 

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding Amerika Serikat (AS) menikam Turki 'dari belakang' terkait sengketa diplomatik yang dipicu penahanan pendeta AS tersebut. Sengketa diplomatik itu secara tidak langsung telah membuat mata uang Turki, Lira, anjlok terhadap dolar AS.

Dalam pernyataan sebelumnya di Ankara, seperti dilansir AFP, Senin (13/8), Erdogan melontarkan komentar keras terhadap otoritas Amerika Serikat. "Di satu sisi, Anda bertindak sebagai mitra strategis, tapi di sisi lain, Anda menembakkan peluru-peluru ke kaki mitra strategis Anda," tegas Erdogan merujuk pada AS. "Kita bersama di NATO dan kemudian Anda menikam mitra strategis Anda (Turki-red) dari belakang. Bisakah hal semacam itu diterima?" tanyanya kepada otoritas AS.

Baik Turki maupun AS sama-sama sekutu di NATO. Namun keduanya terlibat sengketa sengit untuk berbagai isu, mulai dari penahanan pendeta AS Andrew Brunson terkait terorisme hingga soal konflik Suriah. 

Sengketa itu akhirnya membuat mata uang Turki, Lira, terjun bebas sejak Jumat (10/8) lalu. Kepada publik, Erdogan menyebut Turki menghadapi 'kepungan ekonomi'. Dia menyebut pergerakan Lira yang anjlok sebagai 'serangan terhadap negara kita'. Namun Erdogan meminta rakyat Turki tidak khawatir. "Dinamika perekonomian Turki solid, kuat dan teguh dan akan terus seperti itu," tegasnya. 

Erdogan juga berupaya menguatkan dan menenangkan rakyatnya dengan mengatakan, walaupun dolar AS terus menguat, namun Turki masih memiliki Allah di sisinya. "Jika mereka memiliki dolar mereka, kita memiliki masyarakat, kita memiliki Allah," kata Erdogan seperti dikutip dari CNBC.

Tidak hanya itu, Erdogan juga mengecam praktik 'teror ekonomi' yang meluas di media sosial. Dia bersumpah akan mengambil langkah hukum yang diperlukan untuk menghukum pihak-pihak yang memicu isu via media sosial. Kantor berita Anadolu melaporkan bahwa Kementerian Dalam Negeri Turki telah meluncurkan penyelidikan terhadap 346 akun media sosial atas dasar tuduhan 'membagikan material provokatif di media sosial'.

Selain tekanan ekonomi yang menyebabkan mata uang lira anjlok, Presiden AS Donald Trump juga meneken anggaran pertahanan yang menghentikan penjualan jet tempur siluman F-35. 

Dilansir kantor berita AFP, Erdogan berulang kali tampak menggunakan produk Apple seperti iPhone dan iPad. Dia juga berpidato seusai menggagalkan kudeta pada Juli 2016, menyerukan warga turun ke jalan lewat Facetime, aplikasi iPhone.

Anjloknya lira yang telah berlangsung selama berpekan-pekan, muncul Jumat lalu saat Trump mencuit bahwa Washington melipatgandakan tarif bagi aluminium dan baja Turki. Erdogan mengakui ekonomi Turki bermasalah, termasuk defisit dan inflasi hampir 16 persen. Namun dia menyatakan bahwa ekonomi tetap berfungsi. "Alhamdullilah, ekonomi kami berfungsi seperti jam," kata Erdogan. 

Turis Asing Banjiri Toko Barang Mewah
Sementara itu, para pelancong asing yang sedang berada di Turki ramai-ramai mengunjungi toko-toko yang menjual barang-barang mewah setelah nilai tukar mata uang negara tersebut jatuh ke titik terendah. Para turis yang kebanyakan dari negara-negara Arab tampak memanjang ikut antrian di luar toko Chanel dan Louis Vuitton di kawasan mewah Istanbul Nisantasi.

Ini terjadi karena mata uang asing yang mereka miliki menjadi lebih berharga setelah nilai tukar Lira turun 18 persen di hari Jumat minggu lalu. Kami membeli pakaian, kami membeli make up, kami membeli merek-merek ternama," kata Fatima Ali dari Kuwait yang mengunjungi Istanbul bersama dua anak perempuannya. "Harga menjadi murah sekali."

Sama seperti para pembelanja lain, Ali membawa koper besar untuk memuat belanjaannya. Dia berada di luar toko kosmetik membawa tiga koper. Nilai tukar lira sudah turun sebesar 40 persen terhadap dolar Amerika Serikat tahun ini di tengah kekhawatiran mengenai kebijakan ekonomi yang dijalankan Presiden Tayyip Erdogan, dan seruannya agar suku bunga diturunkan, dan memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat.

Erdogan juga mendesak warga Turki untuk menyambut kedatangan para turis dengan baik, karena mereka membawa dolar yang diperlukan negara tersebut. "Kamu sudah ramah namun tetap lanjutkan dan lebih ramah lagi." kata Erdogan kepada para pendukungnya di akhir pekan. "Karena ketika mereka mengeluarkan dolar, mereka akan memberikannya kepada anda.'

Menggambarkan penurunan nilai tukar lira sebagai persekongkolan, Erdogan berulang kali menyerukan kepada warga Turki untuk menjual dolar mereka guna membantu mata uang lokal.

Seorang karyawan di toko pakaian mewah yang tidak mau menyebut namanya mengatakan jumlah mereka yang datang berbelanja sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari musim sibuk karena menurunnya nilai tukar lira. Seorang turis dari Mesir memperkirakan bahwa dia bisa menghemat sekitar 1 ribu dollar AS (sekitar Rp 15 juta) dalam bandingannya membeli barang yang sama di negerinya dengan di Turki sekarang ini.

"Kami berharap bahwa mata uang Turki, untuk kesejahteraan warga Turki, akan membaik." kata seorang turis lainnya, Khalid al-Fahad, juga dari Kuwait. "Namun dalam waktu bersamaan, kami berharap sebagai turis, nilai lira akan tetap seperti sekarang ini," tukasnya. (Rtr/AFP/Detikcom/CNNI/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU