Home  / 
Tak Hirau Ancaman AS, China dan Jerman Tetap Berbisnis dengan Iran
* Kesepakatan Program Nuklir Dilanggar, Iran Ingatkan Korut Jangan Percaya Pada AS
Jumat, 10 Agustus 2018 | 17:59:26
Beijing (SIB) -China dan Jerman tetap mempertahankan perjanjian dagang mereka dengan Iran meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam memberikan sanksi. Sikap keras Beijing dan Berlin itu sebagai tanda tumbuhnya kemarahan mitra Amerika Serikat yang menerapkan kembali sanksi terhadap Iran. Kedua negara tersebut tetap menjalin bisnis dengan Teheran.

Forum Shanghai Cooperation Organization digelar di Kota Qingdao, China timur, dan dihadiri sejumlah negara seperti Rusia, China, India, Iran, dan Pakistan. Irna "China secara konsisten menentang sanksi unilateral," bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri China sebagaimana diperoleh Channel News Asia, Rabu (8/8).

"Kerja sama komersial China dengan Iran terbuka dan transparan, masuk akal, adil, serta tidak melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. China memiliki hak hukum yang harus dilindungi.," tambahnya seperti dikutip kantor berita Reuters.  Sementara itu, pemerintah Jerman mengatakan, sanksi AS terhadap Iran melanggar hukum internasional. "Jerman berharap Washington memperhatikan kepentingan Eropa ketika menerapkan sanksi kepada Iran."

AS memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran menyusul keputusan Trump menarik kembali kesepakatan yang telah diteken pada 2015 terkait dengan program nuklir Iran. Pada perjanjian 2015 yang ditandatangani oleh enam negara superkuat, termasuk AS, menyatakan Iran bersedia membatalkan seluruh program nuklirnya dengan imbalan seluruh sanksi ekonomi yang diterapkan dunia internasional dicabut.

Sementara itu, Presiden Iran Hassan Rouhani memiliki pesan khusus untuk Menteri Luar Negeri (Menlu) Korea Utara (Korut) Ri Yong-Ho. Rouhani memberitahu Korut bahwa Amerika Serikat (AS) tidak bisa dipercaya. Diketahui bahwa AS tengah mengupayakan kesepakatan untuk mengendalikan program nuklir dan rudal Korut. Sedangkan Iran telah menolak tawaran AS untuk berunding pekan ini. Ditegaskan Iran bahwa mereka tidak bisa berunding dengan AS setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mengingkari kesepakatan nuklir yang tercapai tahun 2015.

Menlu Korut datang mengunjungi Iran saat AS kembali menjatuhkan sanksi terhadap Iran. "Kinerja pemerintahan AS beberapa tahun terakhir telah membuat negara itu dianggap sebagai negara yang tidak bisa dipercaya dan tidak bisa diandalkan di dunia ini, yang tidak memenuhi setiap kewajibannya," tegas Rouhani kepada Ri Yong-Ho seperti dikutip kantor berita IRNA.

"Dalam situasi saat ini, negara-negara bersahabat harus mengembangkan hubungan dan kerja sama mereka di komunitas internasional," imbuhnya. Rouhani juga menyebut Iran dan Korut selalu memiliki 'pandangan dekat' untuk banyak isu.

Ri Yong-Ho mengunjungi Iran usai menghadiri forum keamanan di Singapura. Dalam forum itu, Ri Yong-Ho berdebat sengit dengan Menlu AS Mike Pompeo soal kesepakatan yang tercapai antara Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-Un dalam pertemuan bersejarah Juni lalu.

AS dan Korut sepakat mengupayakan langkah-langkah menuju denuklirisasi Semenanjung Korea. Namun faktanya, kedua negara kesulitan mewujudkan kesepakatan itu. Korut bahkan terungkap masih menjalani program nuklir dan rudal serta melanggar resolusi juga sanksi PBB.

Kepada Rouhani, Ri Yong-Ho menyebut sikap AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 dan kembali menjatuhkan sanksi ke Iran sebagai 'tindakan melawan aturan dan regulasi internasional'. "Kebijakan strategis Korea Utara adalah memperdalam hubungan dengan Republik Islam Iran dan menghadapi unilateralisme," tegas Ri Yong-Ho.

Pekan ini, pemerintahan Trump kembali menjatuhkan sanksi kepada Iran meskipun diimbau sebaliknya oleh sejumlah negara besar, termasuk sekutu AS di Eropa seperti Inggris, Prancis dan Jerman. Sanksi-sanksi AS untuk Iran itu memicu banyak bank dan perusahaan dunia membatasi kesepakatan dengan Iran. Di bawah sanksi AS, setiap perusahaan yang melakukan bisnis dengan Iran akan diblokir di AS. (Detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
102 Ribu Napi Dapat Remisi 17 Agustus, 2.220 Orang Langsung Bebas
Mantan Sekjen PBB Kofi Annan Meninggal Dunia di Usia 80 Tahun
Bertengkar dengan Suami, Ibu di Bolivia Gantung 3 Anaknya
Malaysia Cabut Undang-undang Anti-hoax yang Kontroversial
5 Tahun Beraksi, Anggota Jaringan Selundupkan 500 Ekor Cenderawasih
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU