Home  / 
Rusia Klaim Ciptakan Teknologi yang Bisa Bikin Tentara Menghilang
Kamis, 19 Juli 2018 | 20:41:27
SIB/Rostec via Newsweek
Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu (dua dari kiri) berbincang dengan CEO perusahaan pertahanan Rostec, Sergey Chemezov soal kostum pasukan terbaru Ratnik di Forum Teknis-Militer Internasional di Moskwow pada 23 Agustus 2017.
Moskow (SIB) -Satu perusahaan militer di Rusia mengklaim telah menciptakan teknologi yang bisa membuat pasukan hingga kendaraan menghilang. Dilansir Newsweek Selasa (17/7), Rostec mengklaim menciptakan material yang bisa meniru warna di lingkungan sekitar. CEO Rostec, Sergey Chemezov, mengatakan material telah diujicobakan di helm tempur yang bisa membuatnya tidak kasat mata. Ke depan, Chemezov menjelaskan material itu bakal digunakan di kendaraan tempur seperti tank maupun kostum pasukan. 

Kepada media Rusia TASS, Chemezov menyebut tujuan utama perusahaannya adalah meningkatkan perlindungan pasukan. "Bahan ini ideal memberi kamuflase pada pasukan dan kendaraan tempur berkamuflase. Jika sukses, tentara dan tank bisa tak kelihatan," kata Chemezov. Sejak 2008, Presiden Vladimir Putin telah melakukan investasi besar untuk melakukan modernisasi militer negaranya. 

Salah satunya adalah pengembangan teknologi pertahanan mutakhir untuk memangkas jarak dengan Amerika Serikat (AS). Rusia juga menyatakan mereka memodernisasi senjatanya karena merasa pertahanan nasionalnya berada dalam ancaman. Sebabnya AS memberi sumbangan besar kepada Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk membentuk gugus tempur di perbatasan Rusia. 

Rusia bukan negara pertama yang mengembangkan teknologi untuk membuat pasukannya tidak kasat mata. Juni lalu, peneliti di Universitas Wisconsin-Madison menunjukkan silikon hitam sangat tipis untuk memblokir sinar inframerah. Perusahaan Kanada, Hyperstealth, mengklaim militer AS menaruh minat pada teknologi jubah Quantum Stealth yang bisa memblokir cahaya. 

Kemudian Turki juga mengembangkan kostum perang untuk menghilangkan hawa panas serta deteksi radar di tentaranya. (Newsweek/kps/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
102 Ribu Napi Dapat Remisi 17 Agustus, 2.220 Orang Langsung Bebas
Mantan Sekjen PBB Kofi Annan Meninggal Dunia di Usia 80 Tahun
Bertengkar dengan Suami, Ibu di Bolivia Gantung 3 Anaknya
Malaysia Cabut Undang-undang Anti-hoax yang Kontroversial
5 Tahun Beraksi, Anggota Jaringan Selundupkan 500 Ekor Cenderawasih
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU