Home  / 
Dikritik, Trump Ralat Pernyataannya Saat Konferensi Pers Bersama Putin
Kamis, 19 Juli 2018 | 20:39:04
Washington DC (SIB) -Presiden Amerika Serikat Donald Trump meralat pernyataannya yang menuai kritik tentang campur tangan Rusia dalam pemilihan umum presiden AS pada 2016. Dalam konferesi pers bersama Presiden Rusia Vladimir Putin di Helsinki, Finlandia, Senin (16/7), Trump mengatakan dia tidak melihat alasan mengapa Rusia mau mencampuri pemilu AS yang memenangkan dirinya. "Dalam kalimat kunci pernyataan saya, saya bilang kata 'mau' padahal seharusnya 'tidak mau'," ucapnya di Gedung Putih pada Selasa (17/7), seperti diwartakan AFP. "Kalimat itu seharusnya, 'Saya tidak melihat alasan mengapa Rusia tidak mau (mencampuri pemilu AS)'. Ini semacam pernyataan negatif ganda," imbuhnya. 

NBC News melaporkan, pada konferensi pers Senin lalu, Trump tampak membela Putin yang menyangkal pihaknya terlibat dalam pemilu AS. "(Putin) bilang itu bukan Rusia. Saya akan mengatakan ini, saya tidak melihat alasan apa pun mengapa Rusia mau (mencampuri pemilu AS)," ucapnya. Sambil meralat pernyataannya yang keliru, Trump mendukung intelijen AS untuk menyelidiki dugaan campur tangan Rusia dalam pemilu AS. "Saya menerima kesimpulan dari intelijen kami bahwa ada campur tangan Rusia dalam pemilu 2016," katanya. "Namun bisa jadi orang lain juga, ada banyak orang di luar sana," imbuhnya. 

Anggota Senat dari Partai Demokrat Chuck Schumer menanggapi klarifikasi Trump. "Presiden Trump berusaha meronta dari apa yang dia katakan kemarin. Ini sudah terlambat 24 jam, dan di tempat yang salah," ujarnya. Investigasi Penasihat Khusus sekaligus mantan direktur FBI Robert Mueller tentang campur tangan Rusia dan dugaan kolusi dalam kampanye Trump, semakin menekan Gedung Putih. 

Presiden mengklaim tidak ada kolusi sama sekali. Namun, penyelidikan sedang berlangsung, Juri Agung AS secara resmi mengajukan tuntutan terhadap 12 perwira intelijen Rusia pada Jumat lalu. Diumumkan oleh Wakil Jaksa Agung, Rod Rosenstein, tuduhan tersebut dibuat oleh Mueller. "Para perwira militer Rusia itu dituduh telah berkomplot untuk mempengaruhi proses pemilihan presiden 2016, termasuk telah meretas akun e-mail milik Partai Demokrat menjelang pemungutan suara," katanya. "Di antara para tertuduh, 11 orang dituduh bekerja sama untuk meretas komputer, mencuri dokumen dan merilis dokumen dengan tujuan mempengaruhi pemilihan." Sementara, seorang yang lain diduga bekerja sama untuk menyusup ke komputer milik organisasi terlibat dalam penyelenggaraan pemilu. (AFP/kps/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pengerjaan Paving Blok di Desa Birubiru Disorot Anggota DPRD Deliserdang
IDI Medan : Waspadai Penyakit Akibat Banjir
Mayat Terapung di Perairan Batubara Diduga Terkait Kasus Pembunuhan di Tanjungmorawa
Jalan Menuju Objek Wisata Pantai Bogakbesar Mirip Kubangan Gajah
Jalan Rusak di Marelan Dikeluhkan Warga
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU