Home  / 
Jelang Pemilihan Umum di Pakistan
Teror Bom Bunuh Diri ISIS Tewaskan 133 Orang
Minggu, 15 Juli 2018 | 16:51:04
SIB/liputan6
Petugas medis mengevakuasi sejumlah korban ledakan bom bunuh diri di Quetta, Pakistan, Jumat (13/7), yang sejauh ini telah menewaskan 133 orang dan melukai 200 lainnya. Serangan itu terjadi saat kampanye menjelang Pakistan menggelar pemilu 25 Juli mendatang.
Quetta (SIB) -Ledakan bom bunuh diri terjadi di tengah kampanye jelang Pemilihan Umum ( Pemilu) 25 Juli di Pakistan Jumat (13/7), menewaskan 133 orang  dan 200 orang mengalami luka-luka. Serangan bom bunuh diri ini merupakan serangan paling mematikan di Pakistan selama kurun waktu tiga tahun terakhir, dan merupakan insiden teror ketiga terkait pemilu minggu ini

Bom bunuh diri meledak dalam iring-iringan kampanye Partai Balochistan Awami. Korban tewas berjatuhan karena bom berdaya ledak tinggi. Kepolisian Pakistan menjelaskan diantara korban tewas terdapat seorang pemimpin nasionalis.

Di antara mereka yang tewas dalam serangan adalah calon majelis provinsi Baluchistan, Siraj Raisani. Saudara laki-laki Siraj, Nawab Aslam Raisani, menjabat sebagai menteri utama provinsi dari tahun 2008 hingga 2013. "Saudaraku Siraj Raisani telah menjadi korban," kata kerabat korban lainnya, Lashkari Raisani.

Pejabat senior kepolisian Pakistan, Qaim Lashari, sebelumnya mengatakan lebih dari seribu orang datang ke kampanye Partai Balochistan Awami yang digelar di jantung kota Mastung, Pakistan. Melalui kantor berita AMAQ, kelompok ISIS mengklaim serangan teror itu, namun tidak memberikan keterangan lebih lanjut.      
Kelompok-kelompok radikal yang terkait dengan al-Qaeda dan Negara Islam Irak-Suriah atau ISIS, telah bercokol di Mastung, provinsi Balochistan. Mastung adalah wilayah Pakistan yang berbagi perbatasan dengan Iran dan Afganistan.

"Ada lebih dari 200 orang mengalami luka-luka dan dirawat di sejumlah rumah sakit di kota Quetta. Beberapa dari mereka dalam kondisi kritis," kata Menteri Dalam Negeri wilayah bagian Balochistan, Agha Umar Bangalzai.  ISIS terakhir kali melancarkan teror di Pakistan pada Februari 2017 dengan mengincar wilayah selatan Pakistan. Teror itu menewaskan 83 orang dan melukai lebih dari 150 orang.

Kepolisian Pakistan mengkonfirmasi, pelaku bom bunuh diri menggunakan sekitar 16-20 kilogram Bomb Disposal Squad atau BDS sehingga ledakannya sangat besar. Petugas setempat mengatakan penyerang meledakkan bom di antara kerumunan tempat kampanye diadakan.

"Potongan tubuh manusia dan daging merah berdarah berserakan di mana-mana di kompleks itu," kata wartawan lokal Attah Ullah seperti dikutip oleh kantor berita AFP. "Orang-orang yang terluka menangis kesakitan dan ketakutan," kata wartawan itu. 

Bom itu adalah serangan paling mematikan sejak gerilyawan Taliban Pakistan menyerang sebuah sekolah yang dikelola tentara di Peshawar pada Desember 2014, menewaskan 141 orang, 132 di antaranya anak-anak. Sebelumnya, konvoi kampanye calon lain diserang di Bannu. Akram Khan Durrani, yang mewakili partai MMA, tidak terluka, kata para petugas. Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Pada hari Selasa, seorang pembom bunuh diri melakukan serangan di sebuah kampanye di kota Peshawar di utara, menewaskan 22 orang - termasuk seorang kandidat provinsi. Taliban Pakistan mengatakan yang melakukan serangan itu.

Teror bom bunuh diri ini terjadi hanya beberapa jam sebelum mantan PM Nawaz Sharif kembali dari London bersama putrinya Maryam untuk menghadapi hukuman 10 tahun penjara atas tuduhan korupsi. Sharif sebelumnya digulingkan oleh Mahkamah Agung tahun lalu, dan divonis secara in absentia atas kasus korupsi seminggu yang lalu. Sharif tiba di Pakistan untuk menggalang partainya menjelang pemilihan umum 25 Juli mendatang.

Pemilih akan memilih kandidat untuk Majelis Nasional Pakistan yang berjumlah 342 kursi. Partai-partai utama dalam pemilu ini adalah PML-N-nya Nawaz Sharif, PTI-nya mantan pemain kriket Imran Khan, dan PPP-nya Bilawal Bhutto Zardari

Kendati Sharif tidak bisa kembali mencalonkan diri dalam pemilu nasional pada 25 Juli 2018, para analis menilai Sharif dan putrinya harus keluar dari Inggris, sebuah negara yang telah menjadi tempat persembunyian mereka selama berminggu-minggu demi menaikkan dukungan partai Sharif, yakni Partai Liga-Nawaz Muslim Pakistan atau PML-N. Sharif sudah tiga kali menjabat sebagai Perdana Menteri Pakistan, dan dia telah dibayang-bayangi tuduhan melakukan tindak kejahatan korupsi sepanjang masa kepemimpinannya. (CNNI/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bacaleg DPRD SU Jan Rismen Saragih Suarakan Pemekaran Kabupaten Simalungun
Kapolres Tes Urine Mendadak Personil Satres Narkoba Polres Simalungun
Partai Golkar Simalungun Gelar Rapat Koordinasi Atur Strategi Perolehan Suara di Pileg dan Pilpres 2019
Seratusan Pengemudi Angkutan Online Unjukrasa ke Kantor DPRD P Siantar
Kelompok Tani di Sumut Dapat Bantuan Hibah Sapi dan Kambing
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU