Home  / 
China Janjikan Langkah Balasan atas Tarif Impor Baru AS
Perang Dagang dengan AS, Eksportir China Mulai Kena Dampak
Kamis, 12 Juli 2018 | 16:05:00
Beijing (SIB) -Beijing berjanji akan mengambil langkah balasan setelah Amerika Serikat (AS) menargetkan tarif baru untuk impor China senilai 200 miliar dolar AS (sekira Rp2,87 kuadriliun). "Pemerintah China seperti biasa tidak memiliki pilihan lain kecuali mengambil langkah balasan yang diperlukan," kata Kementerian Perdagangan China dalam pernyataan tanpa penjelasan lebih lanjut, Rabu (11/7).

Kementerian menyebutkan mereka mengecam daftar bea terbaru yang dipublikasikan oleh Washington, seraya menyebutnya sangat tidak bisa diterima. "Sikap irasional seperti ini sangat tidak disukai," ungkap pernyataan itu dan menambahkan bahwa China akan menambah kasus tersebut ke dalam gugatannya untuk AS di WTO,

Sementara itu eksportir China mulai terdampak perang dagang dan berupaya menyesuaikan tarif impor Amerika Serikat sejak diberlakukan 6 Juli lalu. Dampak kenaikan tarif yang menargetkan peralatan medis, konstruksi, dan peralatan pabrik produksi China itu telah memukul eksportir, yang mengatakan pelanggan Amerika mulai berhenti membeli barang-barang mereka.

Seperti dilaporkan Associated Press, Rabu (11/7), manajer salah satu eksportir alat medis yang memproduksi 15-20 persen dari penjualannya ke Amerika Serikat, mengatakan berencana bernegosiasi dengan pelanggan yang berhenti memesan jarum suntik dan peralatan lain.

Menurut sang manajer, Miao Liping Wuxi, Yushou Medical Devices Co Ltd yang mempekerjakan tenaga kerja 500 orang, berisiko kehilangan US$ 4,5-6 juta (sekitar Rp 64-86 miliar) dalam pendapatan tahunan. "Tanpa pesanan baru, saya akan menunda membuat produk. Tidak mudah bagi kami untuk bersaing dengan produk-produk murah di negara lain," kata Miao.

Pengekspor peralatan dapur, penerangan, mainan, hingga perkakas melaporkan penurunan serupa dari pesanan Amerika. Pemerintah berusaha mengecilkan dampak tarif Amerika dan berjanji membalas tarif serupa. China akan mencari pemasok lain untuk kedelai dan barang-barang Amerika lain yang terkena tarif.

Beijing akan membalas tindakan Amerika dengan menaikkan tarif atas barang-barang negara tersebut, termasuk kedelai, wiski, dan mobil listrik. Pemerintah tampaknya berusaha meminimalkan biaya ke China dengan memilih barang yang tersedia dari Brasil, Rusia, Asia Tenggara, atau pemasok lain.

Pernyataan Kementerian Perdagangan mengumumkan Beijing akan menggunakan pendapatan dari bea impor yang lebih tinggi untuk meringankan dampak pada perusahaan dan karyawan, tapi tidak memberikan rincian. Seperti dilaporkan, para importir akan didorong untuk beralih membeli kedelai dan barang pertanian lain dari negara-negara yang tidak terpengaruh oleh tarif.

Amerika membeli sekitar 20 persen dari ekspor China, tapi nilai perdagangan telah menyusut. Namun dampaknya bisa menyebar karena permintaan dari pabrik China untuk komponen dari Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Asia Tenggara merosot.

Eksportir lain, termasuk pembuat panel surya, sudah meningkatkan pemasaran di Asia dan pasar lain. Mereka mencoba menebus hilangnya penjualan Amerika dan Eropa setelah tarif yang lebih tinggi dikenakan atas keluhan yang mereka jual dengan harga yang tidak semestinya.

Pengekspor solar Jiangsu Akcome Science & Technology Co menghasilkan sekitar 15 persen dari penjualannya ke Amerika, sementara Jepang dan Korea Selatan 25-30 persen.

Dalam perang dagang dengan China, Presiden Amerika Donald Trump mengklaim bisa meraup untung lebih besar. Trump mengatakan Amerika bisa menjatuhkan tarif pada US$ 500 miliar atau sekitar Rp 7,196 triliun barang-barang impor China. 

Adapun dilansir dari Reuters, Trump kemungkinan akan mempublikasikan daftar tambahan produk China senilai US$ 200 miliar atau sekitar Rp 2,878 yang bakal masuk daftar barang yang akan dikenai tarif.

Namun bukan berarti China tidak berdaya untuk melawan tarif ini. China bisa saja menargetkan perusahaan Amerika sebagai balasan. Perekonomian China yang sangat diatur negara memberikan otoritas untuk mengganggu perusahaan Amerika dengan menahan lisensi atau meluncurkan pajak, anti-monopoli, atau kebijakan lain. Balasan China akan menargetkan layanan seperti teknik dan logistik, di mana Amerika Serikat menerima surplus perdagangan. "Fokus AS adalah pada barang, sementara China bisa sangat memperhatikan layanan serta operasional perusahaan AS di China," kata Taimur Baig, kepala ekonom untuk DBS Group.

Selain itu, pemerintah bisa menggunakan surat utang pemerintah Amerika US$ 1,2 triliun atau sekitar Rp 17,267 triliun sebagai balasan. Beijing mungkin menderita kerugian jika bisa menjual cukup banyak untuk mempengaruhi biaya pendanaan utang Amerika, tapi penjualan ini sangat diperlukan.

Mata uang China, Yuan, merosot terhadap dolar tahun ini, yang mungkin mengharuskan bank sentral campur tangan di pasar mata uang. Untuk mendapatkan dolar yang dibutuhkan, Bank Rakyat China mungkin akan menjadi penjual bersih dari obligasi Amerika. Selain langkah ekonomi, China dapat mengajukan tekanan diplomatik untuk mencari dukungan ke sekutu Amerika, yakni Uni Eropa, yang juga marah atas kebijakan "America First" Trump. (Ant/T/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bertemu Pejabat Singapura, Ketua MPR Sampaikan Kondisi Politik RI
15 Hektare Hutan Konservasi di Riau Terbakar
Hari Ini, KPU Sampaikan Hasil Verifikasi Administrasi Bacaleg 2019
Bendera Peserta Asian Games Pakai Bambu, PDIP DKI: Tidak Pantas!
Jokowi Ajak Anak-anak Bermain dan Berdendang di Halaman Istana
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU