Home  / 
Pemerintah AS Segera Bentuk Satuan Tugas Reuni Keluarga Migran
* Bangun Pusat Penampungan Migran, AL AS Ajukan Dana Rp3,2 T
Senin, 25 Juni 2018 | 17:01:22
Washington (SIB)-  Pemerintah AS akan segera membentuk satuan tugas yang berfungsi membantu mempertemukan kembali keluarga migran yang terpisah di perbatasan Meksiko akibat kebijakan imigrasi "Toleransi Nol". Diberitakan situs berita, Politico, mengutip dokumen internal yang telah diterima, Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, Alex Azar telah memerintahkan dibentuknya satuan tugas reuni keluarga migran tersebut. 
Melansir pernyataan juru bicara kementerian kesehatan, Evelyn Stauffer, Azar telah membawa seluruh sumber daya yang relevan dari departemennya untuk membantu dalam proses reunifikasi maupun penempatan anak-anak migran dengan orangtua maupun wali mereka. 

Kendati demikian, belum ada pernyataan yang disampaikan pihak departemen terkait satuan kerja tersebut. Presiden Donald Trump pada Rabu (20/6) telah memerintahkan penghentian pemisahan keluarga migran yang telah memicu kemarahan publik. "Saya tidak senang dengan pemandangan dan perasaan saat anggota keluarga dipisahkan," kata Trump saat itu. Namun demikian nasib lebih dari 2.300 anak-anak imigran yang telah dipisahkan dari orangtua mereka hingga kini belum menemukan kejelasan. 

Anggota parlemen juga terus menunjukkan protes terhadap kebijakan imigrasi tersebut dengan mendatangi sejumlah fasilitas penahanan tempat anak-anak migran ditampung. 

Aksi demonstrasi juga masih terlihat berlangsung di Texas, California, maupun tempat lainnya. Belum dapat dipastikan berapa lama proses reunifikasi dilakukan. Pihak pengacara yang bertugas menyatukan kembali keluarga migran yang terpisah masih berjuang dengan proses hukum yang berliku. Di bawah kebijakan imigrasi "Toleransi Nol" yang diberlakukan pemerintahan Trump, orang-orang yang melintasi perbatasan secara ilegal akan ditahan tanpa pengecualian. 

Namun saat orang dewasa dan orangtua dibawa ke fasilitas penahanan, anak-anak di bawah umur yang tak bisa ditahan dibawa ke fasilitas penampungan yang terpisah. Pemisahan keluarga migran ini tak pelak memicu perdebatan di Gedung Putih dalam menentukan masa depan para migran. Sementara Angkatan Laut AS dilaporkan mencuatkan rencana membangun pusat penampungan sementara bagi migran gelap. 

Dalam memo yang diperoleh majalah TIME, Angkatan Laut mempunyai ide untuk membangun tenda sementara di tiga tempat. Yakni di pangkalan udara kosong yang bisa menampung 25.000 orang di Alabama, San Francisco untuk 47.000 migran, dan 47.000 di selatan Calfornia AL AS membutuhkan setidaknya dana 233 juta dolar AS, sekitar Rp 3,2 triliun. Dana sebesar itu bakal dipakai untuk mengelola fasilitas yang menampung 25.000 orang di Alabama selama enam bulan mendatang. Dalam memo tersebut, AL berkata fasilitas di Alabama bisa dibangun dalam 60 hari, dan mampu menampung sekitar 5.000 migran. 

Kemudian, fasilitas selanjutnya dengan daya tampung hingga 10.000 migran bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan. Kepala juru bicara AL, Kapten Greg Hicks memilih tidak berkomentar karena dia merasa tidak patut mendiskusikan dokumen yang belum tentu kebenarannya. Adapun juru bicara Pentagon, Letkol Jamie Davis menjelaskan Departemen Pertahanan (DoD) bekerja berdasarkan permintaan Departemen Keamanan Nasional (DHS). Alur tersebut sesuai dengan keputusan eksekutif yang ditandatangani oleh Presiden Donald pada Rabu (20/6). "Saat ini, DoD tidak menerima permintaan dari DHS untuk memberikan dukungan guna menangani masalah migran ilegal," ujar Davis. Washington Post memberitakan, saat ini Pentagon direncanakan bakal menampung 20.000 migran di seluruh fasilitas mereka mulai Juli mendatang. 

Sebelumnya pada 7 Mei lalu, Jaksa Agung Jeff Sessions mengumumkan kebijakan "toleransi nol" sebagai tindakan yang lebih keras. Dengan kebijakan itu, siapa saja yang secara ilegal melintasi perbatasan akan ditangkap dengan tuduhan kriminal. Bagi mereka yang datang dengan keluarga, anak-anak akan dipisahkan dari orangtua. 

Dalam lima pekan sejak pengumuman tersebut, ada lebih dari 2.300 anak diambil dari orangtua dan kerabat mereka. Setelah dipisahkan dari orangtua mereka, anak-anak diserahkan ke Pusat Penampungan Pengungsi (ORR) milik Kementerian Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan. Anak-anak yang berusia antara satu hingga 18 tahun, ditempatkan di pusat penampungan. Beberapa di antaranya tidur di atas tikar pada lantai beton yang dikelilingi pagar menyerupai kandang. Mereka dibawa ke tiga tempat penampungan di Texas Selatan, yaitu Combes, Raymondville, dan Brownsville. 

Washington dilaporkan juga berencana untuk membangun pusat penampungan keempat di Houston yang membuat wali kotanya, Sylvester Turner, angkat bicara. "Saya tidak ingin ada fasilitas pemisah anak-anak dari orangtua di kota ini. Saya telah mengucapkannya dengan jelas," tegas Turner. Kecaman yang muncul baik dari dalam negeri maupun komunitas internasional membuat Trump melunak, dan mengeluarkan keputusan eksekutif. Keputusan eksekutif itu berjanji tidak akan memisahkan lagi anak-anak dari orangtua mereka, dan bakal ditempatkan bersama selama masa interogasi. (kps/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bertemu Pejabat Singapura, Ketua MPR Sampaikan Kondisi Politik RI
15 Hektare Hutan Konservasi di Riau Terbakar
Hari Ini, KPU Sampaikan Hasil Verifikasi Administrasi Bacaleg 2019
Bendera Peserta Asian Games Pakai Bambu, PDIP DKI: Tidak Pantas!
Jokowi Ajak Anak-anak Bermain dan Berdendang di Halaman Istana
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU