Home  / 
Dunia Saksikan Jabat Tangan Bersejarah Trump-Kim Jong Un
Pertemuan Kim-Trump, Sebuah Kesuksesan atau Semata "Pertunjukan"?
Rabu, 13 Juni 2018 | 17:48:57
SIB/dailymail
Warga Korsel yang sedang berada di Seoul Railway Station serius mengikuti pertemuan bersejarah pemimpin Korut Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump di di resor Capella, Pulau Sentosa, Selasa (12/6).
Seoul (SIB)- Masyarakat dunia turut menyaksikan saat-saat Presiden AS Donald Trump berjabat tangan untuk pertama kalinya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Pertemuan tingkat tinggi antara Trump dengan Kim Jong Un berlangsung di Hotel Capella, Singapura, Selasa (12/6). 

Momen jabat tangan pertama antara Trump dan Kim yang berlangsung selama sekitar 10 detik telah menarik jutaan pasang mata seusai disiarkan secara langsung ke berbagai negara. Orang-orang yang tengah berjalan di jalan-jalan di Singapura sejenak berhenti dan mengarahkan pandangan ke layar besar yang terpasang di sejumlah tempat publik.

Di Korea Selatan, orang-orang berkumpul di stasiun kereta api dan berbagai lokasi lain untuk menonton pertemuan penting tersebut bersama-sama. Warga pun spontan bertepuk tangan saat Kim dan Trump saling bertukar sapa dan dilanjutkan dengan jabat tangan yang hangat. 

Kantor berita Korea Selatan, Yonhap menunjukkan saat Presiden Moon Jae-in tersenyum menyaksikan momen jabat tangan antara rekan AS dan Korea Utara-nya "Pertemuan Korea Utara dengan AS kini telah dimulai. Saya pikir perhatian semua orang saat ini diarahkan ke Singapura," kata Moon dikutip saat menjelang pertemuan kabinet. 

Di Koreatown, Los Angeles, banyak orang berkumpul di tempat publik, seperti restoran untuk menyaksikan pertemuan tingkat tinggi yang tengah berlangsung di Singapura itu. Mereka pun bertepuk tangan saat momen jabat tangan Trump dan Kim ditampilkan di layar televisi. Di New York, orang-orang yang melintas di Times Square berhenti sejenak untuk menyaksikan siaran langsung pertemuan Trump-Kim di layar televisi di gedung-gedung.

Di Tokyo, Jepang, orang-orang berebut koran edisi khusus yang memuat pertemuan AS dan Korea Utara di Singapura. Sementara para pejalan kaki memilih berhenti sejenak untuk menyaksikan siaran langsung di layar televisi di gedung pertokoan.

Sehari menjelang pertemuan bersejarah Trump dan Kim Jong Un digelar banyak pihak yakin pembicaraan di Singapura baru merupakan awal dari sebuah proses panjang. Pertemuan di Singapura ini memang disetarakan dengan hal serupa di masa lalu misalnya kunjungan Presiden Richard Nixon ke China pada 1972 atau pertemuan Presiden Ronald Reagan dan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev di Reykjavik pada 1986. 

Namun banyak yang meragukan hasil pertemuan Singapura selain menjadikan Kim Jong Un dan Donald Trump dikenang dalam sejarah. Apalagi di masa lalu sudah banyak kesepakatan yang dibuat dengan Korea Utara berakhir dengan kegagalan.

Sementara itu di mata beberapa kalangan, pertemuan di Singapura justru memberikan legitimasi untuk Kim Jong Un yang dalam memerintah kerap melanggar HAM. "Pertemuan ini adalah kemenangan bagi Kim Jong Un. Pertemuan dengan Presiden Trump menjadi sebuah propaganda dan mengangkat prestise Korea Utara," kata Michael Kovrig, penasihat senior Crisis Group untuk Asia Timur Laut. 

Analis lain memberikan komentar lebih bijak dan memilih menunggu perkembangan lanjutan dari hasil pembicaraan Singapura. "Kita akan lihat apakah Kim akan benar-benar memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar kebahagiaan semu dan pertunjukan televisi yang bagus," kata Kelly Magsamen, mantan spesialis Asia di Kemenhan AS. 

Di sisi lain, kesepakatan kedua pemimpin itu memang tidak akan serta merta menyelesaikan masalah denuklirisasi Semenanjung Korea. Sigfried Hecker, pakar nuklir dari Universitas Stanford mengatakan, penelitian yang dilakukannya menunjukkan proses denuklirisasi total membutuhkan waktu antara enam sampai 10 tahun. Apalagi sejauh ini tidak diketahui pasti jumlah senjata nuklir yang dimiliki Korea Utara.

Sejumlah kelompok pemantau memperkirakan Korea Utara setidaknya dalam uji coba senjata nuklir terakhir Korut pada September tahun lalu, kekuatan senjata yang digunakan mencapai 250 kiloton. Jumlah itu sama dengan 16 kali lebih besar dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang pada 1945. 

Sementara itu, buku putih yang diterbitkan Korea Selatan pada 2016 memperkirakan Korea Utara saat ini memiliki persediaan 50 kilogram plutonium. Jumlah plutonium tersebut setidaknya bisa digunakan untuk membuatk 10 bom nuklir. Selain itu, Korea Utara juga memiliki kemampuan mengembangkan senjata berbasis uranium. 

Tahun lalu, harian The Washington Post menyebut, berdasarkan informasi intelijen Korea Utara memiliki setidaknya 60 hulu ledak nuklir. Selain persenjataan nuklir, Korea Utara juga diyakini mempunyai 2.500-5.000 ton senjata kimia yang dikembangkan sejak 1980-an. Tentu jumlah senjata nuklir yang dimiliki Korea Utara tak sebanding dengan yang dipunyai Amerika Serikat. 

Menurut data Kementerian Luar Negeri AS, hingga September tahun lalu, negeri itu memiliki 1.393 hulu ledak nuklir. Sejumlah organisasi mengatakan, AS masih memiliki ribuan lagi hulu ledak nuklir yang menunggu untuk dilucuti. Jumlah seluruhnya tahun lalu mencapai 6.550 buah.

Artinya, tak mudah untuk melucuti persenjataan nuklir sebuah negara apalagi memusnahkannya secara total, termasuk persenjataan milik Korea Utara. Namun, setidaknya pembicaraan Kim Jong Un dan Donald Trump di Singapura telah membukakan pintu yang selama ini tertutup rapat. "Diskusi itu akan menciptakan sebuah kerangka kerja untuk kerja keras yang akan mengikuti selanjutnya," ujar Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo.

Lakukan Denuklirisasi Total
China menyebut, pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong Un bakal menciptakan sejarah baru. Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan, fakta bahwa kedua pemimpin duduk bersama dan menghasilkan keputusan positif bakal menurunkan ketegangan di Semenanjung Korea. 
Wang menekankan nuklir di Semenanjung Korea adalah isu utama yang harus segera dicari solusinya. "Menyelesaikan isu nuklir, salah satunya tentu dengan denuklirisasi. Sebuah denuklirisasi total," kata Wang dalam konferensi pers. 

Namun, di sisi lain harus dipikirkan juga mekanisme perdamaian di semenanjung. Sebab, selama ini Korut beralasan nuklir dibutuhkan untuk menjamin keamanan mereka. "Tentu saja, kami berharap kedua sisi menampilkan usaha yang positif dalam pertemuan ini. Sementara kami tetap menampilkan peran konstruktif," lanjut Wang. 

Dia menyuarakan harapan Trump dan Kim dapat membuang perbedaan dan bisa memperoleh kepercayaan satu dengan yang lain. "Kami berharap AS dan Korut bisa mencapai konsensus dasar untuk mempromosikan denuklirisasi sekaligus perdamaian di Semenanjung Korea," paparnya. 

Sebelumnya, dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Capella, Singapura, Kim dan Trump menandatangani dokumen yang diklaim "komprehensif". Dalam dokumen tersebut salah satu poin deklarasi yang disepakati keduanya adalah Korut bersedia melakukan denuklirisasi. Sebagai gantinya, Negeri "Paman Sam" bakal memberi jaminan keamanan sebagaimana kepada Korut jika melucuti seluruh senjata nuklirnya. (Kps/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pansus R-APBD Desak Dinas PMPTSP Medan Tingkatkan Pelayanan dan PAD
Selamatkan Industri Pers dan Perbukuan Nasional
1 Bal Ganja Tak Bertuan Ditemukan di Lapas Klas IIB Tanjungbalai
Inas Hanura Tertawa Digugat Kader Gerindra Labuhanbatu Rp 45 Juta
Dukung Prabowo, PPP Muktamar Jakarta Siap Gerakkan Mesin Partai
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU