Home  / 
Rusia Siapkan Pertahanan “Cincin Baja” untuk Melindungi Suriah
Jumat, 13 April 2018 | 14:08:30
SIB/AFP
Sistem pertahanan S-400 buatan Rusia yang melindungi langit Suriah dari kemungkinan gempuran musuh-musuhnya.
Damaskus (SIB) -Situasi di Suriah semakin tegang terkait pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan melakukan serangan militer ke negeri itu. Menghadapi ancaman tersebut, sebagai sekutu terdekat Suriah, pemerintah Rusia menyediakan sistem perlindungan "cincin baja" di sekitar ibu kota Suriah. Perlindungan ini berupa sistem pertahana udara canggih S-400 yang disiapkan Kremlin untuk melindungan Bashar al-Assad. Sistem pertahanan udara ini dirancang mampu untuk menghancurkan pesawat tempur, rudal penjelajah dan balistik, termasuk rudal jarak menengah, serta bisa digunakan untuk menghantam sasaran di darat. Sistem pertahanan udara S-400 pertama kali dikirim ke Suriah pada 2015. 

Dengan kemampuan daya tembak hingga 400 kilometer maka sistem pertahanan ini mampu menciptakan "payung" pelindung di hampir seluruh wilayah Suriah. Sistem persenjataan ini juga disebut mampu menembak jatuh 80 sasaran secara simultan dan peluru yang ditembakkan memiliki kecepatan lebih dari 16.000 kilometer per jam. Rusia yang berniat bisa menjual sistem pertahanan ini ke Turki dan Iran berharap kemampuan S-400 menangkal persenjataan Amerika Serikat menjadi promosi terbaik. 

Setiap unit sistem pertahanan S-400 itu dijual dengan harga 400 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,5 triliun. Rusia sebelumnya sudah mengerahkan sejumlah S-400 ke pangkalan militernya di Suriah untuk menangkal serangan Turki. Hal itu dilakukan saat Rusia dan Turki berada di ambang konflik setelah sebuah jet tempur AU Turki menembak jatuh pesawat pengebom Rusia di perbatasan Suriah pada Nobvember 2015. 

Sementara itu, untuk rencana serangan militer ke Suriah, Amerika Serikat sudah menyiapkan gugus tugas yang dipimpin kapal induk USS Harry S Truman. Gugus tugas ini diperkuat delapan kapal perang, 90 pesawat tempur, serta persenjataan canggih lainnya. Sementara itu, Inggris menyiapkan 8 jet tempur tornado, dua pesawat pengintai Sentinel, tiga pesawat angkut, serta sejumlah kapal selam. 

Sedangkan Prancis menyiapkan 6 jet tempur Mirage 2000 yang disiagakan di Jordania, 6 jet tempur Rafale, dan beberapa pesawat patroli. Di pihak Suriah, militer negeri itu memiliki 750 pesawat tempur, 360 jet tempur dengan kemampuan menyerang sasaran di darat, 50 helikopter multi-fungsi, 24 helikopter serbu, serta sistem pertahanan udara S-400. Lalu Rusia telah mempersiapkan sederet jet tempur Sukhoi Su-24, Su-25, dan Su-35 di pangkalan udara Khmeimim, Suriah. Rusia juga menyiapkan helikopter Mi-8 dan helikopter serbu Mi-24. Selain itu, Rusia diyakini telah mengirim pengebom siluman Su-57 ke Suriah awal tahun ini. 

Kosongkan Markas Pertahanan Utama 
Pasukan Suriah diyakini telah mengosongkan sejumlah gedung pertahanan utama di Damaskus, menyusul informasi intelijen yang menyebut kemungkinan tempat-tempat tersebut menjadi sasaran serangan oleh negara-negara Barat. Ancaman serangan militer digaungkan Amerika Serikat dan juga Prancis yang menuduh pasukan rezim Suriah telah menggunakan senjata kimia berbahaya untuk menyerang kawasan kantong pemberontak di Douma, Sabtu (7/4) lalu. 

"Gedung-gedung kementerian pertahanan dan markas besar tentara telah dikosongkan sejak dua hari terakhir," kata Badan Pemantau Suriah untuk Hak Asasi Manusia dilansir AFP, Rabu (11/4). Organisasi tersebut juga meyakini pasukan rezim juga telah mengevakuasi sejumlah pangkalan militer, seperti bandara militer dan markas Divisi Keempat serta Pasukan Republik di luar wilayah ibu kota. Disampaikan Kepala Badan Pemantau Suriah untuk Hak Asasi Manusia, Abdel Rahman, informasi target serangan diterima jajaran pimpinan pasukan Suriah dari intelijen Rusia. 

Menurut informasi tersebut, AS sedang mendorong kemungkinan serangan ke markas tentara dan gedung kementerian pertahanan di Damaskus, serta bandara dan markas militer. Informasi yang sama juga menyebut Prancis bermaksud melancarkan serangan militer, termasuk ke gedung fasilitas kimia milik Presiden Bashar al-Assad, yakni Pusat Penelitian dan Pendidikan Ilmiah Suriah ada di Jamaraya dan markas persenjataan kimia di Damaskus. Paris akan lebih menfokuskan serangan ke bandara militer Dumair yang diyakini sebagai tempat lepas landas armada yang melancarkan serangan kimia pada Sabtu (7/4) lalu.
 
Namun demikian belum ada konfirmasi resmi terkait evakuasi yang dilakukan rezim. Rencana pengerahan serangan militer terhadap Suriah kali ini juga menuai pro dan kontra sejumlah negara. Baca juga: Potensi Serangan Udara, Kuwait Airlines Hentikan Penerbangan ke Beirut Ancaman terjadinya serangan udara di kawasan Suriah oleh AS dan Prancis juga meningkatkan kewaspadaan banyak pihak, termasuk maskapai penerbangan yang pilih menghentikan atau mengalihkan rute penerbangan. Tahun lalu, Presiden Trump juga telah meluncurkan serangan misil yang menargetkan pangkalan udara Suriah sebagai balasan atas serangan gas sarin yang dituduhkan ke rezim Assad.

Putin Peringatkan Netanyahu
Sementara itu, presiden Rusia, Vladimir Putin memperingatkan Perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, agar tak mengambil tindakan yang dapat merusak stabilitas di Suriah. "Putin memperingatkan Netanyahu agar menghindari segala tindakan yang dapat membuat situasi di negara itu semakin tidak stabil, yang dapat mengancam keamanan," demikian pernyataan Kremlin, sebagaimana dikutip AFP, Rabu (11/4). Kremlin menyatakan bahwa peringatan ini disampaikan langsung oleh Putin melalui sambungan telepon. Dalam perbincangan itu, Putin juga "menekankan kepentingan untuk menghormati kedaulatan Suriah." Kedua pemimpin juga membahas serangan rudal Israel ke pangkalan militer Suriah di Homs pada Senin (9/4) yang menewaskan 14 orang, termasuk tujuh tentara Iran. 
Dalam perbincangan itu, Netanyahu pun menekankan bahwa dia "tidak akan mengizinkan Iran membangun kekuatan militer di Suriah." Iran dan Rusia adalah sekutu besar Suriah. Mereka menuding Tel Aviv sebagai dalang di balik gempuran tersebut karena sebelumnya, angkatan udara Israel melakukan serangan serupa di pangkalan militer yang sama. 

Gempuran rudal ke pangkalan militer itu dilakukan berselang dua hari setelah serangan gas beracun menghantam daerah kekuasaan pemberontak Suriah di Douma, Ghouta Timur.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump langsung menyatakan bakal mengambil tindakan tegas untuk menanggapi serangan gas yang menewaskan 60 orang tersebut. Kremlin terus mengingatkan agar komunitas internasional tidak melakukan tindakan yang dapat membuat situasi ringkih di Suriah menjadi semakin tidak stabil. Namun, Trump akhirnya tetap mengumumkan bahwa AS akan melakukan serangan rudal ke Suriah.

Hubungan AS-Rusia Kini Lebih Buruk
Hubungan Rusia dan Amerika Serikat memanas. Bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa hubungan AS dengan Rusia kini lebih buruk daripada saat terjadi Perang Dingin. Trump menyalahkan penyelidik khusus Robert Mueller karena memicu ketegangan dengan pemerintah Moskow. Mueller tengah memimpin penyelidikan atas dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS.

"Hubungan kita dengan Rusia kini lebih buruk dari sebelumnya, dan itu termasuk Perang Dingin. Tak ada alasan untuk ini," cetus Trump seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (12/4).

Trump pun mengejek ancaman Rusia untuk menembak jatuh rudal-rudal AS yang menargetkan Suriah. "Rusia bertekad untuk menembak jatuh semua rudal yang ditembakkan ke Suriah," tutur Trump. "Bersiaplah Rusia, karena rudal-rudal itu akan datang, bagus dan baru dan 'cerdas!' Anda tak seharusnya bermitra dengan 'binatang gas pembunuh' yang membunuh rakyatnya dan menikmati itu!" kata Trump mengecam hubungan Moskow dengan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Hubungan AS dan Rusia memanas setelah terjadinya dugaan serangan kimia di Douma, Suriah yang menewaskan puluhan orang, termasuk perempuan dan anak-anak. AS dan negara-negara Eropa menuding rezim Assad mendalangi serangan tersebut. Tuduhan ini telah dibantah keras oleh pemerintah Suriah dan sekutu utamanya, Rusia.

Terkait ancaman Trump untuk melancarkan serangan rudal ke Suriah, sejumlah maskapai besar memutuskan mengalihkan rute penerbangan sebagai antisipasi. Pengalihan dilakukan usai badan pengendali lalu lintas udara Eropa merilis peringatan bagi pesawat yang melalui rute Mediterania timur.

Pihak Eurocontrol yang mengawasi lalu lintas udara wilayah Eropa telah merilis notifikasi pada Selasa (10/4) sore waktu setempat. Notifikasi itu memperingatkan bahwa rudal jelajah dan rudal udara-ke-darat bisa saja ditembakkan dalam waktu 72 jam ke depan dan ada kemungkinan gangguan singkat pada perlengkapan navigasi radio. (Daily Mail/Kps/AFP/Detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Gubsu: Ulama sebagai Tempat Mengadu
Wakil Dubes AS Bahas Persoalan Perempuan dan Anak, Termasuk Investasi di Sumut
Menlu Retno Resmikan Gedung KJRI di Chicago
KPU RI Tetapkan Komisioner KPU Sumut Periode 2018-2023
JK Pimpin Delegasi Indonesia di Sidang Umum ke-73 PBB
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU