Home  / 
Diduga Terima Dana Ilegal dari Libya, Mantan Presiden Prancis Ditahan
Rabu, 21 Maret 2018 | 21:45:18
SIB/DailyMail
Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Selasa (20/3) ditahan atas dugaan menerima dana dari mendiang Pemimpin Libya, Moammar Khadafi, untuk kampanye pemilihan umum 2007. Sarkozy menerima Khadafi di Paris pada tahun 2007.
Paris (SIB) -Mantan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, ditahan guna kepentingan penyelidikan kasus dugaan menerima dana asing dari Libya untuk kampanye pemilihan umum 2007. Selain Sarkozy, Kejaksaan Negeri juga menahan sekutu dekatnya, Brice Hortefeux untuk dimintai keterangan.

Otoritas Prancis membuka penyelidikan kasus penerimaan dana kampanye ilegal tersebut pada 2013. Nicolas Sarkozy diduga menerima dana ilegal dari mendiang Pemimpin Libya, Moammar Khadafi, yang digunakan untuk kampanye sebagai calon Presiden Prancis. Suami dari Carla Bruni itu selalu membantah tuduhan menerima dana kampanye secara ilegal. Sarkozy secara sarkas menyebut tuduhan-tuduhan yang diarahkan kepadanya sangat fantastis.

Melansir dari Reuters, Selasa (20/3), penahanan Sarkozy tidak bisa dipisahkan dari penangkapan seorang pengusaha Prancis, Alexandre Djouhri di Inggris pada Januari lalu. Ia dicurigai berperan menyalurkan dana dari Khadafi ke Nicolas Sarkozy.

Penyidik tengah meninjau klaim bahwa rezim Khadafi diam-diam memberikan dana 50 juta Euro (setara Rp847 miliar) kepada Sarkozy untuk dana kampanye 2007. Jumlah tersebut sudah lebih dari dua kali lipat batas dana kampanye yang ditentukan, yakni 21 juta Euro (setara Rp356 miliar).

Pada November 2016, pengusaha campuran Prancis-Lebanon, Ziad Takieddine mengaku mengirimkan tiga koper uang dari Libya yang masing-masing berisi 5 juta Euro. Koper itu diserahkan kepada Nicolas Sarkozy dan mantan ketua tim pemenangan, Claude Gueant, antara 2006-2007.

Hubungan antara Nicolas Sarkozy dan Moammad Khadafi cukup rumit. Tidak lama setelah terpilih sebagai presiden, Sarkozy mengundang diktator Libya itu ke Prancis guna melakukan kunjungan kenegaraan. Akan tetapi, tak lama kemudian Sarkozy justru memerintahkan pasukan Prancis berada di garda terdepan untuk membantu pemberontak Libya menjatuhkan rezim Moammar Khadafi pada 2011. (Okz/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jokowi: Korupsi Hingga Perang Dagang AS-China Jadi Ancaman Kita
Kejaksaan dan Pengadilan di Gunungsitoli Dipimpin “Srikandi” Cantik
Ketua Soksi Sumut Kaget Ngogesa Sitepu Dicopot
Jaksa Agung : Aset First Travel Dirampas Negara Merupakan Kesalahan
Dugaan Perjalanan Fiktif di Kesbangpol Sumut, Pj Gubsu Perintahkan Inspektorat Lakukan Pengecekan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU