Home  / 
Mahasiswa China di Luar Negeri Tolak Xi Jinping Jadi Presiden Seumur Hidup
* Xi Jinping Bisa Jadi The Next Mao Zedong
Selasa, 13 Maret 2018 | 17:37:05
SIB/QZ.com/Twitter
Wu Lebao, seorang pelajar China yang menimba ilmu di Australian National University (ANU), di Canberra berpose dengan latarbelakang poster penolakan terhadap Presiden Xi Jinping. Wu Lebao kabur dari China pada 2013 dan mencari suaka di Australia setelah dipenjara karena mendukung aksi Arab Spring.
Canberra (SIB) -Palu sudah diketok. Kongres Rakyat China telah memutuskan untuk mencabut masa jabatan presiden. Pencabutan yang dilakukan pada Minggu (11/3) tersebut memberi jalan kepada Xi Jinping untuk berkuasa di China tanpa batas waktu. Satu langkah yang bagi pendukung Xi sangat penting demi pemberantasan korupsi, namun mendapat penolakan dari mahasiswa 'Negeri Panda' yang menimba ilmu di luar negeri.

Mereka memutuskan menyebar poster berisi gambar Xi disertai kalimat Xi's Not My President (Xi Bukan Presiden Saya). Salah satunya dilakukan di Universitas Nasional Australia, Canberra. Mahasiswa bernama Wu Lebao menempelkan poster dalam bahasa Mandarin dan Inggris.

Dilansir BBC Senin (12/3), Wu menempelkan poster tersebut dengan harapan memberi pencerahan kepada rekan-rekan satu negaranya. "Sejak pertama berkuasa, Xi sudah menampilkan diri sebagai sosok diktator. Pencabutan itu bakal memberikan perubahan yang sangat besar di China," kata Wu.

Selain di Canberra, poster dengan tulisan sama juga dijumpai di Universitas Curtin di Perth, maupun Monash University di Melbourne. Namun, pelajar China yang lain di Australia mengaku tidak tahu akan adanya kampanye penolakan terhadap Xi. Mereka berkata, isu tersebut memang sangat sensitif. Tetapi, mereka membahasnya sebagai bentuk candaan. "Kebanyakan dari kami tidak peduli," kata mahasiswa yang namanya tidak ingin dipublikasikan.

Gerakan penolakan terhadap pemimpin 64 tahun tersebut berawal dari Universitas California di San Diego, Amerika Serikat (AS) pada 1 Maret lalu. Dilaporkan Foreign Policy via SBS News, gerakan #NotMyPresident mulai menyebar di New York dan Columbia, hingga merambah ke luar AS.

Selain Australia, pelajar China di Kanada, Belanda, Hong Kong, Inggris, maupun Prancis juga melakukan langkah serupa. Selain itu, muncul akun Twitter bernama Xi's Not My President, dan melaporkan keberadaan poster-poster yang ditempelkan di berbagai negara. Penggagas kampanye berkata, mereka marah dengan propaganda bahwa Xi bertahan sebagai presiden seumur hidup merupakan "permintaan seluruh rakyat China". "Kami ingin menyuarakan masih ada media sosial lain yang tidak bisa mereka awasi dan sensor," ujar kelompok tersebut. David Brophy, dosen Sejarah China di Universitas Sydney mengaku terkejut dengan geliat penolakan akan presiden yang sudah berkuasa selama dua periode tersebut.

"Pelajar itu merasa, lebih baik menyuarakan kritik lewat komunitas sendiri dari pada memberi tahu kepada dunia Barat," kata Brophy.

Meski kampanye penolakan terhadap Xi bergema di seluruh dunia, masih ada pelajar China yang takut untuk mengambil bagian. Terdapat risiko jika para pelajar itu sampai ketahuan oleh Beijing, dan diberi label sebagai pembangkang. Salah satunya adalah ancaman kesulitan mendapat pekerjaan yang dihadapi pelajar tersebut ketika mereka kembali ke China. "Belum lagi ancaman dipenjara tanpa melalui proses hukum. Karena itu, banyak pelajar China lain yang memilih bungkam," ujar seorang pelajar yang namanya tidak ingin diketahui. Pendapat yang sama juga disuarakan oleh Brophy. "Bagi siapapun yang berniat kembali ke China, mereka bisa dituduh aktif berpolitik di luar negeri," ujarnya.

Media China Membela
Diloloskannya amandemen Konstitusi China yang salah satunya mengatur penghapusan batas masa jabatan presiden menuai banyak kritik. Media-media nasional China merilis editorial untuk membela habis-habisan keputusan pemerintah itu.

Keputusan untuk menghapus batas masa jabatan presiden ditentukan dalam voting untuk amandemen konstitusi di Kongres China pada Minggu (11/3) waktu setempat. Voting diikuti oleh nyaris 3 ribu anggota delegasi Kongres China dari seluruh wilayah. Sebanyak 2.958 suara mendukung amandemen Konstitusi China. Hanya dua suara yang menentang dan tiga suara abstain serta satu suara tidak sah.

Dengan amandemen ini, maka Presiden Xi Jinping bisa menjabat untuk waktu tak terbatas dan memicu tudingan dia akan menjabat seumur hidup. Kritikan pun banyak bermunculan. Banyak komentar di media sosial China yang menyerang keputusan itu, mulai dari menyamakan China dengan Korea Utara (Korut) yang memiliki sistem dinasti hingga menyebut kultus era Mao Zedong akan kembali muncul.

Seperti dilansir Reuters, Senin (12/3), dua surat kabar ternama China, Global Times dan China Daily langsung merilis editorial untuk menangkis berbagai kritikan itu. Dalam editorialnya, Global Times yang banyak dibaca di China menyebut teori-teori politik Barat tidak berguna untuk China.

"Kita semakin percaya diri bahwa kunci menuju jalur China ada pada menjaga kepemimpinan Partai (Komunis) tetap kuat dan secara tegas mengizinkan kepemimpinan Komisi Pusat Partai dengan Kamerad Xi (Jinpiing) berada di pusatnya," demikian bunyi editorial Global Times. "Dalam beberapa tahun ini, kita telah melihat naik dan turunnya berbagai negara dan khususnya, kenyataan tak menyenangkan bahwa sistem politik Barat tidak berlaku untuk negara-negara berkembang dan memicu hasil yang mengerikan," imbuh editorial itu.

Sedangkan China Daily menekankan poin-poin yang disampaikan People's Daily, corong Partai Komunis China, bahwa amandemen itu tidak mengindikasikan 'masa jabatan seumur hidup untuk setiap pemimpin' di China nantinya. "Tapi sejumlah orang di Barat bersikeras sebaliknya, meskipun ini hanyalah spekulasi yang menunjukkan seolah-olah mereka tahu lebih baik," tulis China Daily dalam editorial surat kabar berbahasa Inggris itu. Menurut China Daily, orang-orang -- tanpa menyebut nama -- yang berspekulasi itu memiliki ideologi mengakar yang cenderung melawan China dan pernah salah memprediksi soal sesuatu tentang China. "Penilaian mereka yang keliru hanyalah kumpulan fitnah dangkal terhadap partai dan negara ini," imbuh editorial itu.

Sejumlah akun media sosial media-media besar China mematikan bagian komentar mereka atau hanya menampilkan komentar yang berisi pujian. Namun beberapa komentar bernada kritikan mampu lolos dari sensor yang diberlakukan. "Bagaimana bisa sosialisme yang dipuji telah menjadi monarki yang menentukan hukum?" kritik salah satu pengguna Weibo.

Xi Jinping Bisa Jadi The Next Mao Zedong
Parlemen China meloloskan amandemen Undang Undang Dasar (UUD) yang salah satunya mengatur mengenai masa jabatan presiden. Presiden China saat ini, Xi Jinping, bisa menjabat seumur hidup.  Hanya ada dua anggota delegasi saat sidang parlemen digelar yang tidak setuju adanya amandemen. Sebanyak 2,958 delegasi setuju dan 3 sisanya memilih absen dan satu berupa vote kosong.

Era baru China dengan Xi yang bisa jadi presiden seumur hidup mengingatkan akan Mao Zedong. Mao Zedong merupakan pendiri China yang memerintah di China selama 27 tahun. Sejak China merdeka pada tahun 1949 hingga Mao wafat pada 1976.

Dikutip dari AFP, Senin (12/3), Xi Jinping yang kini berusia 64 tahun bisa berkuasa di China selama yang dia mau. Masa jabatan tak terbatas tersebut dia dapatkan setelah berkarir di politik selama 49 tahun. Ia memulai karir politiknya sebagai sekretaris Partai Komunis di tingkat kabupaten pada 1969. Xi kemudian menjabat sebagai Gubernur Fujian pada 1999.

Tahun 2002 dia diangkat sebagai Ketua Partai Komunis Provinsi Zhejiang. Lima tahun berikutnya Xi jadi Ketua Partai Komunis Provinsi Shanghai. Pada tahun yang sama, dia diangkat sebagai Komite Tetap Politbiro Partai Komunis China. Komite ini terdiri dari para pemimpin papan atas Partai Komunis Tiongkok. Bisa juga disebut puncak kekuatan politik di China.

Xi dalam kepemimpinannya kerap bersikap keras terhadap tindak pidana korupsi dan bagianya kepemimpinan partai harus selalu ditegakkan. Kini, wajah Xi menghiasi setiap halaman depan surat kabar di China. Setiap ekspresi dan arahannya selalu menjadi headline media massa.

Bahkan nama dan ideologi politik Xi telah dimasukkan ke dalam konstitusi Partai Komunis sejak Oktober 2017. Di mana sebelumnya hanya Mao Zedong dan pemodal pasar Deng Xiaoping yang nama dan pemikirannya dituliskan dalam konstitusi. (BBC/SBS News/Kps/AFP/Detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Indonesia Tawarkan 6 Solusi Bantu Palestina Lewat KTT OKI
Singapura Siap Bantu Malaysia Selidiki Skandal Korupsi 1MDB
Anwar Ibrahim Tuntut Pemulihan Nama Baik soal Sodomi
Konsumsi Antibiotik Tingkatkan Risiko Batu Ginjal
Brokoli Sayur yang Wajib Dikonsumsi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU