Home  / 
Hadapi China dan Rusia, AS Genjot Pengadaan Alutsista
Rabu, 14 Februari 2018 | 16:42:09
SIB/U.S. Air Force
Amerika Serikat berencana menambah persenjataan untuk menghadapi ancaman China dan Rusia.
Washington (SIB) -Kementerian Pertahanan Amerika Serikat mengajukan anggaran pertahanan senilai US$686 miliar atau sekitar Rp9.400 triliun kepada Kongres untuk menghadapi ancaman China dan Rusia. Jika disetujui, anggaran tahun ini bisa jadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah AS.

Di saat yang sama, pemerintahan Donald Trump juga berencana memangkas pengeluaran untuk dipomasi internasional dan bantuan luar negeri dalam anggarannya. Mengungkapkan rencana tersebut pada Senin (12/2), Presiden Trump menyatakan militer Amerika akan jadi yang paling kuat sepanjang masa, dengan "benar-benar menambah setiap persediaan senjata yang ada."

Anggaran $686 miliar yang diajukan Pentagon lebih tinggi $80 miliar dari 2017 lalu. Kementerian tersebut menyatakan peningkatan ini terutama dibutuhkan untuk menangkal ancaman Rusia dan China. "Kompetisi kekuatan hebat, bukan terorisme, telah menjelma jadi tantangan utama bagi keamanan dan kesejahteraan AS," kata Wakil Menteri Pertahanan Defens David L Norquist kepada wartawan, menyusul penungkapan rencana anggaran. "Semakin jelas bahwa China dan Rusia ingin membentuk dunia konsisten dengan model otoriternya-memperoleh kewenangan veto terhadap keputusan ekonomi, diplomatik dan keamanan negara-negara lain," bunyi dokumen rencana anggaran tersebut, dikutip CNN.

Beijing "menggunakan perekonomian buas untuk mengintimidasi para tetangganya sembari memiliterisasi fitur-fitur di Laut China Selatan." China "berupaya membentuk hegemoni regional Indo-Pasifik di jangka pendek," kata dokumen tersebut. Sementara untuk jangka panjang, negara itu disebut berupaya untuk "mencapai keunggulan global" atas AS.

Dokumen itu mengikuti laporan terkonfirmasi soal pembangunan pulau yang dilakukan China di Laut China Selatan, lengkap dengan sejumlah fasilitas yang tengah dibangun di kepulauan Spratly dan Paracel serta di Dangkalan Scarborough. Pekan lalu, situs resmi Angkatan Bersenjata Pembebasan Rakyat China mengunggah artikel soal patroli jet tempur Sukhoi SU-35 di atas daerah tersebut.

Patroli pesawat jarak jauh bermesin ganda itu menunjukkan "tekad Angkatan Udara China untuk mengimplementasikan misi-misi di era baru dan dengan tegas mempertahankan kedaulatan nasional dan kepentingan dan keamanan maritim," bunyi artikel tersebut mengutip Wang Mingzhi, profesor di Akademi Komando Angkatan Udara China.

Perkembangan angkatan udara China konsisten dengan upaya untuk meningkatkan kapabilitas militernya. Pada Jumat, Beijing menyatakan jet tempur siluman barunya yang dinilai sebagai pesaing F-22 dan F-35 milik AS, J-20, sudah siap tempur. Pada tahun lalu, China menambahkan kapal perang canggih pada armada angkatan lautnya dan secara resmi membuka pangkalan militer luar negeri pertama di Djibouti.

Soal Rusia, dokumen anggaran AS menyebut negara itu "telah melanggar perbatasan negara-negara sekitar dan berupaya mendapatkan kekuatan veto seputar keputusan ekonomi, diplomatik dan keamanan negara-negara tetangga." Moskow juga disebut berupaya "memecahkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO)." Pesawat militer Rusia beberapa kali terlibat dalam insiden yang nyaris berujung pada tabrakan dengan jet Amerika Serikat di Laut Hitam dan Suriah, dalam bulan-bulan terakhir.

Tahun lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin Vladimir Putin memerintahkan langkah yang disebut para analis sebagai aksi pamer kekuatan militer, lewat parade angkatan laut dari Vladivostok ke timur St Petersburg dan pertunjukan pasukan di Suriah dan Crimea. Rencana anggaran AS menekankan pengadaan pertahanan peluru kendali, dengan penambahan pada sistem yang diidentifikasi sebagai faktor kunci penangkal ancaman program nuklir Korea Utara. Pentagon meminta pengadaan 37 rudal Standard Block 1B untuk kapal pertahanan rudal Aegis milik Angkatan Laut dan situs-situs di pesisir.

Di Pasifik, sistem Aegis dikerahkan pada belasan kapal penghancur rudal dan kapal penjelajah yang secara teori bisa menembak jatuh rudal Korut. Selain itu, rencana anggaran juga termasuk pengadaan 82 sistem pencegat rudal THAAD. Sistem tersebut memicu kontroversi ketika dikerahkan di Korea Selatan, tahun lalu, termasuk mengundang penentangan dari China yang menganggap radar senjata itu bisa memantau jauh ke wilayahnya. Ada pula rencana pengadaan 20 rudal tambahan pada sistem pertahanan Midcourse yang bisa mencegat rudal di luar angkasa. "Sejujurnya kita perlu melakukan itu karena negara lain juga melakukannya," kata Trump. "Jika mereka berhenti, kita berhenti, tapi mereka tidak berhenti. Jadi jika mereka tidak akan berhenti, kita akan jauh lebih maju dalam persoalan nuklir."

Secara luas, Trump ingin mengadakan 10 kapal perang di tahun anggaran yang akan datang, menambah puluhan jet tempur siluman F-35 dan jet tempur kapal induk F/A-18. Anggaran itu juga melanjutkan pengembangan pengebom B-21 yang dipandang bakal jadi pengganti B-2, pesawat kunci pembawa nuklir AS. Selain itu, AS juga berencana melanjutkan pengembangan kapal selam untuk memperbarui kemampuan nuklirnya di lautan. (CNNI/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jadi Korban, Romo Prier Maafkan Pelaku Penyerangan Gereja di Sleman
Sejak Dulu Warga Nias Dukung Figur Pelangi
Polisi Usut Pidana di Kasus Ambruknya Kepala Tiang Tol Becakayu
Belum Teken UU MD3, Jokowi Singgung Penurunan Kualitas Demokrasi
Soal Kekerasan ke Pemuka Agama, Jokowi: Polri Harus Tegas
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU