Home  / 
Usai Kunjungan ke Korsel, Korut Kecilkan Volume Siaran Propaganda
Rabu, 14 Februari 2018 | 16:41:25
Pyongyang (SIB) -Korea Utara (Korut) mengecilkan volume siaran propaganda mereka di perbatasan dengan Korea Selatan (Korsel), pekan ini. Hal ini dilakukan setelah delegasi tinggi Korut, termasuk adik perempuan Kim Jong-Un, menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018 di Korsel.

Selama ini Korut dan Korsel menggunakan sejumlah pengeras suara atau speaker berukuran besar yang dipasang di sepanjang perbatasan, untuk menyiarkan propaganda, atau berita, atau musik dengan lantang ke wilayah berlawanan. Hal ini dilakukan sejak awal tahun 2016, setelah Korsel mulai mengaktifkan siaran di perbatasan untuk membalas uji coba nuklir keempat Korut pada Januari 2016.

"Saya masih mendengarnya, tapi jauh lebih pelan dari sebelumnya," tutur seorang pejabat yang ditugaskan di sisi selatan perbatasan Korut-Korsel, seperti dilansir Reuters, Selasa (13/2). Pejabat ini enggan disebutkan namanya. Tidak diketahui pasti apakah Korsel juga mengecilkan volume siaran propagandanya.

Dalam pernyataan terbaru, pekan ini, pemimpin Korut Kim Jong-Un melontarkan pujian dan ucapan terima kasih kepada Korsel. Kim Jong-Un menyatakan keinginannya untuk meningkatkan 'iklim hangat rekonsiliasi dan dialog' dengan Korsel. Hal ini disampaikan setelah adik perempuannya, Kim Yo-Jong, mengunjungi Korsel selama tiga hari dalam rangka Olimpiade Musim Dingin 2018.

Melalui kantor berita Korut, Korean Central News Agency (KCNA), Kim Jong-Un menyatakan 'kepuasan' atas kunjungan itu. Dia juga menyebut upaya Korsel untuk memprioritaskan delegasi Korut 'sangat mengesankan'. Menganalisis pengecilan suara siaran propaganda itu, pengamat bernama Mats Engman menyebutnya sebagai langkah positif kecil menuju dialog. Engman merupakan mantan mayor jenderal yang memimpin delegasi Swedia pada Komisi Pengawasan Negara Netral di Zona Demiliterisasi (DMZ) hingga tahun 2017. Kini dia bekerja pada Institut untuk Kebijakan Keamanan dan Pembangunan yang berbasis di Stockholm, Swedia.

"Ketika Anda tinggal dan bekerja di DMZ untuk jangka waktu lama dan terpapar siaran propaganda secara terus-menerus, ini mungkin memberikan dampak negatif pada penilaian Anda. Ini terkadang bisa mempersulit para personel untuk tidur, yang untuk waktu lama membuat orang-orang frustrasi dan jengkel," ujarnya. (Rtr/Detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Indonesia Raya Berkumandang di Kebaktian GKI Diponegoro
Rektor Runtung Sitepu: Kasus Dosen Himma Pukulan Bagi USU
Survei Indo Barometer: Soeharto Presiden Paling Berhasil
Indonesia Tawarkan 6 Solusi Bantu Palestina Lewat KTT OKI
Singapura Siap Bantu Malaysia Selidiki Skandal Korupsi 1MDB
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU