Home  / 
Uni Eropa Desak Myanmar Bebaskan 2 Wartawan Reuters
* Militer Myanmar Akui Bunuh 10 Warga Rohingya di Rakhine
Jumat, 12 Januari 2018 | 22:32:49
SIB/AFP Photo
Wartawan Reuters Wa Lone (tengah) dikawal polisi Vietnam setelah menjalani sidang di Yangon, Rabu (10/1).Uni Eropa mendesak Pemerintah Myanmar membebaskan dua wartawan Reuters, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, yang didakwa dengan kasus pelanggaran Undang-Undang Rahasia Negara.
Brussels (SIB) -Uni Eropa mendesak Pemerintah Myanmar membebaskan dua wartawan Reuters yang didakwa dengan kasus pelanggaran Undang-Undang Rahasia Negara, Rabu (10/1). Uni Eropa, salah satu negara pendonor terbesar Myanmar mengatakan bahwa kasus Wa Lone dan Kyaw Soe Oo adalah ujian penting bagi komitmen Myanmar dalam mengembangkan demokrasi setelah bertahun-tahun  diperintah militer.

"Setelah mendengar dakwaan diajukan berdasarkan Undang Undang Rahasia Negara tahun 1923, kami mengharapkan pemerintah Myanmar memastikan perlindungan penuh atas hak-hak para wartawan ini dan juga untuk melepaskan mereka secepat mungkin," kata juru bicara Uni Eropa.

Uni Eropa menyatakan perwakilannya ikut hadir di pengadilan kedua wartawan. Blok 28 negara itu menegaskan bahwa kebebasan media merupakan pondasi dan landasan demokrasi. Karenanya, Uni Eropa memandang kasus itu sebagai ujian bagi demokrasi Myanmar. "Uni Eropa menganggap kasus ini sebagai ujian penting komitmen Myanmar untuk kebebasan pers, peradilan yang independen dan pengembangan institusi demokratis," kata juru bicara Uni Eropa tersebut.

Uni Eropa juga menyoroti bahwa kedua wartawan Reuters itu ditangkap terkait laporan mereka tentang situasi di negara bagian Rakhine. Ratusan ribu warga muslim Rohingya melarikan diri dari operasi militer Myanmar terhadap milisi Rohingya ARSA sejak Agustus lalu dan menimbulkan krisis pengungsi di Bangladesh.

"Uni Eropa mengulangi seruannya pada pemerintah Myanmar untuk memastikan transparansi dan menahan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pelanggaran HAM berat dalam krisis di negara bagian Rakhine," kata juru bicara Uni Eropa.

Wa Lone, 31, dan Kyaw Soe Oo, 27, dua wartawan Reuters meliput krisis kemanusiaan di negara bagian Rakhine, Myanmar. Perserikatan Bangsa Bangsa memperkirakan sekitar 655.000 Muslim Rohingya telah melarikan diri ke perbatasan Bangladesh. Keduanya ditahan pada 12 Desember saat diundang makan malam dengan dua pejabat polisi Myanmar. Aparat juga menangkap kedua pejabat polisi tersebut.

Terkait penangkapan, Myanmar menyatakan bahwa kedua wartawan  "memperoleh informasi secara tidak sah dengan maksud untuk membagikannya dengan media asing". Kedua wartawan dituntut Undang-Undang Rahasia Negara yang telah berlaku sejak masa penjajahan Inggris di negeri itu.

Kepada keluarga, Wa Lone dan Kyaw Soe mengatakan mereka ditangkap setelah menerima beberapa dokumen dari dua polisi yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Keduanya muncul di pengadilan untuk pertama kalinya pada 27 Desember lalu. Saat itu diputuskan bahwa penahanan mereka diperpanjang selama dua minggu lagi. Dalam persidangan itu untuk pertama kalinya mereka diizinkan menemui kerabat dan pengacara sejak ditangkap lebih dari dua pekan sebelumnya.

Penangkapan kedua wartawan mendapat sorotan dunia. Amerika Serikat, Inggris dan Kanada, serta Sekjen PBB juga telah mendesak Myanmar untuk membebaskan kedua wartawan. Kelompok hak asasi manusia Amnesty International juga menyerukan agar kedua wartawan dibebaskan sebagai penghormatan terhadap kebebasan berekspresi.

AKUI BUNUH WARGA ROHINGYA
Militer Myanmar mengakui pihaknya terlibat pembunuhan 10 warga etnis minoritas Rohingya di Rakhine. Warga Rohingya yang dibunuh itu disebut sebagai teroris yang ditangkap militer Myanmar, saat mereka melancarkan serangan pada awal September tahun lalu. "Warga desa dan anggota pasukan keamanan telah mengakui mereka melakukan pembunuhan," demikian pernyataan militer Myanmar melalui akun Facebooknya, seperti dilansir Reuters, Kamis (11/1). Selama ini militer Myanmar selalu memberikan pernyataan resmi via Facebook.

"Memang benar bahwa baik warga desa dan pasukan keamanan mengakui mereka membunuh 10 teroris Benggala," imbuh pernyataan itu. Myanmar tidak pernah menggunakan istilah 'Rohingya' namun 'Benggala' untuk menyebut warga minoritas muslim di Rakhine.

Pengakuan semacam ini tergolong jarang disampaikan militer Myanmar, yang sebelumnya selalu membantah terlibat aksi kekerasan terhadap Rohingya. Militer Myanmar menggelar operasi militer di Rakhine yang selama ini dituding sebagai praktik pembersihan etnis.

Dalam pernyataannya pada 18 Desember lalu, militer Myanmar menyatakan sebuah kuburan massal berisi 10 jasad ditemukan di desa tepi pantai Inn Din, yang berjarak 50 kilometer sebelah utara Sittwe, Rakhine. Militer Myanmar lantas menunjuk seorang pejabat senior untuk menyelidiki temuan itu.

Namun militer Myanmar mengumumkan bahwa hasil penyelidikan menunjukkan sejumlah personelnya telah membunuh 10 orang yang jenazahnya ditemukan di kuburan massal itu. Militer Myanmar menyebut 10 orang yang tewas sebagai 'teroris Benggala'.

Militer Myanmar via Facebook menyatakan, 10 orang yang dibunuh itu ditangkap saat menyerang pasukan keamanan Myanmar. Usai ditangkap, 10 orang yang disebut teroris itu seharusnya diserahkan kepada polisi setempat, sesuai prosedur. Namun serangan kembali terjadi dan dua kendaraan militer Myanmar hancur akibat ledakan.

Dalam situasi ini, maka personel militer Myanmar memutuskan menembak mati 10 orang yang ditangkap itu. "Tindakan tegas akan dilakukan terhadap warga desa ... dan personel pasukan keamanan yang melanggar aturan pertempuran sesuai hukum yang berlaku," tegas militer Myanmar. Ditambahkan juga oleh militer Myanmar, tindakan tegas akan diberikan kepada personel militer yang tidak melaporkan insiden ini kepada senior mereka dan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab mengawasi operasi militer di Rakhine. (CNNI/Detikcom/g)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Gerak Jalan Beregu dan Jalan Santai Brigade Kartini AMPI Medan
BI dan DPRD Harus Kordinasi Atasi Pengangguran dan Kemiskinan di Medan
KPU Gelar Coklit Serentak Nasional di Hamparanperak
Wagubsu Jenguk Bocah Korban Penganiayaan dari Paluta di RS Adam Malik
Gubsu Tengku Erry Harapkan JCI Medan Bisa Tingkatkan Peran Pemuda
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU