Home  / 
Trump Minta Kongres AS Perbaiki Aturan Imigrasi Usai Teror New York
* Bangladesh Selidiki Latar Belakang Pelaku Teror New York
Rabu, 13 Desember 2017 | 14:38:15
Washington (SIB)- Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Kongres untuk memperbaiki sistem imigrasi setelah bom pipa meledak di Manhattan, New York. Pria berusia 27 tahun asal Bangladesh yang menjadi pelaku diketahui masuk ke AS lewat program imigran.

"Serangan percobaan pembunuhan massal di New York City, serangan teror kedua di New York dalam dua bulan terakhir, sekali lagi menyoroti kebutuhan mendesak bagi Kongres untuk menegakkan reformasi legislatif untuk melindungi warga Amerika," ucap Trump dalam pernyataannya seperti dilansir AFP, Selasa (12/12).

"Pertama dan terutama, seperti yang telah saya katakan sejak pertama saya mengumumkan pencalonan saya sebagai presiden, Amerika harus memperbaiki sistem imigrasinya yang longgar, yang membiarkan terlalu banyak orang-orang berbahaya yang tidak diperiksa dengan ketat, untuk masuk ke negara kita," imbuh pernyataan itu.

Ditambahkan Trump bahwa pelaku bernama Akayed Ullah ini masuk ke AS melalui program 'extended-family chain migration' yang akan segera dihentikan olehnya. Program itu mengizinkan keluarga yang tinggal di AS untuk menjadi sponsor kerabatnya yang ingin datang ke AS.

Pelaku tiba di AS tahun 2011 dengan visa imigran keluarga F43. Menurut situs Departemen Luar Negeri AS, pemegang visa F43 adalah anak dari imigran yang telah lama tinggal di AS. Pelaku belum berstatus sebagai permanent resident AS.

Trump berharap agar Kongres meloloskan reformasi-reformasi imigrasi yang diajukannya. "Meningkatkan jumlah petugas Badan Bea Cukai dan Imigrasi, memperkuat kewenangan menangkap dan menahan bagi para petugas imigrasi dan mengakhirinya penipuan serta penyelewengan dalam sistem imigrasi kita," tegasnya.

Tidak hanya itu, Trump juga menegaskan kembali seruannya agar para pelaku teror 'menerima hukuman paling berat sesuai hukum, termasuk hukuman mati'. Sebelumnya Trump juga menyerukan hukuman mati untuk Sayfullo Saipov, imigran asal Uzbekistan yang menewaskan 8 orang dan melukai 12 orang dalam serangan truk di New York pada Oktober lalu.

Sementara itu, otoritas Bangladesh tengah mencari keluarga besar Akayed Ullah. Otoritas Bangladesh menyatakan Ullah tidak masuk dalam daftar teroris dan tidak pernah memiliki catatan kriminal di Bangladesh.

"Polisi sedang mencari keluarga besarnya, tapi sejauh ini mereka belum mampu melacaknya," ucap Ketua Serikat Musapur, Abul Khair Nadim, yang memimpin badan pemerintahan di Chittagong, Bangladesh Selatan, tempat keluarga Ullah tinggal. Kepala Kepolisian Bangladesh menuturkan kepada Reuters bahwa Ullah yang berusia 27 tahun ini tidak pernah terlibat tindak kriminal di Bangladesh.

Konsul Jenderal Bangladesh di New York, Shameem Ahsan, menyatakan Ullah tinggal bersama ibu, seorang saudara perempuan dan dua saudara laki-lakinya di Brooklyn, New York. Ullah merupakan seorang pemegang green card di AS. Dia terakhir kali mengunjungi Bangladesh pada September lalu.
Kepada polisi AS, Ullah mengaku dirinya telah menyatakan sumpah setia kepada Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan melakukan aksi ini untuk membalas serangan udara Israel di Gaza beberapa waktu terakhir. Ullah juga mengaku ingin membalas serangan AS terhadap ISIS di Irak dan Suriah.

Kepolisian Bangladesh lantas menyelidiki apakah Ullah diradikalisasi saat berada di Bangladesh. Namun hasilnya menunjukkan latar belakang Ullah tidak mengarah pada pandangan ekstremis. "Sejauh ini, namanya tidak ada dalam daftar panjang orang-orang diradikalisasi atau daftar anggota kelompok teror, baik dari Bangladesh maupun dari luar. Kami berusaha mengumpulkan lebih banyak informasi detail," ucap pejabat senior kepolisian antiterorisme, Sanwar Hossain, kepada AFP.

Keluarga besar Ullah diketahui berasal dari Sandwip, sebuah pulau di selatan pelabuhan Chittagong. Ayahnya diketahui pindah ke ibu kota Dhaka sejak 30 tahun lalu. Sedangkan salah satu kerabat Ullah, Ahmad, yang berbicara kepada Reuters menyebut ayah Ullah telah meninggal dunia sejak 5 tahun lalu. Ullah tumbuh besar secara normal di Bangladesh sebelum pindah ke AS. (Detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bacaleg DPRD SU Jan Rismen Saragih Suarakan Pemekaran Kabupaten Simalungun
Kapolres Tes Urine Mendadak Personil Satres Narkoba Polres Simalungun
Partai Golkar Simalungun Gelar Rapat Koordinasi Atur Strategi Perolehan Suara di Pileg dan Pilpres 2019
Seratusan Pengemudi Angkutan Online Unjukrasa ke Kantor DPRD P Siantar
Kelompok Tani di Sumut Dapat Bantuan Hibah Sapi dan Kambing
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU